Monday, July 29, 2013
One Thing
Every time I see you and your girlfriend are online in facebook, it's only one thing that I think: You both should have a nice conversation right now. Like we had before.
Suatu Ketika (4)
Mungkin benar kata Tere Liye, apabila kita terus memendam rasa, kita akan lelah sendiri termakan ilusi hati kita. Seperti halnya yang terjadi pada Kirana. Pertemuan singkat namun meninggalkan kesan bersama Adrian ketika itu sukses membuat hati Kirana selalu gundah dan memikirkan hal-hal yang semakin lama semakin tak jelas. Kirana pun semakin tak bisa membedakan mana yang hanya ilusi hatinya atau hanya impian belakanya. Makin lama, pikirannya tak waras, ia semakin tak dapat memilahnya dengan bijaksana. Untunglah, kejadian di suatu ketika membuatnya sadar. Dunia percintaan dia saat ini, bukanlah hanya tentang Adrian.
Hari Minggu memang hari yang tepat untuk bersantai-santai ria bagi Kirana. Apalagi pada bulan puasa kayak gini. Sehabis sahur, ia menghabiskan waktunya, bahkan hingga Dzuhur untuk tidur. Pagi itu, jam 10, dering sms berbunyi dari salah satu handphone Kirana. Untuk masalah dering dari handphone-nya, Kirana memang paling peka karena ia selalu berpikiran bahwa ada sesuatu yang penting apabila handphone-nya berbunyi. Tangannya pun merayap ke buffet sebelah kasurnya meraba-raba mencari handphone-nya. Dengan mata masih setengah tertutup, ia membaca sms itu:
"Ra, apa kabar kamu sekarang? Kamu masih kerja di kantor kamu yang dulu?"
Ia pun melihat nama pengirim sms tersebut, 'Damarian'. Tersontak, Kirana bangun dari tidur nyenyaknya. Ia masih tak yakin akan nama yang baru saja ia lihat. Sekali lagi ia lihat namanya, nama itu pun masih sama, 'Damarian'.
Damarian. Salah satu nama dari deretan nama yang pernah hadir di dalam kehidupan percintaan Kirana. Damar, sapaannya, merupakan senior Kirana di salah satu kursus bahasa Inggris saat SMA dulu. Saat itu, Kirana masih kelas 2 SMA dan Damar sudah tingkat 1 kuliah salah satu universitas negeri di Jawa Timur. Seperti yang telah diduga, mereka terlibat cinta lokasi. Namun, hubungan mereka tidak seperti hubungan pasangan normal biasanya. Saat itu, Kirana masih belum bisa move on dari mantannya sebelumnya. Ia masih belum dapat berpindah ke lain hati. Namun, kehadiran Damar tak dapat ditampik bahwa telah mengisi hati Kirana yang kosong. Tapi, entah kenapa Kirana masih belum dapat menerima Damar dengan setulus hati. Hubungan mereka pun terpaksa, terpaku pada sebuah tahapan, HTS, Hubungan Tanpa Status. Mereka saling mengetahui bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. mereka saling merindu apabila salah satu dari mereka menghilang. Mereka sangat memahami hal itu. Tapi, kembali lagi, entah kenapa Kirana masih belum dapat dengan ikhlas menerima Damar sebagai pengisi hatinya, setelah mantannya terdahulu, Ryan.
Damar, dengan sabarnya selalu menerima ketidakjelasan hubungan tersebut. Hubungan itu pun berlanjut hingga bertahun-tahun. Yang lebih membuat terperangah adalah ketika di hubungan tersebut, Kirana dan Damar memutuskan untuk pacaran. Tapi bukan antara Kirana dan Damar. Tapi Kirana berpacaran dengan Adi, salah satu teman kursus lainnya dan Adrian pacaran dengan Melly, teman kuliahnya. Hubungan itu semakin aneh. Walaupun hubungan pacaran mereka dengan yang lain hanya berlangsung sebentar, tapi selama itu pula, Kirana-Adrian menjalin cerita.
Hingga suatu saat, tiba pada satu titik dimana Kirana dan Adrian sama-sama merasa lelah menjalani kisah mereka sendiri. Mereka pun mencoba mengakhiri apa yang mereka telah mulai. Mereka runtuhkan segala perasaan mereka. Mereka tau bahwa apa yang mereka lakukan saat ini, apa yang mereka jalani sekarang adalah sebuah kesalahan dan tentunya akan berakibat tidak baik bagi kehidupan mereka. Tepat sekitar 3 bulan yang lalu, hubungan mereka resmi 'putus'.
Tersontak, sms Damar sukses membuat hati Kirana gundah. Ia resah tidak tau apakah ia harus membalas sms tersebut atau tidak. Sekelibat, muncul kenangan-kenangan bersama Damar dahulu. Ia rindu saat-saat bersama Damar dahulu. Ia merasa sepi dan aneh tanpa Damar. Diam-diam, Kirana pun masih menyisakan ruang di hatinya untuk Damar. Perlahan, ia pun memainkan jarinya di atas keypad handphone-nya. Kirana pun membalas sms tersebut.
"Hai apa kabar? Sombong banget sih udah lama ga ngobrol. Aku baik-baik aja di sini. Kamu gimana?"
Tak lama berselang dering sms handphone Kirana pun kembali berbunyi dan tentu saja sesuai tebakan, sebuah sms baru dari Damarian
"Kok aku yang dibilang sombong? Kamu dong yang sombong, sibuk mulu sekarang."
Dan, kembali, Kirana dan Damar pun kembali berkomunikasi. Mereka seakan merajut kembali rasa mereka yang dahulu sempat terobek termakan ketidaksabaran dan kerakusan mereka. Asa demi asa mereka bangun lagi bersama. Kini, hati Kirana kembali resah. Ia takut apa yang ia lakukan sekarang, kembali dengan Damar merupakan hal yang salah.
Hingga akhirnya, tiba pada sebuah titik dimana Damar kembali menghilang. Ia berhenti membalas sms Kirana. Tentu, Kirana bertambah resah. Ia merasa telah dipermainkan. Ketika ia mencoba mencari dirinya di mata Damar, ia kembali diacuhkan.
"Yaa Tuhan, aku tidak tahu siapa jodohku nanti. Sebenarnya pada saat ini pun aku tidak sedang fokus dalam pencarian jodohku. Tapi, aku capek untuk terus bermain dengan hati sendiri. Selalu termakan ilusi sendiri. Aku capek meladeni hati yang kadang hilang kewarasannya, yang kadang menggerus akal sehat yang kumiliki. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia ada ataupun tiada cinta mendampingi. Tapi aku tak mau, begini terus. Hanya ditemani bayangan cinta yang tercipta oleh angan dalam diri"
Hari Minggu memang hari yang tepat untuk bersantai-santai ria bagi Kirana. Apalagi pada bulan puasa kayak gini. Sehabis sahur, ia menghabiskan waktunya, bahkan hingga Dzuhur untuk tidur. Pagi itu, jam 10, dering sms berbunyi dari salah satu handphone Kirana. Untuk masalah dering dari handphone-nya, Kirana memang paling peka karena ia selalu berpikiran bahwa ada sesuatu yang penting apabila handphone-nya berbunyi. Tangannya pun merayap ke buffet sebelah kasurnya meraba-raba mencari handphone-nya. Dengan mata masih setengah tertutup, ia membaca sms itu:
"Ra, apa kabar kamu sekarang? Kamu masih kerja di kantor kamu yang dulu?"
Ia pun melihat nama pengirim sms tersebut, 'Damarian'. Tersontak, Kirana bangun dari tidur nyenyaknya. Ia masih tak yakin akan nama yang baru saja ia lihat. Sekali lagi ia lihat namanya, nama itu pun masih sama, 'Damarian'.
Damarian. Salah satu nama dari deretan nama yang pernah hadir di dalam kehidupan percintaan Kirana. Damar, sapaannya, merupakan senior Kirana di salah satu kursus bahasa Inggris saat SMA dulu. Saat itu, Kirana masih kelas 2 SMA dan Damar sudah tingkat 1 kuliah salah satu universitas negeri di Jawa Timur. Seperti yang telah diduga, mereka terlibat cinta lokasi. Namun, hubungan mereka tidak seperti hubungan pasangan normal biasanya. Saat itu, Kirana masih belum bisa move on dari mantannya sebelumnya. Ia masih belum dapat berpindah ke lain hati. Namun, kehadiran Damar tak dapat ditampik bahwa telah mengisi hati Kirana yang kosong. Tapi, entah kenapa Kirana masih belum dapat menerima Damar dengan setulus hati. Hubungan mereka pun terpaksa, terpaku pada sebuah tahapan, HTS, Hubungan Tanpa Status. Mereka saling mengetahui bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. mereka saling merindu apabila salah satu dari mereka menghilang. Mereka sangat memahami hal itu. Tapi, kembali lagi, entah kenapa Kirana masih belum dapat dengan ikhlas menerima Damar sebagai pengisi hatinya, setelah mantannya terdahulu, Ryan.
Damar, dengan sabarnya selalu menerima ketidakjelasan hubungan tersebut. Hubungan itu pun berlanjut hingga bertahun-tahun. Yang lebih membuat terperangah adalah ketika di hubungan tersebut, Kirana dan Damar memutuskan untuk pacaran. Tapi bukan antara Kirana dan Damar. Tapi Kirana berpacaran dengan Adi, salah satu teman kursus lainnya dan Adrian pacaran dengan Melly, teman kuliahnya. Hubungan itu semakin aneh. Walaupun hubungan pacaran mereka dengan yang lain hanya berlangsung sebentar, tapi selama itu pula, Kirana-Adrian menjalin cerita.
Hingga suatu saat, tiba pada satu titik dimana Kirana dan Adrian sama-sama merasa lelah menjalani kisah mereka sendiri. Mereka pun mencoba mengakhiri apa yang mereka telah mulai. Mereka runtuhkan segala perasaan mereka. Mereka tau bahwa apa yang mereka lakukan saat ini, apa yang mereka jalani sekarang adalah sebuah kesalahan dan tentunya akan berakibat tidak baik bagi kehidupan mereka. Tepat sekitar 3 bulan yang lalu, hubungan mereka resmi 'putus'.
Tersontak, sms Damar sukses membuat hati Kirana gundah. Ia resah tidak tau apakah ia harus membalas sms tersebut atau tidak. Sekelibat, muncul kenangan-kenangan bersama Damar dahulu. Ia rindu saat-saat bersama Damar dahulu. Ia merasa sepi dan aneh tanpa Damar. Diam-diam, Kirana pun masih menyisakan ruang di hatinya untuk Damar. Perlahan, ia pun memainkan jarinya di atas keypad handphone-nya. Kirana pun membalas sms tersebut.
"Hai apa kabar? Sombong banget sih udah lama ga ngobrol. Aku baik-baik aja di sini. Kamu gimana?"
Tak lama berselang dering sms handphone Kirana pun kembali berbunyi dan tentu saja sesuai tebakan, sebuah sms baru dari Damarian
"Kok aku yang dibilang sombong? Kamu dong yang sombong, sibuk mulu sekarang."
Dan, kembali, Kirana dan Damar pun kembali berkomunikasi. Mereka seakan merajut kembali rasa mereka yang dahulu sempat terobek termakan ketidaksabaran dan kerakusan mereka. Asa demi asa mereka bangun lagi bersama. Kini, hati Kirana kembali resah. Ia takut apa yang ia lakukan sekarang, kembali dengan Damar merupakan hal yang salah.
Hingga akhirnya, tiba pada sebuah titik dimana Damar kembali menghilang. Ia berhenti membalas sms Kirana. Tentu, Kirana bertambah resah. Ia merasa telah dipermainkan. Ketika ia mencoba mencari dirinya di mata Damar, ia kembali diacuhkan.
"Yaa Tuhan, aku tidak tahu siapa jodohku nanti. Sebenarnya pada saat ini pun aku tidak sedang fokus dalam pencarian jodohku. Tapi, aku capek untuk terus bermain dengan hati sendiri. Selalu termakan ilusi sendiri. Aku capek meladeni hati yang kadang hilang kewarasannya, yang kadang menggerus akal sehat yang kumiliki. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia ada ataupun tiada cinta mendampingi. Tapi aku tak mau, begini terus. Hanya ditemani bayangan cinta yang tercipta oleh angan dalam diri"
Saturday, July 27, 2013
Suatu Ketika (3)
Kata orang, kalau jodoh itu pasti entah gimana ceritanya bakal secara ga sengaja ketemu gitu aja. Dimana pun dan kapanpun kita punya kegiatan, pasti ada kaitannya ketemu ataupun punya kejadian yang berkaitan dengannya. Seenggaknya, di FTV2 sih kayak gitu. Tapi entah kenapa hal itu tidak terjadi di antara Kirana dan Adrian.
Siang itu, Kirana terpaksa harus rapat ke kantor kliennya di daerah Kuningan. Panas banget saat itu. Kirana berangkat bersama timnya. Sesampainya di sana, meeting berjalan dengan cuku lama namun membuahkan hasil yang memuaskan bagi Kirana dan timnya. Setelah selesai meeting, Kirana memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia ingin refreshing dulu dan ingin berjalan-jalan di salah satu mall di dekat kantor kliennya tersebut.
Saat itu Kirana sedang tidak berpuasa. Ia pun memutuskan untuk meminum hot coffee dulu di salah satu kafe. Untuk menghilangkan bosan yang melandanya, ia pun memutuskan memainkan iPadnya. Ada satu hal yang ia pikirkan saat itu, Adrian lagi apa yaa..... Ia pun membuka twitter Adrian untuk mencari tau sedang apa dan dimana Adrian saat itu.
Jeng... jeng....
Tweet teratas Adrian berisikan:
"Ya, hari ini kembali mencari recehan di Kuningan. Thamrin City dulu bisa kali"
"Wait.... Adrian ada di sini?? Gue harus cari dia!" Kirana pun dengan terburu-buru menghabiskan minumnya dan mencari Adrian. Tweet itu sekitar 16 menit yang lalu. Masih ada harapan baginya untuk ketemu
"Gue harus ketemu Adrian nih. Yaa pura-pura aja kebetulan ketemu, biar terkesan jodoh. Kalau emang kali ini ketemu, mungkin emang kita berjodoh. Yaa Allah aamiin aamiin aamiin"
Pikiran itu pun selalu terlintas di pikiran Kirana sambil mengamini setiap pikirannya.
Berjam-jam Kirana muter-muter mall tersebut, tapi tak ada hasil yang ia dapatkan. Adrian pun sudah tak ngetweet lagi. Kirana bingung, dan kini Kirana pun ragu.
"Yaa Tuhan, kali ini kembali kami bersama di tempat yang sama tapi kami tak bertemu seperti halnya ketika itu. Yaa Tuhan kami tidak berjodoh yaa?? Beneran enggak? Yaa kalo ga berjodoh, tolong yaa Tuhan jodohkan kami. Aku hanya............. merasa nyaman dengannya. Adriaaan"
Siang itu, Kirana terpaksa harus rapat ke kantor kliennya di daerah Kuningan. Panas banget saat itu. Kirana berangkat bersama timnya. Sesampainya di sana, meeting berjalan dengan cuku lama namun membuahkan hasil yang memuaskan bagi Kirana dan timnya. Setelah selesai meeting, Kirana memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia ingin refreshing dulu dan ingin berjalan-jalan di salah satu mall di dekat kantor kliennya tersebut.
Saat itu Kirana sedang tidak berpuasa. Ia pun memutuskan untuk meminum hot coffee dulu di salah satu kafe. Untuk menghilangkan bosan yang melandanya, ia pun memutuskan memainkan iPadnya. Ada satu hal yang ia pikirkan saat itu, Adrian lagi apa yaa..... Ia pun membuka twitter Adrian untuk mencari tau sedang apa dan dimana Adrian saat itu.
Jeng... jeng....
Tweet teratas Adrian berisikan:
"Ya, hari ini kembali mencari recehan di Kuningan. Thamrin City dulu bisa kali"
"Wait.... Adrian ada di sini?? Gue harus cari dia!" Kirana pun dengan terburu-buru menghabiskan minumnya dan mencari Adrian. Tweet itu sekitar 16 menit yang lalu. Masih ada harapan baginya untuk ketemu
"Gue harus ketemu Adrian nih. Yaa pura-pura aja kebetulan ketemu, biar terkesan jodoh. Kalau emang kali ini ketemu, mungkin emang kita berjodoh. Yaa Allah aamiin aamiin aamiin"
Pikiran itu pun selalu terlintas di pikiran Kirana sambil mengamini setiap pikirannya.
Berjam-jam Kirana muter-muter mall tersebut, tapi tak ada hasil yang ia dapatkan. Adrian pun sudah tak ngetweet lagi. Kirana bingung, dan kini Kirana pun ragu.
"Yaa Tuhan, kali ini kembali kami bersama di tempat yang sama tapi kami tak bertemu seperti halnya ketika itu. Yaa Tuhan kami tidak berjodoh yaa?? Beneran enggak? Yaa kalo ga berjodoh, tolong yaa Tuhan jodohkan kami. Aku hanya............. merasa nyaman dengannya. Adriaaan"
Sunday, July 21, 2013
Dipecut Tere Liye
Terkadang kita masih membutuhkan quotes2 macem gini untuk memecut diri kita.
Kalo gue sendiri, berhasil terpecut. Kalau lo?
"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak meawan. Mengikhlaskan semuanya"
"Kalau memang terlihat rumit, lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sedeerhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya"
"Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbung mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta"
"Tidak ada yang pergi daripada hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan"
"Apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jkia hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kai akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu"
"Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri"
"Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat"
Terimakasih Tere Liye :")
Kalo gue sendiri, berhasil terpecut. Kalau lo?
"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak meawan. Mengikhlaskan semuanya"
"Kalau memang terlihat rumit, lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sedeerhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya"
"Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbung mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta"
"Tidak ada yang pergi daripada hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan"
"Apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jkia hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kai akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu"
"Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri"
"Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat"
Terimakasih Tere Liye :")
Subscribe to:
Posts (Atom)
