Sunday, June 26, 2016
Tak Berjudul
Seiring dengan kembalinya potongan kisah-kisah dari buku tua yang tersudut di pojok lemari.
Keheningan malam hanya bersisa saut-sautan air yang jatuh menempa bumi.
Tiada kehadiran yang kurasa, tiada bisikan yang kudengar. Hanya seorang diri tenggelam dalam alunan sepi.
Mengucapkan memang jauh lebih mudah daripada menjalankan.
Untuk berpisah dan berjarak, menjauh dari sosok yang memberiku arti kata nyaman, tidak kusangka justru memberiku kesunyian dalam nyata.
Segala balok-balok asa yang telah berdiri tegak, satu per satu mulai jatuh (di)runtuh(kan). Jatuh jatuh jatuh dan lenyap.
Siapa sangka, tubuh yang dulu memberiku kehangatan, kini dipenuhi jiwa yang justru membuat hatiku terbujur kaku.
Bermalam-malam ku lalui bertatap diri.
Bertemankan kebodohanku yang sering merajuk tuk membuka kertas-kertas usang itu, tuk sekadar melihat kembali lukisan senyum terukirkan namaku.
Kadang, ingin rasanya kulangkahkan kaki ke luar, memaksa mataku melihat dunia.
Memaksaku tuk merasakan kembali teriknya sinar matahari dan dinginnya hembusan angin malam.
Namun apa daya, tak sampai hati ini mengajak tanganku tuk membuka kunci relung.
Aku, aku hanya mampu tuk membuka tirai hitam pembatas duniaku dan dunia luar, tuk sekadar mengintip apa sumber suara gaduh di luar sana.
Iya, hanya itu, tak bisa lebih dari itu. Ku hanya bisa sebatas itu.
Entah kenapa, diriku merasa tidak mampu
Sesekali, aku mendapat kunjungan dari mereka yang mengkhawatirkanku, karena sudah terlalu lama terkurung di maya ini.
Senyum, tawa dan canda, semua bisa ku berikan. Tapi...... palsu.
Bagaimana bisa aku tulus memberikan ceriaku ketika hati ini tersesak?
Selepas mereka pergi, ku kembali dengan sunyiku.
Sunyi yang justru mendorong hati ini untuk terus merasa tersakiti. Sunyi yang justru memaksa air air mataku mengalir bagai sungai tak berbatu.
Entah sampai kapan aku harus terjebak di dalam bayang nostalgia yang justru membuatku gila.
Senyum di saat menengok ke belakang, tersedu ketika kembali menoleh ke depan.
Memang, tak ada yang tau apa akhir dari setiap kisah yang terpilih untuk tiap-tiap insan.
Tapi, bolehkah ku mengetahui, apa kisahku untuk esok hari? Aku bosan mengisi hariku dengan bayangan.
Aku, badanku yang dingin, hatiku yang beku, dapatkah ku mendapatkan kembali hangat yang selalu ku damba?
Terserah dalam bentuk apa, kisah yang beda atau orang yang beda, ku takkan menuntut banyak.
Cukup hangat yang membuatku nyaman, bukan terik yang menyerang sukma.
Tuesday, December 22, 2015
Tahukah Kamu?
Terkadang cinta itu nggak hanya tentang pena yang menari cantik di atas kertas putih kosong untuk
menorehkan kalimat-kalimat indah.
Terkadang cinta juga bukan hanya sekadar janji-janji akan masa depan yang diucapkan begitu
meyakinkannya.
Terkadang cinta itu hanya butuh sedikit untaikan kata yang dapat menembus hati seorang manusia
hingga membuatnya bersyukur sujud.
Kamu tau?
Cinta tak butuh kamu menjadi puitis untuk mengutarakannya.
Cinta juga tak bernilai barang yang kamu berikan.
Cinta itu menerima.
Cinta itu jujur.
Dan cinta itu ikhlas.
Kamu tau?
Cinta itu tak diam.
Ia harus terus bergerak, terus mengembang seiring berjalannya waktu.
Cinta tak boleh diam.
Cinta harus terus berusaha menjadi lebih baik
Karena cinta memang untuk membuatnya lebih baik lagi.
Kamu tau?
Cinta itu tak hanya sebatas ucapanmu.
Cinta itu perlu dibuktikan untuk meyakinkan.
Cinta itu tak pasrah pada takdir.
Makadari cinta itu perlu diusahakan agar selalu bertahan.
Kamu tau apa itu cinta?
Apa kamu tau bagaimana cara mendefinisikan cinta dengan baik?
Bagaimana dengan frase ‘aku dan kamu’?
Cukup mewakilikah?
Atau justru tidak sama sekali?
Saturday, February 21, 2015
Tentang Dia
Sudah sebulan lebih rasanya aku menjalani hidup dengan hati yang begitu kosong. Separuh jiwaku berasa hilang terbenam ikut terkubur menemani berbaringnya tubuh kakunya. Tawaku, senyumku yang terlukis di bibirku bahkan tak sanggup untuk menghibur hatiku sendiri. Dada ini terus berdetak kencang tak bernada seakan memaksa nafasku terpenggal tak beraturan. Apa yang kurasa ini lebih dari sekedar sakit hati ataupun patah hati. Aku rapuh, terlalu tak mampu untuk meneguhkan diri saat orang yang begitu amat aku sayangi dan juga mencintaiku, telah tiada.
Apabila aku ditanya, kenapa begitu lemahnya diri ini, aku akan mencoba menjawabnya, dengan bercerita tentang dia.
Tak terhitung bagiku berapa novel teenlit yang kubaca tentang romantisme. Mulai dari cinta pertama hingga cinta tak terbatas. Tapi entah kenapa aku tak pernah menemukan definisi perasaanku kepadanya di novel-novel itu. Cinta pertama-- Iya, dia adalah cinta pertamaku. Namun ia lebih dari cinta pertama. Ia adalah seseorang yang pertama kali mengajariku bagaimana untuk menyayangi dengan tulus tak mengharap balas. Seseorang yang begitu menantikan kehadiranku bahkan saat aku pun belum tau apapun tentangnya. Seseorang yang selalu siap 24 jam dalam 7 hari untuk menjagaku, melindungiku atau hanya sekedar untuk menemaniku. Tak pernah terucap sepatah alasan pun darinya apabila aku sedang memohon bantuan. Bahkan terkadang ia selalu inisiatif menyapa bertanya padaku tentang apa yang aku butuhkan.
Diriku, apabila tengah di sampingnya, seakan putri kerajaan. Bukan karena semua hal yang aku butuhkan selalu dilayani olehnya, atau juga bukan karena semua yang aku inginkan selalu dikabulkan. Aku seperti putri karena aku diperlakukan seperti putri. Aku dicintai layaknya putri yang sempurna; cantik, baik hati dan berwibawa. Aku dilindungi seperti halnya pewaris tahta yang tak boleh sama sekali lecet sesenti pun. Aku selalu dipujinya seakan putri yang telah berhasil membantu orang tuanya dalam menyelamatkan kerajaan.
Sendiri tak berarti aku dimanja. Entah apa yang telah ia doktrinkan kepadaku. Tumbuh menjadi seorang anak satu-satunya dalam keluarga yang cukup berada dan terpandang, (seolah-olah) sudah seyogyanya aku menua dengan manjaku. Nyatanya, tumbuh dengan cinta yang seluruhnya terkucurkan untukku, semua perhatian yang terjatuh padaku dan dengan seluruh pandangan mata yang tak pernah meleset sedetik pun dariku, aku justru dewasa dengan kepribadian yang serupa pula. Aku dewasa dan tak (begitu) manja. Di tengah kehidupan yang menempatkan diriku di atas roda, aku justru diajarkan untuk melihat ke bawah dan selalu membalikkan tanganku. Aku tak pernah diizinkan untuk merasa iri dengan mereka yang derajatnya melebihiku. Sebaliknya, aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur dan tak pernah lelah untuk berusaha lebih. Hebatnya, ketika tiba-tiba rodaku berputar begitu cepat dan memposisikan diriku di derajat terbawah sebuah lingkaran hidup, aku tak pernah merasa kasihan atas diriku sendiri. Saat itu, aku diajarkan bahwa bukan harta ataupun kekuasaan yang dapat membuat seseorang tersenyum, melainkan cinta dan kebersamaan yang dapat membuat hati seseorang nyaman dan bahagia. Bahkan, aku tak pernah diperbolehkan untuk meminta atau mengharap dari yang lain kecuali Sang Maha Pencipta. Hidup ini harus dapat dijalani secara mandiri dan jangan pernah mengharap dari orang lain atau bahkan bergantung pada orang lain, pesannya.
Dia adalah cinta pertamaku yang selalu membuatku kagum dan terpana melihatnya. Dia adalah orang yang serba bisa, dari hal sepele seperti menyisir rambutku, memasak, melakukan negosiasi dengan preman hingga pejabat, membetulkan alat-alat elektronik, memodifikasi mesin, hingga menganalisa cost and benefit dari sebuah proyek, dia bisa. Sulit sepertinya mencari orang yang bisa menggantikannya. Dia sangat pintar, terlalu amat cerdas. Itulah harta paling berharga yang ia wariskan untukku (walaupun aku ini kadang tak memanfaatkannya karena aku kadang malas). Aku memang tak pernah tau IQ-nya, tapi yang pasti nilai 143-ku ini pasti hasil karunia gen-nya. Dia adalah orang yang cepat memahami suatu hal dan beradaptasi. Dia terlalu hebat untuk dibandingkan denganku. Bahkan orang yang baru pertama kali berjumpa dengannya pun dapat langsung memuja dan mengaguminya. Dia sangat hebat.
Satu hal yang terlalu amat ku kagumi darinya adalah ia tak pernah merasa kenyang apabila orang yang dikenalnya tak kenyang. Ia sangat peduli dengan sekitarnya. Ia selalu berusaha untuk berbagi pada yang membutuhkan, Bahkan, ketika di kantongnya tak ada selembar uangpun, ia berusaha berbagi dengan canda dan tawanya. Bahagia memang untuk di sampingnya. Ia juga tidak pernah berusaha menikmati hasil kerja kerasnya untuk dirinya sendiri. Ia selalu mengutamakan orang-orang yang ia cintai, termasuk aku. Berapapun uang yang ia punya, selalu dihabiskan untuk membahagiakan orang yang ia sayangi. Tak pula ia lupa untuk disisihkan yang kemudian diberikan ke sekitarnya. Hatinya terlalu bersih. Selalu berbagi dan membantu orang yang membutuhkan, bahkan ia tak pernah sekalipun mendongakkan kepalanya. Dia mengutamakan orang yang lebih membutuhkan meski ia sebenarnya juga membutuhkan. Bahkan tak pernah mendendam apabila mereka yang telah dibantu telah lupa akan kulitnya. Ia terlalu mulia, kurasa.
Apabila mereka mengatakan bahwa cinta itu buta. Aku rasa, aku tidak pernah dibuatnya buta untuk mencintainya. Aku selalu diajarkan untuk menggunakan akal dan nalarku dalam menjalani hidup ini. Ia juga sangat mengagungkan Tuhan-nya. Aku dididik keras untuk tidak melupakan kewajibanku terhadap Sang Pelindung-ku. Apabila ku bersusah, aku diajarkan untuk selalu memohon diberi kemudahan. Apabila aku sedang diberi kesenangan, aku tak boleh lupa untuk selalu bersyukur. Apabila aku sedang di tengah kegundahan, aku harus meminta-Nya diberikan petunjuk yang terbaik. Dia sangat membenci kemusyrikan dan kemunafikan yang menghancurkan agama-nya. Dia adalah orang pertama yang akan membentakku apabila aku melalaikan kewajibanku.
Cinta tanpa perselisihan, mustahil rasanya. Kasih dan sayang antara aku dan dia begitu terasa sempurna akibat tulusnya kami dan juga kerikil-kerikil kecil yang mewarnai kisah kami. Aku dan dia tak 100% sama atau 100% berbeda. Dia memiliki sifat yang keras, begitupun denganku. Terkadang, ketika salah satu dari kami tak bisa menahan diri, pasti berujung pada ngambekkan yang justru membuat pusing bundaku. Kami saling mengadu yang padahal akan selesai begitu saja di antara kami sendiri. Adu argumen dan adu pendapat selalu mewarnai malam ketika kami menonton berita malam. Politik, hukum dan ekonomi adalah topik utama perdebatan kami. Hangat atau bahkan terkadang panas hingga butuh diredakan dengan 20 tusuk sate ayam langganannya yang selalu lewat pukul 1 pagi. Sigh, peraduan ini justru lebih memunculkan tawa apabila diingat kembali, bukan kebencian.
Selamat tidur yang tenang Yah. Dalam doaku, aku berharap semoga Allah mengizinkan kita berjumpa lagi di kedamaian dan sisi-Nya.
Monday, February 9, 2015
Hampa.
Aku kira aku sudah cukup dewasa untuk bersikap. Berpikir berkali-kali dahulu sebelum bertindak.
Aku juga mengira bahwa diri ini adalah orang paling kuat. Sudah cukup besar untuk menangani semuanya, dan sudah cukup tabah menghadapi segalanya.
Sampai akhirnya kesepian ini mendorongku terisak perlahan. Tampaknya tetes hujan seperti berbalap derasnya dengan air mataku.
Aku tidak tau apa yang kurasa sebenarnya.
Yang pasti, semenjak itu, aku merasa ada yang hilang dari diri ini. Bagian dari jiwaku seperti hilang melayang bersama ruhnya.
Hampa. Hanya hampa yang kurasa.
Setiap detikku mengingatkan segala kenangan bersamanya.
Setiap jengkal langkahku mengingatkan bahwa tak mungkin kubisa melangkah begitu percaya dirinya seperti ini tanpa dirinya.
Sungguh, hujan ini seperti halnya para pemandu sorak yang membuatku terus 'semangat' untuk menangis.
Sungguh Maha Pencipta-ku, apabila ku diberikan 1000 tahun, aku ingin habiskan 1000 tahun itu bersama orang-orang yang aku cintai.
Pincang rasanya hidup tanpanya.
Terus menangis sendiri, merasakan sakit di hatiku sendiri akibat kehilangan serpihannya, dan harus berbicara sendiri karena teman berbincang-berdiskusi-bahkan berdebatku telah tiada.
---
"Yah, Ajeng janji ga akan bikin nda sedih. Ajeng bakal buat nda bangga dan bahagia liat Ajeng. Ajeng ga akan nangis di depan bunda. Ajeng janji."
Yah, janji sederhana yang sekiranya hanya 3 kalimat itu, yang saat itu aku ucapkan saat memeluk tubuh dinginmu, sungguh berat dilakukan. Aku butuh bunda saat menangis, tapi aku tidak bisa. Memang tiada anggukan atau responmu saat aku ikrarkan janji itu, tapi entah kenapa aku merasa terikat dengan janji itu.
Yah, temenin Ajeng nangis ya yah....
Friday, December 19, 2014
Tetesan Rindu
Aku bosan.
Seharian ini aku sibuk mengurus hidupku untuk mengejar angka-angka yang kata orang, penentu hidup.
Aku lelah menatap segala simbol, angka dan sama dengan di kertas lusuh itu.
Perlahan ku alihkan pandanganku ke arah jendela
Perduli apa aku sama tugas yang baru bernomorkan 2 dari 5 itu.
Aku bosan.
Sore ini langit sedang meneteskan bulir-bulir berkahnya membasahi bumi.
Lama ku menatap jendela kamarku dan perlahan hati ini pun ikut larut bersama tetesan itu.
Tenang dan damai rasanya.
Hujan memang selalu berhasil membawa kembali kenangan terdahulu.
Bahagia, canda dan tawa.
Sedih, bimbang dan tangis.
Semua bercampur jadi satu dengan berpayungkan satu nama cinta.
Tak sulit bagiku merapalkan namamu.
Namun tak mudah untuk hatiku harus kembali bertemu bayangmu.
Bukan karena kamu yang ingin kulupakan, tapi karena senyummu yang sulit ditinggalkan.
Ketika orang berkata cinta itu tak harus memiliki.
Aku bersumpah bahwa ia telah salah memaknai cinta.
Bukan karena aku ahli membicarakan hal itu.
Tapi karena aku telah mulai menghadapinya.
Bahwa aku dan kamu mungkin tak bisa bersama, tapi aku tetap memilikimu dengan caraku.
Dan kamu, tetap bisa memiliku meski tangan kita tak lagi saling menggenggam.
Kisah kita mungkin sudah usai. Namun bukan berarti tidak ada memori yang tak bisa dikenang.
Bukan berarti pula tiada wajah yang tak pantas dirindu.
Bersama hujan yang terus membasahi bumi, ku sampaikan rinduku padamu, cinta dan kebanggaanku.
Wednesday, November 26, 2014
Kemana Rembulanku?
Kepalaku pusing tak karuan. Dinginnya malam yang terus memelukiku menambah kepeluan hati ini. Di tengah jalanku yang cepat-cepat tadi, ku dongakkan kepalaku ke atas langit. Aku hanya berharap di sana akan ada bulan yang bersinar atau bintang yang banyak berkelap-kelip. Setidaknya itu bisa menghiburku sedikit. Tapi sayang, tak ada satu bintangpun ku lihat di langit kelam itu. Bulan pun hanya berupa garis-garis bayang putih kekuningan di ujung langit sana.
Langkahku pun semakin ku paksa agar semakin lebar yang dipenuhi oleh rasa putus asa dan kecewa. Bahkan, di saat seperti ini pun, langit tak mencoba membuatku tersenyum sedikitpun. Hatiku pun ga henti-hentinya memaki,
Kemana rembulanku?
Monday, August 11, 2014
Aku, Kamu dan Rembulan
Lihatkah kamu langit malam ini? Sempatkah kau tadi mengintip dari balik jendelamu sebelum kau tenggelam dalam selimutmu?
Semua insan membahas terangnya rembulan yang tengah menggantung di langit malam ini. (Mungkin) Tak ada satupun yang melewatkan untuk melihat kemilaunya salah satu anugerah Tuhan yang sedang dipamerkan oleh-Nya. Dan sebaliknya, dengan tahzim, rembulan pun memantau semua wajah pulas yang tengah tertidur -- atau menemani diri bermuka bantal--sepertiku--menghabiskan malam dengan segala angan yang terlempar.
Rembulan itu pasti puas melihat dan menilai seluruh umat malam ini. Jarang kan dia menampakkan seluruh tubuhnya sebesar itu dan bersinar begitu mengagumkan.
Rembulan barangkali hanya terdiam melihat dirimu yang sedang tertidur sambil sesekali menebak-nebak apa yang tengah kamu impikan dari raut wajahku.
Rembulan barangkali tergelak saja, melihat kekuyuan hati seseorang (diriku) yang tengah merasakan pahitnya sebuah perasaan.
Haah...
Malam ini kusibukkan diriku dengan mengulang segala kejadian yang pernah kita lalui bersama. Setiap detik yang kuingat, selalu tersematkan rasa rindu yang begitu menggebu pada memori tersebut, dan tentu pada dirimu.
Hai Sang Rembulan, bersediakah kau mengantarkan salam kasih dan rindu ini padanya di sana?
"Kalau memang sebuah perpisahan adalah awal dari sebuah pertemuan, aku sangat menantikan pertemuan itu. Iya, sebuah pertemuan (lagi) dengan (hanya satu) kamu."
Seperti yang kau lihat, aku sendiri di sini berselimutkan hembusan dinginnya malam. Adakah Sang Rembulan bersedia menemani hati yang sepi ini--menggantikanmu--hingga fajar menggantikannya?
Monday, July 14, 2014
A Thing You Don't Know
Hello the angel from my nightmare..
You know what...
My heart is longing for your presence
My eyes want to see your smile
My hand needs to feel your touch
My shoulder is looking for your warmth
I'm sorry I constantly want to talk to you.
I'm sorry if I force you to talk to me as much as I want even though you don't want to.
I'm sorry if I come off so annoying.
I'm sorry if I think of you too much and too often.
I'm sorry...
Where are you? I cannot sleep tonight, also cannot dream.
I've tried to close my eyes but I just saw your shadow in the middle of the darkness.
And when I opened my eyes, I just found myself was crying over you.
I'm sorry if I came off as being so clingy.
But its just me missing you.
Friday, June 27, 2014
Secangkir Kekecewaan
Secangkir kopi panas menemani diri ini sambil menunggu datangnya senja menggantikan siang. Aromanya yang semerbak sangat menggoda bak menari terbawa alunan angin yang lembut menyejukkan. Sedari tadi, kusibukkan diri membaca sebuah novel tua yang sebenarnya telah kubaca berkali-kali. Bukan berarti ku suka dengan ceritanya, hanya saja aku tidak tau lagi aku harus membaca apa untuk melupakan rasa yang tengah memenuhi hati. Rasa sakit akibat hati yang teriris oleh kekecewaan.Kecewa? Ah, sudah bukan hal asing untukku. Ku yakin, kau juga pasti tak jarang merasakannya kan? Jujur, kalau kamu tanya apa sebenarnya arti kata kecewa itu, aku bingung menjawabnya. Yang aku tau, ketika suatu hal tidak berjalan sesuai dengan keinginan hati, aku langsung kecewa. Samakah persepsi kita tentang kecewa? Atau mungkin, ternyata sekarang kamu juga sedang merasakan kekecewaan juga?
Bicara tentang hati, bukan aku ahlinya dalam mengungkapkan isi hati. Berlisan berperasa manis saja aku sulit apalagi untuk berucap kecewa. Seperti kopi yang kuminum sore hari ini, kental seperti pekatnya hati dengan rasa kecewa, tak terlalu pahit dan penuh ampas di bawahnya, seperti aku yang sulit berkata kecewa padamu namun penuh kalimat kegondokkan di dasar sanubari.
Baiklah...
Aku sadar tidak adil rasanya aku berharap kau tau isi hati ini tanpa aku mengatakannya. Tiada arti pula aku menuliskan kegundahanku di sini tanpa menyebutkan namamu. Tapi, masih bisakah aku berharap kau memahamiku? Bisa pulakah aku mengandalkanmu kembali sebagai tumpuanku? Atau... Masih bisakah kalimat "Kami membutuhkanmu" untuk menggetarkarkan hatimu?
Ah.... Tuhkan, aku kembali larut dalam pikiranku akan kamu dan kecewaku padamu.
Hah!
Secangkir minuman di depanku kini tak lagi berasa kopi, hanya ada kekecewaan membelenggu diri.
Ya, kini yang tertinggal hanya secangkir kekecewaan.
Saturday, May 3, 2014
Malam
Suatu cerita yang menjadi salah satu cerita terburuk yang pernah ku alami.
Cerita tentang kebodohan diri dan gegabahnya otak dalam berpikir.
Malam itu, entah apa yang memenuhi pikiran dan seluruh tubuh ini. Aku hanya merasakan panas dan tak nyaman dengan diri ini. Dada terasa sangat sesak dan otakku terus memenuhiku dengan pikiran-pikiran buruk tak karuan. Hati ini pun tak kalah menyusahkan. Ia tak henti-hentinya berteriak terus membantah apa yang pikiranku katakan.
Buruk. Buruk sekali. Seperti kalanya mimpi berhantu di siang hari. Semua kataku, semua tingkah dan perilakuku semalam itu buruk tak ada manisnya sama sekali. Entah setan mana yang mengisi diriku. Akupun masih tak menyangka apabila kuingat kembali apa saja yang telah ku lakukan. Semua kata hina yang keluar dari mulutku, Semua maki yang terkata oleh lidahku. Semua prasangka yang terlintas di pikiranku. Semuanya seperti aib yang tak hentinya membayangiku. Tercela.
Kau tau, malam? Manusia memang diciptakan dengan akal pikiran untuk menimbang hal yang baik dan buruk. Tapi janganlah kau lupakan hati yang selalu merasa manakah yang baik dan buruk buat dirimu. Jangan seperti aku kemarin malam, yang hampir saja lupa bahwa aku masih memiliki hati yang masih setia mendenyutkan kedamaian di dalam diri, mengalirkan setiap hal positif ke setiap sudut dalam diri. Hampir saja. Untungnya, dia belum keburu mati saat itu.
Malam, apakah kamu pernah merasakan suatu rasa yang segitu dalamnya hingga kau tak tau lagi dari manakah asal rasa tersebut? Rasa itu, perasaan itu yang kemarin malam membuatku gusar tak karuan. Gelisah apabila ku mencoba menghilangkannya. Semakin ku mencoba menjauh, semakin risau pula diri ini. Entahlah, aku tak tau apa nama rasa ini. Tapi yang ku tau, rasa ini yang menyelamatkanku dari jurang dalam penuh penyesalan. Rasa ini yang kembali mengingatkanku akan memori-memori indah yang memberikan kedamaian dan kenyamanan. Rasa ini yang meredamkan segala celaku.
Aku malu, malam. Kini, aku malu terhadap diriku sendiri dan memori itu. Diri ini pun sekarang masih tak dapat bertingkah selayaknya aku yang biasa, hanya karena untuk menutupi rasa malu. Huh, sudah hina, bertambah hina lagi yaa diri ini dengan gengsiku. Tapi, aku sangat bersyukur. Rasa itu, rasa yang senantiasa hadir di dalam hatiku, telah (kembali) melindungiku dan menyadarkanku. Bahwa memang dialah yang terpenting, bukan egoku.
Thursday, April 3, 2014
Saturday, March 29, 2014
Bolehkah Aku Mengetahuinya?
Wahai Sang Maha Mendengar. Doa dan inginku tak bosan-bosan ku ucapkan pada-Mu. Satu dua kalimatku pun mulai Kau dengar dan wujudkan. Tapi tak sedikit pula kata yang Kau acuhkan.
Wahai Sang Maha Mengetahui. Aku tahu Kau telah mempersiapkan hal yang baik dan indah untuk segala perjuanganku yang cukup berat di awal ini. Kau pun telah menjanjikan bahwa tak ada usaha manusia-Mu di dunia ini yang sia-sia. Tapi, bolehkah aku sedikit mengintip apa yang telah Kau tuliskan untukku? Bolehkah aku mengetahuinya? Aku hanya penasaran. Apakah perjuanganku sudah cukup pantas mendapatkan janji-Mu itu? Atau ini hanya sekadar kesombonganku atas segala nikmat-Mu?
Tuesday, January 7, 2014
Sesuatu itu...
Sesuatu hal yang tak pernah terlihat seperti apa wujudnya namun dapat dirasakan kehadirannya.
Sesuatu hal yang tak pernah dapat digenggam namun dapat mengisi seluruh relung hati dan pikiran.
Sesuatu hal yang tak pernah diketahui kapan datangnya namun sangat sakit kepergiannya.
Sesuatu hal yang tak pernah dapat dimengerti namun selalu ada untuk dipahami.
Dan sesuatu itu adalah sesuatu hal yang merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Allah untuk hamba-Nya agar dapat berjalan dengan penuh kasih dan sayang di muka bumi ini.
Sesuatu itu adalah...... Cinta.
Sunday, December 1, 2013
Another Miracle :)
Saturday, November 30, 2013
Tuesday, November 19, 2013
What Kind of Love That I Have?
Ketika kamu mencintai sesuatu hal? Apa sajakah yang akan kau lakukan dengan cintamu itu? Apakah kau akan menyatakannya? Sekadar untuk informasi ataukah sebagai gerik untuk merebutnya?
Menyatakannya yaa?? Hmm....
Aku telah menyatakan rasa cintaku ini padanya (hal tersebut) semenjak ku bertemu dengannya. Perkenalan aku dengannya saat itu secara langsung, tapi melalui perantara. Semenjak ku mengenalnya, dan mengetahui segala tentang dirinya, aku telah jatuh cinta padanya. Semakin lama, rasa cintaku itu pun semakin membesar. Bersyukur aku mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan rasaku tersebut dan berhasil memilikinya.
Hampir Setahun.......
Hampir setahun kita bersama. Terlalu banyak kisah yang telah kami lalui bersama. Terlalu banyak waktu yang kami habiskan untuk canda, tawa, serta tangis bersama. Hanya karenanya ku bisa pulang jam 1 malam. Hanya dengannya ku bisa rela telat datang les hanya untuk menikmati waktu-waktu bersamanya. Kau tau? Semakin lama, rasa cintaku padanya semakin besar. Rinduku pun begitu. Tapi, apakah ia menyadarinya? Ia terlalu mudah untuk dicintai, walaupun terlalu mudah pula untuk dibenci. Kadang ku iri dengannya, mengapa ia segitu mudah untuk mendapatkan banyak cinta dari orang-orang? Termasuk aku.
Hanya Setahun........
Kalau saja ku bisa, masih banyak hari dan malam yang ku ingin habiskan bersamamu. Sayang, waktu aku dan kamu terbatas. Setahun kesempatan yang telah diberikan oleh Tuhan untuk ku lalui bersamamu pun sudah hampir habis masanya. Terkadang aku berpikir ini tidak adil. Bagaimana bisa aku berpisah denganmu ketika rasa cinta ini sudah begitu membesar? Bahkan terkadang, aku tak bisa lagi membendungnya. Memikirkannya saja telah membuat jiwaku melayang. Mengingatnya saja telah membuat mata ini selalu meneteskan air mata. Sungguh, aku tak bisa membayangkan ketika waktu itu tiba, aku harus melepaskan genggaman ini. Aku.................... takut kehilanganmu.
Genggaman?
Ada orang yang bilang apabila kita sudah mencinta, kita tak akan bisa merelakannya, termasuk merelakannya pergi. Bagaimana denganku? Kau tau kan aku posesif terhadapmu. Aku tak mau melepaskan genggaman ini. Aku tak mau merelakan kau pergi dari ku. Tapi......... bagaimana dengan istilah bahwa cinta itu tak saling memiliki? Apakah itu artinya aku masih dapat berjalan dengan cintaku ini, yang walau tak bisa merelakanmu pergi dan tanpa memilikimu? Atau kedua pandangan itu merupakan hal yang tak dapat digabungkan dan hanya bisa dipilih salah satunya? Kalau begitu, yang mana yang harus ku pilih?
Ku hanya ingin kau tau............
Wahai engkau yang berdiam diri di sana. Mungkin engkau tak dapat terlihat kasat mata, tapi kehadiranmu sangat terasa di hati ini. Banyak orang yang mencintaimu, termasuk aku. Dan aku tau rasa cinta kami ke kamu pun sangat besar atau bahkan banyak yang lebih besar dari cintaku. Tapi ku hanya ingin kau tau, rasa cintaku ke kamu itu segitu besarnya. Pada hingga saat ini, aku sudah mencapai titik sungguh aku ikhlas bagaimana takdir berbicara mengenai kita kedepannya. Tapi mengingat dua pandangan di atas, aku kini menjadi ragu kembali. Apakah aku termasuk pecinta yang tak mudah merelakan kepergianmu atau aku adalah pecinta yang ikhlas apabila aku tak berhasil memilikimu?
Yang ku tau, aku hanya mencintaimu.
*NB: Seluruh kata-kata -nya, -mu, kamu, dan kata sapaan lainnya ditujukan untuk 'sesuatu hal'
Sunday, November 17, 2013
Aku Rindu Padamu (Mereka)
Hahaha, iya masih jelas di ingatanku, bagaimana dulu kamu tiap hari berkeluh kesah padaku mengenai satu perempuan yang telah membuatmu terjatuh dan terpenjara dan seakan kau tidak dapat lagi keluar dari hatinya. Bagaimana? Bagaimana perasaanmu sekarang kepadanya? Ahya aku tau jawabannya, karena kau baru saja ceritakan tentangnya kepadaku. Senang adalah ketika aku masih menjadi orang terpercayamu untuk menceritakan hal mengenainya. Namun, terkadang, gurauan dan canda di tengah obrolan kawat kita itu terasa hampa. Kosong karena yang kulihat hanya tulisan dan emoticon-emoticon, bukan muka layumu yang biasa kau munculkan ketika kau bercerita tentangnya. Kau adalah orang yang paling manut dan paling ga rasional mengenai hati hahaha padahal kau yang terpintar. Bahkan mengenai hatiku saja, kau tidak dapat melihatnya dengan waras. Hingga aku pun tertular ketidakwarasanmu itu ketika berhubungan dengannya. Namun kamu, tetap menjadi pengingat yang terbaik di tengah ketidakrasionalanmu itu. Kamu yang baru saja mengobrol tidak langsung denganku, ada apa? Apabila ada kisah yang ingin kau bagi, aku masih sama seperti dulu, aku masih temanmu yang siap mendengar segala ceritamu. Bahkan, seperti katamu, aku siap untuk menjadi orang yang selalu mengerti kamu.
Ahya, kalau kamu, iya kamu, apa kabar? Hmm kamu yang sekarang tampaknya sudah sangat sibuk sekali dengan kegiatan-kegiatan kampusmu, sampai-sampai seperti sudah tak ada waktu lagi untukku. Padahal dulu, setiap canda dan tangismu, kau bagi kepadaku. Yaa walaupun lebih sering harus ku tanya terlebih dahulu karena kamu yang terlalu kaku untuk bercerita. Hmm aku teringat, yaa hebat yaa 2 wanita itu berhasil menembus tembok hatimu yang dingin hingga akhirnya kau bingung sendiri dan tak bisa memilihnya. Aku masih ingat sekali kisah-kisahmu dengan mereka. Aku juga tak lupa kisahmu dengan kisahku. Ketika kita tersadar bahwa kita sebenarnya pernah saling terjatuh satu sama lain tanpa kita sadari. Kita terlalu nyaman dengan keakraban dan kehangatan itu hingga kita tak mengerti bahwa dahulu rasa itu ternyata lebih dari sekadar kata 'teman'. Kesadaran yang kita temui pun di waktu yang berbeda. Hmm, mungkin itu yang terbaik. Apa kata dunia apabila dirimu ada kisah dengan 3 orang sekaligus (apabila ditambah diriku) yang mereka bertiga juga temenan. Hahaha. Senang juga rasanya bisa menembus dinginnya hatimu dulu, baik sebagai teman ataupun sebagai................ Ah sudahlah. Hmm aku baru mengerti, pantas saja dahulu kamu marah besar ketika ku lanjutkan hubunganku dengan dengannya waktu itu. Pantas saja kau telepon aku dan marah-marah hingga sukses membuatku menangis semalaman. Pantas..... Tapi kenapa kamu tidak ingat bahwa kau pernah marah padaku yaa?? Hmm yasudahlah. Lalu sekarang, apa hatimu masih sedingin dulu? Apa kabar teman?
Lalu kalau kamu yang kini sedang asik belajar, apa kabar? Bagaimana dengan pacarmu itu? Hmm sekarang sudah hampir 3 tahun kah? Aku tak ingat betul kapan kau mulai berpacaran dengannya, yang ku ingat adalah semenjak dengannya, kau berhenti melirik ke sana sini. Iya iyaaa aku masih ingat kebiasaanmu itu. Mungkin stok cinta di hati kamu berlebihan yaa hingga kau selalu merasa tidak puas dan selalu melihat perempuan lainnya walau kau tau di sampingmu telah ada orang lain. Hahahaha tapi semenjak dengannya, kau berubah yaa. Lebih rajin dan lebih giat melakukan aktivitas dan yang paling utama sih, kau mulai mengerti bahwa perempuan di sampingmu itu sudah lebih dari cukup. Aku turut bahagia mendengarnya. Kita sudah lama tak berbincang kawan. Sudah lama sekali. Ku harap kau sehat dan baik-baik aja yaa di sana. Ahyaaa, dan langgeng-langgeng yaa sama dia.
Kamu! Yaaa aku hampir lupa sama kamu. Hahaha ga deh, kamu tak pernah ku lupakan. Kamu yang selalu merasa dirinya setia dengan menunggu cinta sejati dari perempuan itu hingga bertahun-tahun hanya karena kau tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh namun kau yakin bahwa jodohmu adalah dia. Masih ku ingat kisah-kisahmu tiap akhir minggu melalui telpon mengenai bagaimana perkembangan hubungan kalian. Iyaa, telpon-telpon yang menyebabkan kau sempat terjatuh pula padaku, yang justeru dahulu sempat membuat kita (sangat) jauh karena adanya percampuran rasa di dirimu. Aku masih ingat bagaimana pengakuanmu mengenai rasamu padaku dan rasamu padanya, yang membuatku hanya bisa diam dan marah padamu lalu kau berbalik marah padaku. Hingga akhirnya kita kembali pada titik bahwa kita saling membutuhkan dan kau tau bahwa kebutuhan itu pun hanya sekadar sahabat, tak lebih. Sudah lama sekali kau tidak kisahkan mengenai perempuan itu, yang telah membuatmu jatuh dan tak dapat ke lain hati. Aku rindu omelanmu mengenai sikapku yang terlalu berlebihan ke teman-teman cowok. Ku rindu perdebatan kita mengenai sikapku yang menurutmu telah memberi harapan berlebih ke cowok-cowok, padahal aku merasa itu biasa aja. Aku rindu segala nasihatmu terutama mengenai menghadapi cowok-cowok itu. Aku rindu kamu, teman.
Huuuh.... Hampir lega menulis semua kegundahan dan kerinduan hati ini untuk kalian. Aku ingin sekali bertemu kalian, memeluk erat kalian seakan tak terpisah lagi, mengobrol hangat seperti layaknya tak ada waktu yang memisahkan dan berbagi kisah seperti tak ada lagi batas antara kita. Aku rindu kalian, sungguh.
17 November 2013, 11 pm
Ditulis dengan perasaan sangat rindu kepada para sahabat dan dengan mata yang berlinang menahan rasa yang menyeruak dari hati,
-Gisty Ajeng Septami-
Monday, November 4, 2013
Selamat Malam :)
Kisah yang cukup mengejutkan dan menyakitkan selama dua hari ke belakang.
Bukan tentang sebab dan akibat dari kisah itu.
Tapi lebih ke proses pendewasaan diri ini menghadapinya.
Jujur, ini bukan kali pertama ku hadapi situasi seperti kemarin.
Aku sudah beberapa kali mengalaminya.
Tapi yang berbeda adalah, orang serta waktunya.
Tapi yang berbeda adalah, kini ku bersama orang yang lebih dewasa pemikirannya dan juga waktu yang memaksaku untuk lebih dewasa.
Tekad dan komitmen pada kata 'Iya' yang kuucapkan 28 Agustus lalu seperti menjadi sebuah kekuatan di kala diri ini sudah kehilangan asa.
Ku tengok kembali hati yang mulai meragu, apakah ini masih dapat ku lanjutkan.
Kembali, kata 'iya' tanggal 28 Agustus lalu benar-benar menjadi sihir bagiku.
Tuhan, masih adakah harapan apabila ku andalkan serpihan kekuatan kata 'iya' ku tersebut?
Kesempatan kedua......
Tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil sesuai dengan usaha tersebut.
Banyak orang sih yang bilang seperti itu.
Aku pun meyakininya.
Berandalkan keyakinan akan impian di masa depan, ku kerahkan usahaku untuk mempertahankan komitmen yang sudah ada.
Hingga akhirnya, kesempatan kedua pun teraih.
Tuhan, terimakasih atas kesempatan kedua ini.
Kesempatan kedua dapat dikatakan kesempatan terakhir, itu menurut kamusku.
Memahami apa yang kuyakini tersebut, ku berjanji tak akan menyiakannya.
Bimbing aku selalu untuk selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang Kau berikan.
Ridhoi aku selalu dalam setiap langkah ini.
Dan jangan biarkan ku terlena dalam kesempatan kedua ini.
Malam, terimakasih untuk mendengar kicauanku di tengah malam ini.
Ku tau meski ku hanya menulisnya tersirat, tapi aku yakin kau memahaminya.
Ku yakin saat membaca ini, banyak kata aamiin yang kau ucapkan untuk setiap doaku.
Dan ku yakin, ini bukan terakhir kalinya kau menemaniku dalam setiap kegundahan hati ini kan?
Selamat malam :)
Sunday, November 3, 2013
I Don't Dare to Lose You
.
.
.
.
.
I still love you.
Wednesday, October 30, 2013
Malam
Malam.. Jangan pernah bosan yaa untuk selalu menjagaku dalam dinginmu.
Malam.. Jangan pernah letih yaa untuk selalu menemaniku dalam gelapmu.
Sadarkanku selalu sebelum siang kembali datang 'tuk mengambil sadarku
Ingatkanku selalu sebelum siang kembali datang 'tuk merenggut ingatanku
Bukan karena terang lalu aku dapat hidup bersama siang.
Tetapi karena tak ada terang, aku dapat hidup bersama malam.
Karena ketika itulah, aku dapat memahami "Siapa Aku Sebenarnya"
Hah....
Kenapa ini? Kenapa ku harus terus mengigau?
Bukankah ini bukan seperti aku biasanya?
Lalu dimana malam?
Bukankah ia bertugas untuk mendampingiku?
Membimbingku untuk kembali dalam diriku sebelum siang memisahkan kembali?
Hah....
Aku baru ingat!
Malam! Walau ia hening, dingin dan gelap, ia memiliki selera humor yang tinggi
Entahlah, ku tak memahaminya
Mungkin ia hanya membiarkanku untuk berdiri sendiri
Belajar mempersiapkan diri sebelum siang kembali
Ahya! Mungkin iya, seperti itu.
Malam tak pernah salah
Karena malam selalu ada untuk memahami.
