Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Wednesday, December 4, 2013

Kegagalan Koperasi di Indonesia: Sebuah Kesalahpahaman yang Berkelanjutan

Pada beberapa negara, koperasi seringkali disejajarkan dengan perusahaan swasta, akan tetapi prinsip dasar dari berdirinya koperasi sebenarnya berbeda dengan perusahaan swasta. Koperasi didirikan untuk memberikan manfaat untuk seluruh anggota dan masyarakat setempat tanpa merugikan mereka. Sebagai lembaga ekonomi, koperasi juga memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan. Namun, konteks keuntungan dalam koperasi bukanlah keuntungan seperti yang dimaksudkan perusahaan-perusahaan swasta. Keuntungan di dalam koperasi tercapai apabila anggotanya memperoleh keuntungan dari kemudahan yang diperolehnya selama menjadi anggota. Intinya, suatu koperasi akan dikatakan untung apabila berhasil meningkatkan kemakmuran perekonomian anggotanya.

1.        Pengertian dan Jati Diri Koperasi
Menurut Cooperative Identity Statement, International Cooperative Alliance (ICA) pada tahun 1995 menyebutkan bahwa pengertian koperasi adalah sebuah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan bersama ekonomi, sosial, dan kebutuhan dan aspirasi budaya melalui usaha bersama yang dimiliki dan dikendalikan secara demokratis. Sedangkan menurut Undang-Undang yang berlaku di negara kita sendiri, yakni Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992, koperasi didefinisikan sebagai badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hokum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Dalam beroperasinya, koperasi didasarkan pada nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggung jawab sendiri, demokrasi, kesetaraan, keadilan dan solidaritas. Para anggota koperasi pun percaya pada nilai-nilai etis dari kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Selain itu, menurut International Cooperative Alliance (ICA), koperasi memiliki empat asas pokok, yakni keanggotaan sukarela, satu anggota memiliki satu suara, bunga atas modal terbatas, dan pembagian SHU sessuai dengan partisipasi transaksi anggota dengan koperasinya.
Dalam prakteknya, koperasi juga memiliki prinsip-prinsip yang dijadikan pedoman. Prinsip-prinsip tersebut adalah (1) keanggotaan sukarela dan terbuka, (2) Pengawasan secara demokratis oleh anggota, (3) Partisipasi ekonomi anggota, (4) Otonomi dan kemerdekaan, (5) Pendidikan, pelatihan, dan informasi, (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian masyarakat.

2.        Perkembangan Koperasi di Indonesia
Koperasi pertama kali lahir pada tahun 1844 di Inggris. Kelahiran ini diawali oleh sebuah kondisi ekonomi yang dianggap sudah tidak dapat lagi diterima pada saat itu, yakni kapitalisme. Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang bertumpu pada kapital, dimana kapital menjadi sebuah faktor penting bagi berjalannya perekonomian sebuah negara. Hal ini menyebabkan banyaknya perusahaan-perusahaan yang menggunakan mesin dalam proses produksi dan mulai meninggalkan manusia sebagai faktor produksi. Kejatuhan dari nilai manusia ini menyebabkan banyaknya buruh yang tidak sejahtera. Hal inilah yang mendorong munculnya pemikiran positif dari para buruh untuk melakukan kerjasama dalam pembelian barang-barang. Pembelian bersama yang terus mereka lakukan tak hanya memberikan mereka keuntungan dari segi biaya yang dikeluarkan lebih murah, tetapi mereka sadar bahwa kerjasama yang mereka lakukan merupakan salah satu cara praktis dalam melawan penindasan kaum kapitalis. Kerjasama ini terus berkembang sehingga timbul sebuah istilah cooperative atau koperasi.
Cikal bakal koperasi muncul di Indonesia pada tahun 1896, ketika Pamong Praja Patih R. Aria Wiria Atmaja mendirikan sebuah bank untuk para pegawai negeri yang dinamai Bank Pertolongan Tabungan. Setelah itu, dengan bantuan De Wolffyan Westerrode, seorang asisten residen Belanda, Bank tersebut diganti menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian agar dapat semakin luas jangkauannya. Bank tersebut pun direncanakan untuk dijadikan koperasi. Namun sayangnya hal itu tidak dibolehkan oleh Belanda. Meski dilarang, gerakan koperasi ternyata secara perlahan menjamur di masyarakat. Dalam rangka mengantisipasinya, pemerintah Hindia Belanda pun mengeluarkan berbagai peraturan perundangan tentang perkoperasian yang cenderung mendiskriminasikan tataran hidup berkoperasi.
Mulai tahun 1908, ketika Budi Utomo lahir, gerakan ekonomi koperasi pun kembali dihidupkan, terlebih lagi dengan berdirinya Serikat Dagang Islam pada tahun 1927 dan Partai Nasional Indonesia pada tahun 1929 yang turut memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi. Namun, Belanda kembali mematikan gerakan tersebut. Hingga akhirnya Jepang menduduki Indonesia dan mendirikan koperasi. Hal ini pun disambut baik oleh masyarakat Indonesia. Namun sayangnya seiring berjalannya waktu, fungsi dari koperasi ini pun berubah menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Gerakan koperasi pun kembali hidup setelah diadakannya Kongres Koperasi pada tanggal 12 Juli 1947 di Tasikmalaya, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.
Perkembangan Indonesia sendiri mengalami pasang surut dengan motif kegiatan usaha yang berbeda-beda tiap waktu sesuai dengan iklim lingkungannya. Koperasi pertama di Indonesia menekankan pada kegiatan simpan pinjam, selanjutnya koperasi cenderung pada kegiatan penyediaan barang-barang konsumsi, dan kemudian kopeasi menekankan pada kegiatan penyediaan barang-barang untuk keperluan produksi. Seiring berjalannya waktu, kegiatan usaha koperasi pun cenderung memiliki beberapa jenis kegiatan usaha, atau yang sering disebut dengan Koperasi Serba Usaha. Hal tersebut pun masih terus berkembang hingga sekarang.

3.        Koperasi di Indonesia Dulu dan Sekarang; Pemahaman dan Kesalahpahaman
Dewasa ini, koperasi seringkali dianggap tengah mati suri oleh masyarakat Indonesia. Pergerakannya yang lamban dan juga kurangnya karya nyata dari koperasi di Indonesia menyebabkan koperasi kurang eksis di mata rakyat Indonesia. Padahal, saat masa kemerdekaan dahulu, koperasi mengalami perkembangan yang jauh lebih baik dibandingkan sekarang. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pemerintah, terutama Moh. Hatta. Saat itu, koperasi dijelaskan sebagai gerakan ekonomi yang sesuai dengan UUD, yakni ekonomi atas azas kekeluargaan. Arus dukungan yang diberikan pemerintah pada saat itu sangat positif. Dimulai dengan pendaftaran koperasi-koperasi di seluruh Indonesia, yang pada saat itu menyentuh angka 2500 unit. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah pada saat itu juga mendukung koperasi untuk lebih berkembang dan membantu pemulihan perekonomian nasional setelah penjajahan. Tak hanya pengembangan koperasi dari dalam, eksistensi koperasi yang bersifat eksternal pun juga dikembangkan, seperti halnya membangun hubungan baik antara Dewan Koperasi Indonesia dengan International Cooperative Alliance (ICA).
Secara kuantitatif koperasi dapat dikatakan terus bertumbuh, namun ternyata kualitas dari koperasi ternyata tidak begitu membanggakan. Pada umumnya, koperasi kurang memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan manajerial koperasi yang masih belum professional. Makadari itu, pelatihan dan pembinaan untuk unit-unit koperasi di Indonesia pun digencarkan. Hal ini bertujuan untuk meujudkan manajemen koperasi yang rasional dan efektif dalam mengembangkan kegiatan ekonomi para anggotanya. Pelatihan dan pembinaan untuk unit-unit koperasi di Indonesia pun digencarkan. Hal ini bertujuan untuk meujudkan manajemen koperasi yang rasional dan efektif dalam mengembangkan kegiatan ekonomi para anggotanya. Meski begitu, kualitas dari koperasi masih dapat dikatakan lamban untuk berkembang. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah hingga sekarang.
Kurang baiknya kinerja koperasi selama ini dinilai sebagai akibat kesalahpahaman dan paradigma dalam pengembangan koperasi. Salah satu penyebab mengapa koperasi sulit dikembangkan di Indonesia adalah sebab selama ini pemerintah mengembangkan koperasi sebagai agen untuk menyalurkan program-program pemerintah kepada masyarakat, terutama untuk sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja, contohnya pertanian. Selain itu, pemerintah selama ini hanya melihat persoalan koperasi sebagai persoalan modal semata, sehingga kebijakan-kebijakan untuk mengembangkan koperasi hanya berputar pada program-program bantuan modal untuk koperasi. Pemerintah kurang peka dalam pencarian keuntungan dalam pengelolaan koperasi. Salah satu implementasi kesalahpahaman mengenai permodalan koperasi ini dapat dilihat dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Koperasi, dimana disebutkan bahwa sumber modal koperasi dapat didapatkan dari modal penyertaan, yakni penyetoran modal pada koperasi berupa uang atau/barang yang dapat dinilai dengan uang yang disetorkan oleh non-anggota. Hal ini dapat berakibat pemodal besar dapat mendominasi koperasi.
Tak hanya mengenai permodalan, UU Koperasi baru juga menimbulkan banyak perdebatan di kalangan masyarakat. Contoh lainnya yakni mengenai peran Badan Pengawas. Fungsi Badan Pengawas kini lebih dominan, sebab pengurus diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Pengawas. Anggota koperasi hanya diposisikan sebagai obyek badan usaha sebab koperasi kini lebih mengedepankan materi daripada keterlibatan anggota dalam keberlangsugan koperasi. Hal ini dikhawatirkan dapat menghancurkan karakteristik organisasi koperasi. Budaya demokrasi pun juga dapat hilang karena peran Dewan Pengawas yang terlalu dominan.
Selain adanya salah kaprah dalam menanggapi kesurutan peran koperasi di perekonomian nasional seperti yang telah disebutkan di atas, adapula permasalahan lainnya yang kini tengah dihadapi koperasi. Salah satunya adalah adanya persepsi di masyarakat yang menganggap koperasi adalah stigma ekonomi marjinal, yang diperuntukkan untuk golongan masyarakat bawah. Hal ini menimbulkan keengganan bagi masyarakat yang mampu secara materi karena merasa gengsi untuk ikut terlibat dalam koperasi. Sehingga, koperasi dianggap sebagai kumpulan pelaku bisnis yang perlu dikasihani.
Beberapa hambatan lainnya yang dihadapi koperasi sehingga sulit untuk berkembang adalah kurangnya partisipasi anggota. Pada umumnya masyarakat kurang mengerti manfaat atas keterlibatan mereka di dalam kegiatan koperasi, sehingga mereka tidak menunjukkan partisipasinya baik secara kontribusi maupun insentif terhadap kegiatan koperasi. Hal ini dapat dikurangi dengan cara menambah pendidikan serta pelatihan untuk anggota koperasi sebagai bentuk pencerdasan mengenai manfaat berkoperasi. Rendahnya sosialisasi mengenai esensi kehadiran koperasi juga menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat untuk berkoperasi. Masyarakat hanya menganggap koperasi hanya mempunyai fungsi melayani tapi tidak mengerti peran penting koperasi dalam kehidupan sosialisasi masyarakat.
Permasalahan utama lainnya yang kerap kali menjadi sumber mengapa koperasi tidak dapat berkembang dengan baik di Indonesia adalah sumber daya manusia dan manjemennya. Banyak anggota, pengurus, pengelola maupun pengawas koperasi kurang dapat mendukung jalannya koperasi dengan baik. Hal ini menyebabkan koperasi kerap kali berjalan dengan tidak professional. Kini, seringkali pendirian koperasi didasarkan dari atas atau pemerintah bukan dari masyarakat. Sehingga pengelolaan koperasi pun menjadi kurang dapat dikontrol dengan ketat dari para anggotanya. Pengelola koperasi pun seringkali diambil bukan dari yang berpengalaman. Ketidak-profesionalan ini pun pada akhirnya menyebabkan manajemen koperasi tidak berjalan dengan baik. Seyogyanya, manajemen koperasi diarahkan pada orientasi stratejik dan diisi oleh masyarakat yang mampu menghimpun dan memobilisasi berbagai sumber daya yang diperlukan. Tingkat pendidikan yang rendah yang dimiliki oleh anggota dan pengurus koperasi dapat menyebabkan lemahnya manajemen koperasi.
Permasalahan lainnya adalah masih banyaknya koperasi yang tidak diberikan kebebasan dalam menjalankan setiap tindakannya. Seharusnya, koperasi dapat dengan leluasa memberikan pelayanan untuk masyarakat. Sebab, fungsi kopeasi sendiri adalah meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat dengan segala usaha yang dijalankannya. Tingkat birokrasi yang ribet dengan berbagai syarat yang sulit menyebabkan demokrasi ekonomi yang dimiliki koperasi kurang. Pelayanan yang diberikan koperasi pun tidak maksimal
Pemerintah yang terlalu ‘memanjakan’ koperasi salah satu alasan koperasi tidak berkembang di Indonesia. Koperasi banyak dibantu pemerintah melalui program-program yang dijalankan, terutama dalam hal permodalan. Pada umumnya, bantuan ini hanya diberikan oleh pemerintah secara Cuma-Cuma, sehingga salah satu prinsip koperasi, yaitu adanya partisipasi ekonomi dari anggota, tidak berjalan. Bantuan ini akan memanjakan koperasi sehingga koperasi akan bergantung pada pemerintah dan tidak mandiri. Terlebih lagi, hal ini dapat menjadi benalu sendiri bagi negara dalam hal pembiayaan.

4.        Saran untuk Mengembangkan Koperasi di Indonesia
Menurut Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, koperasi merupakan suatu gerakan ekonomi yang paling cocok dengan Indonesia, yakni karena didasari azas kekeluarga. Namun ironisnya, koperasi sendiri justeru tidak berkembang dengan baik di Indonesia karena disebabkan berbagai permasalahan yang dihadapi. Makadari itu perlu adanya langkah-langkah stratejik untuk membangkitkan kembali semangat koperasi untuk membantu perekonomian nasional.
Permasahalan utama yang dihadapi koperasi adalah karena banyaknya kesalahpahaman yang muncul di masyarakat dan juga rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai koperasi. Dalam mengurangi berbagai permasalahan di atas, hal penting yang harus segera dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memperbanyak pelatihan dan pendidikan mengenai esensi kehadiran koperasi bagi masyarakat luas. Hal ini juga penting dalam meluruskan segala kesalahpahaman masyarakat mengenai koperasi. Selain itu, pelatihan ini juga penting untuk menyadarkan masyarakat mengenai arti penting kehadiran koperasi bagia perekonomian nasional. Dengan begitu, semangat koperasi pun dapat terus terjaga dan koperasi pun dapat terus berkembang di Indonesia.

Sunday, June 9, 2013

Totalitas Implementasi Pendidikan untuk Memanusiakan Manusia

Dewasa ini, totalitas eksistensi pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan. Banyaknya kebolongan dari berbagai aspek menyebabkan ketidaksempurnaan sistem pendidikan itu sendiri. Bagaikan tubuh manusia, apabila salah satu saja organ tidak dapat bekerja dengan baik, maka secara keseluruhan, manusia itu pun tidak dapat melakukan aktivitasnya dengan sempurna. Begitupun di Indonesia, banyak unsur di dalam sistem pendidikan yang diabaikan yang menyebabkan keretakan di dalam sistem pendidikan itu sendiri.
Potret pendidikan di Indonesia masih terus menjadi fokus bagi pemerintah dalam proyek pembangunan nasional. Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis oleh UNESCO pada tahun 2011, menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-69 dari 127 negara dalam penelitian UNESCO untuk Indeks Pengembangan Pendidikan. Rendahnya rasio antara anak-anak yang menempuh pendidikan dengan jumlah anak-anak keseluruhan di Indonesia bukanlah satu-satunya komponen penilaian, namun juga karena masih banyaknya komponen pendidikan itu sendiri yang masih jauh dari kata sempurna. Pada tahun 2010, Kemendiknas merilis data yang menyebutkan bahwa 54% guru yang mengajar di berbagai sekolah di Indonesia masih belum memiliki kualifikasi untuk mengajar. Selain itu, adapula faktor ketidakseimbangan antara kurikulum Indonesia yang lebih memfokuskan pada kecerdasan otak kiri dibandingkan otak kanan. Hal ini dibuktikan dengan timpangnya perbandingan jumlah materi eksak dengan materi kepribadian yang diterapkan di sekolah. Padahal, penelitian menyebutkan bahwasanya kesuksesan seseorang tidak hanya didasari oleh kecerdasan intelektualnya saja, tapi juga oleh kecerdasan emosionalnya.

Sistem Pendidikan di Indonesia Menciptakan “Manusia Robot”

Salah satu penyebab lemahnya sistem pendidikan di Indonesia adalah kurangnya perhatian dari para tenaga pendidik terhadap para peserta didik selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menyebutkan bahwa ilmuan-ilmuan di Indonesia memiliki kecenderungan pintar namun kurang dalam tindakan. Hal ini diakibatkan oleh kurikulum yang diterapkan di Indonesia yang terlalu memaksakan perkembangan otak peserta didik dari segi kecerdasan intelektual, bukan kreativitasnya.
 Sejak kecil, peserta didik cenderung digenjot untuk belajar materi yang cukup beragam. Materi-materi tersebut pun pada umumnya hanya berupa makanan bagi otak kirinya saja, tanpa ada penyeimbang asupan bagi otak kanan. Sistem pendidikan di Indonesia memaksa agar seluruh peserta didik menelan materi-materi tersebut yang sebagian besar dalam bentuk konsep dasar dengan praktik yang minim. Belum lagi, materi yang diajarkan di sekolah pada umumnya hanya berupa gambaran umum atau konsep yang berupa abstraksi tanpa pendalaman pada fokus tertentu. Hal inilah yang menyebabkan beratnya bobot pelajaran yang harus dihadapi para peserta didik karena mereka harus mempelajari materi yang banyak dan luas.
Pemaksaan dalam bentuk ini menyebabkan peserta didik cenderung untuk merasakan stress atau tertekan dalam menghadapinya. Terutama ketika mendekati ujian. Banyaknya materi yang harus mereka pelajari memaksa mereka untuk menerapkan sitem kejar semalam atau sering disingkat dari SKS. Sistem Kejar Semalam adalah sistem belajar yang dipilih oleh peserta didik dalam mengejar materi yang akan diujikan esok hari hanya dalam semalam. Hal ini bukan hanya dikarenakan tingkat kemalasan dari peserta didik itu sendiri, tapi juga disebabkan oleh banyaknya materi yang harus dipelajari peserta didik dengan periode waktu yang cukup singkat.
Alasan lain yang sering ditemukan ketika peserta didik stress adalah mereka merasa bosan belajar karena minimnya inovasi yang diterapkan para tenaga pendidik dan pemerintah dalam proses belajar mengajar. Selain itu, para peserta didik juga merasa lelah menyantap seluruh materi yang disediakan tanpa adanya selingan dalam bentuk aktivitas lainnya. Kebosanan inilah yang akan mengganggu perkembangan otak, terutama dari segi kreativitas peserta didik. Tekanan pada otak ini juga akan berpengaruh pada perkembangan jiwa peserta didik dimana mereka akan merasa lelah secara mental dalam mengejar materi yang ada di sekolah.
Kelemahan dalam memperhatikan kepentingan integrasi dari kecerdasan otak serta emosional peserta didik inilah yang harus segera diataasi. Sebab apabila kita menilik kembali, proses belajar bukanlah hanya sekadar mendengarkan guru, menghafalkan isi buku, menjawab soal ujian, mendapatkan nilai bagus, dan selesai, tapi juga membutuhkan proses kreativitas dari para peserta didik dalam mengolah informasi yang mereka dapatkan. Sistem di Indonesia telah menjadikan para tenaga pendidik sebagai pusat dari segala proses kegiatan belajar mengajar. Sistem menganggap bahwa para peserta didik adalah sebuah kertas putih kosong yang siap ditulisi pengetahuan dari para guru. Mereka kurang diberi kesempatan untuk melakukan penyerapan sendiri terhadap materi yang mereka pelajari. Jadilah mereka, para manusia manja yang hanya bisa disuapin materi oleh para tenaga pendidik. Seperti layaknya robot yang bergerak hanya mengikuti programnya, otak dari peserta didik pun bekerja dan belajar sesuai dengan ‘doktrin’ dan materi dari para guru. Maka, tak heran apabila kita sering melihat berita bahwa banyaknya lulusan sarjana S1 yang menjadi pengangguran. Hal ini bukanlah disebabkan mereka tidak pintar, tapi kurangnya kreativitas dari dalam diri mereka. Makadari itu, sangat penting bagi sistem pendidikan di Indonesia untuk turut membangun dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri peserta didik. Kita harus pintar dalam menggali potensi tersebut agar kelak, lulusan yang dihasilkan bukan hanya manusia yang patuh akan sistem, tapi dapat berinovasi demi pembangunan bangsa ini.

Manusia Penyembah Nilai

Sistem pendidikan di Indonesia mengajarkan bagaimana peserta didik dapat menyerap seluruh materi yang ada demi dapat menjawab soal dengan baik dalam ujian. Hal inilah yang menciptakan mindset di kalangan peserta didik bahwa mereka belajar dan bersekolah hanya untuk mendapatkan nilai bagus dan mencapai prestasi akademik setinggi-tingginya. Esensi dari kegiatan belajar itu sendiri yang merupakan ajang untuk mendapatkan ilmu seluas-luasnya pun hilang.
Prestasi akademik di kalangan peserta didik bagaikan sebuah momok. Mereka belajar semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai terbaik di ujian. Banyak hal yang mereka korbankan dalam proses mencapainya, terutama waktu dan kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat mereka. Peserta didik bagaikan manusia yang menjadikan nilai sebagai “dewa” mereka, yang harus selalu mereka dekatkan dan berani mengorbankan opportunity cost lainnya yang terkadang jauh lebih besar dari belajar.
Peserta didik tak lagi memikirkan bahwa tujuan mereka belajar adalah untuk menambah pengetahuan mereka yang kelak akan diaplikasikan di kehidupan nyata. Mereka fokus menghafal dan melahap seluruh materi yang mereka hadapkan untuk memperoleh nilai yang baik di ujian. Hal inilah yang menjadikan mereka merasa tertekan apabila mereka tidak mendapatkan nilai yang baik. Padahal, kesuksesan seseorang di dunia kerja bukanlah hanya dari baik atau buruknya nilai seseorang tersebut. Terlebih lagi, hal ini akan menciptakan kecemburuan sosial apabila nilai yang mereka peroleh lebih jelek dari nilai teman-temannya. Kecemburuan inilah yang kemudian akan berdampak besar bagi tingkat persaingan antar peserta didik. Mereka tidak lagi memandang temannya sebagai teman yang seyogyanya saling mendukung satu sama lain dalam menempuh satu tujuan, tapi menjadikannya sebagai musuh dalam meraih impian mereka. Hal ini pula yang akan menciptakan sifat ambisius yang tidak sehat dan menimbulkan konflik di antara mereka.

Memanusiakan Manusia

Mencoba menelisik kembali apa sebenarnya yang menjadi dasar dari terselenggaranya sistem pendidikan di Indonesia. UUD 1945 Pasal 31 ayat 3 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Menurut UU Pendidikan No. 20 Ttahun 2003 Pasal 3 sendiri menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab.
Melihat kepada tujuan-tujuan pendidikan nasional di atas  memiliki satu fokus besar, yakni membentuk karakter peserta didik. Jelas terlihat bahwa tujuan dari pendidikan nasional sendiri bukan hanya menciptakan manusia-manusia pintar, namun juga manusia yang berkarakter dan memiliki daya inovasi yang tinggi. Makadari itu, cukup mengherankan apabila kita masih sering melihat banyaknya peserta didik yang melakukan aksi tawuran, ataupun tindakan asusila lainnya. Masih banyak pula kita lihat peserta didik yang mengalami stress ketika mendekati hari ujian dan mengalami gangguan secara psikisnya.
Peserta didik yang merasa tertekan akan terhambat pertumbuhan dan perkembangan di dalam dirinya. Tingkat produktivitas dari mereka pun akan menurun sebab mereka akan merasa tidak nyaman di dalam setiap melakukan kegiatan. Mental para peserta didik pun akan menjadi kecil ketika mereka mendapatkan nilai ataupun prestasi yang tidak menonjol. Hal ini akan menyebabkan mereka merasa menyesal dan menyalahkan diri mereka sendiri atas kegagalan yang mereka hadapi. Terlebih lagi apabila mereka justeru cenderung menyalahkan orang-orang sekitarnya.

Konsep penyajian pendidikan di Indonesia sejak awal. Apabila dilihat kembali, cara penyajian pendidikan tidak sinkron terhadap tujuan dimana sebagian besar tenaga pendidik hanya mengajarkan materi-materi yang berupa pelajaran eksak. Cara mengajar mereka pun minim inovasi sehingga menimbulkan kebosanan di peserta didik. Sangat sedikit sekali materi-materi yang mendukung perkembangan diri dan pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan kini hanyalah sebuah alat untuk mencerdaskan otak manusia, bukan mencerdaskan tindakan manusia. Makadari itu, perlu rombakan dari keseluruhan komponen di dalam sistem pendidikan itu sendiri untuk mencapai sebuah sistem yang komprehensif dan terintegrasi dalam menciptakan lulusan yang tak hanya cerdas secara fikiran, namun juga secara moral. Perlu adanya upaya memaksimalkan implementasi pendidikan nasional untuk memanusiakan manusia. Dengan begitu, manusia yang dicetak dari sistem itu sendiri merupakan manusia yang benar-benar manusia dan bukan lagi manusia robot.

Monday, April 1, 2013

Doing Good is Doing Business

(Copas-ed from my wordpress)
Hello folks!
Tonight, I want to post about the resume one of books that I’ve ever read. The title is . When I first saw this book, I was interested with the title. So I decided to bought this book.
Image
Overall, this book tells us about how to be a good leader who n only motivated by the material things such as getting the company’s name out there, received thanks and recognition, and the chance to get something in return or to gain an advantage. Nowadays, people often see business are a choice between being kind and being successful. This is a flictious trade-off. To be successful in the ever-changing and ever-competitive global marketplace, you may need many things: determination, well-articulated goals, and a bit of luck. In this book, Kristin brings us another factor that needed by the professionals to achieve their goals, KINDNESS!
Kristin asks us to make a kindness become a businnes asset. Because, kindness not only helps others, it also helps us to be a successful as we want to be. This book shows us how to develop ‘kindness capital’. Kindness, coupled with other professional skills and abilities, enables individual professionals to make their career goals and aspirations happen. It will set us on the course to having the things we want and being the person we want to be.
Kristin tells us about 5 powerful tools for developing kindnes capital make such results possible:
1. The power of REPUTATION: building a strong caring reputation
2. The power of RECIPROCITY: giving and garnering reciprocal kindnesses and favors from others
3. The power of PERSONALITY: learning to be someone that others like
4. The power of THANKS: being appreciative of others
5. The power of CONNECTING: connecting with others and building a strong network.
When you use the 5 powers, you raise the level of kindness capital all around you, she said.
Do good and do well are the keys to do a good bussiness. Lack of kindness costs businesses, well, business. You should simultaneously care about and respect others while at the same time enjoying and appreciating the ways in which they can benefit you.
Not only about the theory of being kind-business-one, but Kristin also shows us many quotes from the famous and success-business-man who have already applied the kindness as a capital.
From this book, I learned so many things that there are not only profit or others material things around business but we need kindness to succeeding in business.
It’s enough from me. I hope you’ll also get the advantages from Kristin’s book through my resume.
Night folks! :)

Friday, March 1, 2013

My First Writing Class!!!

(Copas-ed from my wordpress)
Hello blogs! Welcome to my first wordpress hehehe. Actually this wordpress is made specially to APSIA’s task hehe because it is too impossible if I use my old blog.
Kay, now I want to tell you about my first class in APSIA last week. It was my first training class in APSIA. It was so memorable and I had have fun there.
My first class is writing class. I was very exciting. In our first writing class, we have 2 sessions of how to be a good writer and about creative learning. In the first session, we got Kak Diego, the student of FIB UI that now is in progress to make a final project (good luck kak!) and also the writer of the novel ‘blablabla’. And we also had bang Boim, one of the characters in LUPUS and also he is the writer of sooooo many novels that maybe we all know them. And in the second session, we had kak Arry and kak Windy as our speakers. Kak Arry is the student of FT UI and he is the article writer that successfully got so many awards. And the last, we had kak Windy, the editor and also the writer of so many novels. She is also often be the speaker of how to be a creativewriter.
In the first session,  I learned about how to be success writer through following your passion. He told us not to be a looser so he gave us some tips and tricks how to be a good and inspiring writer:
  1. You may not be able to cry If that can’t be a royalty for you
  2. There is no exception for the things that we like. So, if you like something, there is no reason to do it
  3. There is no a high-dream, there is a lack of effort
  4. Do not ever give yourself a limitation
  5. If you want to do something, you must find out you uniqueness
  6. If you want to start write something, you must know correctly who is your target that will read your text
  7. Do something you like consistently and continuesly
  8. Be more creative
  9. Art is so cliché so you have to know how the best way to present that.
He was also gave us 6 things that must be remember if we want to be a creativewriter:
1. diction and style
2. viewpoint
3. dialogue and narration
4. characterization
5. showing or telling
6.do  research
in the first session, beside Kak Diego, we also had Bang Boim, the writer of LUPUS. He thought us about how to be an inspiring writer. There are some tips and tricks that he gave us:
  1. We have to work on what we knoe. We have to explore them and find out what we have’nt know yet
  2. We have to know what is our strength and what is our weakness. So we can explore ourselves to be better one
  3. If you want to start write something, you have to learn and know what is the phenomena that happened around us\
  4. We have to cleaverly combine the characters that we have.

In the second session, we had kak Ali Rahmawan and Mbak Windy.
Ali Rahmawan is the student of faculty of engineering at university of Indonesia. He is the socialpreneur. He told us to always follow our passion and do what we like. So, we can get the double successful. In the last year, he successfully released 500 articles, 5 books and got 25 awards. He also have his own website,www.arryrahmawan.net and his own publisher.
He gave us 3 tips to be good writer: focus on what we do, act, and respect to time. He was also said that if we wanto to be a writer, do not ever think about other things except you only want to share what you know to other through your text. The last sentence that he said is, to be a good writer, we have to read a lot and write a lot.
And this is the last session. Mbak Windy, the writer and editor at Gagas Mesdia publisher as the speaker. In this session, I learned practically how to be creativewriter. First, I learned how to be a fast writer through  tell everyone about my future. And next we learned to be creativewriter with build a story through 6 words only. For example, the legend six-words-sotry from Ernest Hemmingwey. For sale: Baby’s Shoes Never Worn. It is actually a sad story that told us about a couple that really want to have a baby but they never had. after that, she though us some tips and tricks:
  1. We heave to write what we know with unusual way
  2. Do not ever reject the change, because it will ‘kill’ yourself
  3. Read a lot to get more inspiration
  4. Write down your ideas wherever and whenever you are in a note
  5. You have to practice to write quickly
  6. If you want to write something, you have to make a plots that answered the cause and effect things. You also have to tell something once.
  7. You have to know what is happening around you to get the right theme that has booming in community
  8. And the last, she told us that creativity is made by a question not from a statement.
Those are all about that I got from my first writing class in apsia. It was so inspiring and insightful. Thankyou APSIA :)

Sunday, December 2, 2012

Summary of Some Talkshows in Grand Launching and Consolidation APSIA UI


Grand Launching Apsia UI was held on November 23, 2012. Apsia UI officially launched by the director of students University of Indonesia, Mr. khamaruddin. First of all, we did our ceremony that also we should do that everytime we have an activity together. The ceremony opened by singing our national anthem then continued by read a Champion Pledge together. And here it is, the Champion Pledge:

Champion Pledge

How we wish our country knows that we love them more than we did.
We are proud when our souls died as a ransom to the honour of Indonesia
Or a price for the enforcement of glory, honor, and realization of the ideals of Indonesia.

Nothing could make us like this, other than the love that has made our hearts touched, which runs our feelings, squeezes out our tears and eliminates the sleepiness of our eyelids.

How sore we feel in our hearts, watching the disasters that tore this nation apart, while we just give in to humiliation and surrender to despair.

For thee sake of God the All-Knowing, the All-Hearing, we pledge solemnly, freely, and upon our honor.

We will achieve excellence by improving the capacity of academic and personal development
We will always firm in honesty and integrity
We will have noble character wherever and whenever we are
We will use our knowledge and influence to contribute to society
We will always strive with sincerity and responsibility, no matter how hard it is

We want people to know that we carry a pure mission, free from personal ambition, free of the interest of the world, and free of lust.

We do not expect anything else from the mankind, do not expect property or other benefits, nor fame, or even just a thank you.

What we hope is the creation of a better Indonesia and the blessing of God – The Creator of the universe

After di the ceremony, we got some inspirational speech by Mrs. Riri, one of teacher from Fasilkom. She had so many great experience. She also had so many inspirational statements that can grow my motivation up. These are some of her statements that I wrote on my notes:

1.      Fortunately, Indonesia has a ‘bonus of demography’. Demography itself has a definition as the study of human population dynamics, including the size, structure,a and the distribution of the population. Indonesia has so many citizens and it gives so many benefits for Indonesia. With abundant of human resources makes Indonesia easier to get labors. But unfortunately, we have less role model to be our references. Most of us have an exemplary from another country. One of her statement that I’ve remember is: “we are who attending here, especially you are who joining in apsia, who have an internationally intelegent, must be the next Indonesia role models”
2.      We all know that it’s so that not easy to be succeed. There is so many obstacles. But, the one that you have to always remember is: do not ever give up on you own way that you choose. Imagine that your goal is like a mountain top. There is so many ways to get your goal. But remember, do not ever change your ‘mountain’ and turn into another mountain. You will get nothing but the goal that you can’t reach. Ever. Plan your activities everyday. At least you have 5 activities that you have planned and it must be done, successfully. It helps you to manage yourself.
3.      Expand your networking and do not ever lost your opportunity that you have. Opportunity does not come twice. If someone needs your help, eventhough you cannot do that correctly, accept that challenge. You can learn from what you do.
4.      Do not ever compete with another else but compete with ourselves. Can we do and achieve what we want without any ego from ourseleves?
5.      If we stand 2 minutes longer than the others, we will be more successful or successful than the first.
6.      Try to always listening what your around saying. It will help you to instropect yourself and also maybe you will get another inspiration from them. And sometime God’s message is undirectly sent from your friends.
7.      Success is not always being smart. Do whatever consistently is more important. Running something continues and continuosly.
8.      Do what you love and love what you do
9.      You have to stand on your own feet. Be independent and do not hang yourself up on another else
10.  Be faithful to your future. No pain, no gain, no shortcut.
11.  Do not compare yourself with others. Be yourself and do be shy to be different. It will makes you more comfortable.
12.  Ask less, give more.
13.  Be careful everytime you act because your personality will reflected by your action.

On the second day the consolidation of apsia UI, we got another inspirational speech from kak Big Zaman. I got some points from his speech. Here it is:

1.      Character building has 3 main concepts: competence, have a strong character and also give some contributions.
2.      Assume that we are the pearl. So you will know that the pearl will always shinning wherever it is
3.      Nowadays, we are facing some problems or something like obstacle that inhibit us to achieve our goals. 1) we are lack of gratitude. 2) we cannot control ourselves and we haven’t finished our problem yet before act to our environment. 3) secularism, the concept that separate between the secular and religious, is have been wider
4.      What you think is what you do is who you are
5.      Achievement is not always in the street with flowers.
6.      Passion, find and live it! Find your way, get your own star, not only for you, but for everyone.

After that, kak Iqbal also gave us 10 characters of winner:

1        Good faith; as a winner, we must be have a faith to a God. Remember who is the Creator of us.
2        Right devotion
3        Strong character
4        Physical power
5        Brilliant thought
6        Continence
7        Good time management
8        Well organized
9        Independent
10    Giving contribution

On the third day, we also had another great speakers with great experience too. The first one, we had Kak Jiwo. He is a fresh graduates from FISIP UI, 3 years ago. He is one of the founder of FLAC (Future Leaders Anti Corruption). Future Leaders Anti Corruption (FLAC) INDONESIA is such a Social Movement initiator, which brings passion for fight corruption in Indonesia with some fun activities and a target is children. He asks children to avoid corruption by giving them some storytelling so it must be more attractive and innovative for children. He want to embed a anti corruption value for children. He also told us to always following our passion and do not be afraid if you want to take something serious with the fun way. It sometimes easier to do. He also gave us some spirit to not to give up whatever it takes. He told us that he had been rejected by one director of company because she doubted about FLAC. But after FLAC Indonesia successfully went to Brazil and did some storytelling there, that director went back to FLAC and offered to do a cooperation. Do not ever doubt yourself eventhough everyone around you do. Because only you that know what exactly happened.
The last speaker that we had is Revaldo Fanther. He also fresh graduated from mechanics engineering UI. He currently being a motivator and he had so many inspirational storie for us. He told us that we actually have so many ways to achieve our goals if we open our mind and see all chances around us. Wherever we stand, we will find our own way to get knowledge. He said that the weakness of Indonesia’ young people is they are less giving contribution for our beloved country. They more likely to do makes happy themselves without seeing their environment. And the last one that he said to us is: be impactfull Indonesia youth! And do not stop to giving contribution for our country.

-GAS-

Thursday, August 23, 2012

Panca Nilai (Kebersamaan dan Nasionalisme)

Nah sekarang gue mau ngepost hal yang serius lagi nih. Hehe, gapapa kan yaa?? Pantes kan yaa gue jadi orang serius? Muehehehee. Ini salah satu tugas OPK gue. Essay tentang Panca Nilai, tapi seorang hanya wajib menjelaskan 2 dari 5 Panca Nilai Indonesia itu. Disini gue kebagian Kebersamaan dan Nasionalisme. Feel free to comment. Maaf kalo ada yang salah dari tulisan gue ini :)

Kebersamaan dan Nasionalisme

Kebersamaan adalah hal yang paling indah dan diidamkan semua orang. Kebersamaan dapat diartikan sebagai sikap saling perhatian satu sama lain sesama manusia. Kebersamaan adalah sebuah modal untuk menciptakan suasana hangat dan akrab di sebuah lingkungan masyarakat. Kunci utama dalam kebersamaan itu sendiri adalah sikap saling pengertian dan toleransi agar tercipta kebersamaan hidup antar manusia.
Indonesia merupakan salah satu negara di Indonesia yang memiiki berbagai macam kebudayaan, mulai dari bahasa, cara berpakaian sampai cara makanpun berbeda. Seperti contoh, cara berbicara orang Medan berbeda dengan orang Jawa. Orang Medan terbiasa berbicara dengan suara keras dan lantang tidak seperti orang Jawa yang biasa bicara pelan dan halus. Indonesia tidak hanya kaya akan budaya tapi juga suku, agama dan ras. Perbedaan seperti ini dapat dilambangkan sebagai pedang bermata dua. Keberagaman dapat mempercantik dan memperkaya Indonesia tapi juga dapat bertindak sebagai pemecah bangsa Indonesia itu sendiri.
Budaya adalah identitas, untuk mengenal lebih jauh bangsa, pertama ketahuilah budayanya dan kenalilah kebudayaannya. Sebagai sebuah identitas, budaya adalah syarat mutlak yang harus dimiliki dan dengan tangan terbuka diterima khalayak. Perbedaan ini menjadikan bangsa Indonesia mempunyai alasan untuk saling menghargai dan , menjunjung tinggi apa yang mereka miliki, terutama PERSATUAN. Persatuan menjadi kewajiban yang harus bangsa Indonesia sadari. Persatuan adalah sebuah tujuan dan budaya adalah alat yang digunakan. 
Perbedayaan juga dapat menjadi factor utama timbulnya konflik di Indonesia. Konflik ini pin akan menyebabkan perpecahan di masyarakat Indonesia yang akhirna akan merugikan Indonesia itu sendiri. Tiadanya sikap saling menghargai akan menyebabkan masing-masing dari kubu berbeda akan mempertahankan prinsip dari mereka masing-masing.
Perbedaan di antara masyarakat Indonesia bukan hanya di bidang budaya tapi juga di bidang agama seperti contohnya belum lama ini kita kembali heboh mengenai kapan mulainya puasa Ramadhan tahun ini. Kejadian ini hampir selalu terjadi tiap tahunnya. Perbedaan pendapat mengenai cara menentukan awal Ramadhan telah menjadikan masyarakat Muslim Indonesia terkotak-kotak.
Selain itu, kita dapat mengambil contoh sederhana seperti perpecahan yang kini terjadi di PSSI. PSSI yang jinni terbagi dua, ISL dan IPL berawal dari perbedaan tujuan dan visi satu sama lain. Mereka tidak menemukan titik nemu untuk menyelesaikan perbedaan mereka. Hal ini pun secara langsung ataupun tidak, dapat merugikan persepakbolaan Indonesia. Kisruh pemain IPL yang tidak boleh masuk ke timnas membuat timnas Indonesia menjadi kurang kuat dalam menghadapi timnas negara lain. Prestasi sepak bola pun semakin memburuk.
Perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan konflik inilah yang harus dapat kita hindari. Indonesia sangat rentan terhadap perpecahan dan keretakan. Kebersamaan dalam perbedaan merupakan kunci utama dalam mewujudkan kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Perkembangan zaman turut serta dalam mempengaruhi kehidupan bermasyarakat Indonesia. Kini masyarakat Indonesia lebih individualis tidak mengindahkan kehidupan sosialnya. Hilangnya rasa kebersamaan dapat terus mengikis kesejahteraan Indonesia selama ini.
Akhir-akhir ini  muncul kesadaran baru tentang betapa pentingnya Pancasila digelorakan lagi. Bangsa Indonesia yang bersifat majemuk, terdiri atas berbagai agama, suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah,   menempati wilayah dan kepulauan yang sedemikian luas, maka  tidak mungkin berhasil disatukan tanpa alat pengikat.  Tali pengikat itu adalah cita-cita dan pandangan hidup yang diyakini sebagai sesuatu yang mulia dan luhur. Maka,  Pancasila adalah sebagai tali pengikat bangsa yang harus selalu diperkukuh  dan digelorakan pada setiap saat. Pancasila dapat menyatukan Indonesia lagi agar tetap selalu bersama. Apabila kebersamaan terus dipupuk dari dini maka Indonesia tidak akan terpecah lagi. Indonesia akan menjadi satu kembali dibawah kebersamaan dalam ikatan Pancasila.
Perkembangan zaman yang begitu cepat berimbas juga kepada mengikisnya rasa nasionalisme dalam diri masyarakat indonesia. Tak jarang kita temukan hari ini banyak dari mereka yang terbuai dengan gaya hidup berbau ke-barat - barat-an. Sikap akan memuja yang berlebihan terhadap sesuatu juga memudarkan rasa cinta terhadap Indonesia. Cukup miris ketika di salah satu acara di televisi menayangkan beberapa remaja Indonesi dapat menyebutkan seluruh personil salah satu girlband di Indonesia tapi ia tidak dapat menyebutkan 10 nama pahlawan, padahal hampir seluruh nama jalan besar di Jakarta adalah nama pahlawan.
Perkembangan dunia teknologi terutama internet turut andil dalam pudarnya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Seluruh informasi dari seluruh dunia dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa batas. Mereka pun akhirnya timbul rasa mengagungkan produk-produk luar negeri dibandingkan dalam negeri. Mereka menyebut ini sebagai proses modernisasi Indonesia. Namun faktanya ini merupakan proses  mengikisnya rasa peduli terhadap bangsa. Sikapp kurang selektif dalam memilih bahan-bahan informasi dari dunia luar membuat rakyat Indonesia muadh terpengaruh dan terbawa arus globalisasi.
Mulai hilangnya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia terbukti dengan banyaknya budaya Indonesia yang diclaim oleh bangsa dan negara lain. Budaya merupakan aset bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Seperti halnya batik yang merupakan budaya bangsa Indonesia tetapi di klaim oleh bangsa lain menjadi milik bangsa tersebut. Tidak hanya batik saja yang di klaim oleh bangsa lain masih banyak lagi seperi Tari tor-tor tetapi diakui oleh bangsa lain yaitu Malaysia.
 Nasionalisme adalah satu paham untuk menciptakan dan mempertahankan sebuah negara dengan mewujudkan identitas bersama sebagai sebuah bangsa. Nasionalisme adalah suatu ideologi yang meletakan bangsa sebagi pusat dan menjunjung tinggi, maksudnya adalah suatu gerakan ideologis untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bagi suatu populasi yang sejumlah anggotanya bertekad untuk membentuk suatu ” bangsa ” yang aktual atau ” bangsa ” yang pontesial.
Secara umum nasionalisme diartikan bentuk dari rasa cinta tanah air. Rasa cinta ini timbul karena adanya karena adanya perasaan senasib sesame masyarakat Indonesia. Rasa nasionalisme dapat berupa memelihara dan mempertahankan  potensi yang dimiliki bangsanya, bangga terhadap tanah air, dan sikap bela . rasa nasionalisme juga ditunjukkan dari usaha masyarakat untuk memajukan negara untuk dapat mengangkat bangsa ini di mata dunia. Apabila masyarakat Indonesia memiliki rasa nasionalisme bukan hal yang susah menjadikan Negara ini menjadi Negara yang maju.
Rasa cinta tanah air saat ini dapat diwujudkan dengan cara contohnya dengan mencintai produk dalam negeri, contohnya adalah mobil esemka yang dihasilkan oleh SMK di Solo. Kita dapat mengapresiasikannya dengan terus membantu menyuport untuk mengembangkan mobil tersebut agar lebih baik lagi. Hal ini dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap produl dalam negeri dan tanah air ini. kita juga Jangan bersifat tak acuh atau tidak perduli terhadap permasalahan yang ada di negara kita. Dengan kita peduli, kita menunjukkan bahwa masih ada rasa nasionalisme di dalam diri kita kepada bangsa ini.
Rasa nasionalisme dapat diwujudkan kembali dengan meningkatkan rasa cinta terhadap budaya dari daerahnya sendiri dahulu lalu setelah itu rasa cinta tersebut pun akan terus berlanjut hingga tingkat tanah air. Rasa nasionalisme dapat ditunjukkan dengan menghargai dan melestarikan budaya bangsa yang beragam. Untuk dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dengan mengenali budaya bangsa diperlukan peran pemerintah dan masyarakat. Pelestarian kebudayaan diperlukan untuk mempertahankan identitas Negara dan usaha itu dapat dilakukan melalui pengajaran rasa cinta tanah air sehingga generasi penerus bangsa selanjutnya dapat mengenali dan mewariskan budaya bangsa ke generasi berikutnya agar budaya bangsa yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia dapat terus lestari dan menjadi menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia.

-GAS-