Apakah kamu tau?
Terkadang cinta itu nggak hanya tentang pena yang menari cantik di atas kertas putih kosong untuk
menorehkan kalimat-kalimat indah.
Terkadang cinta juga bukan hanya sekadar janji-janji akan masa depan yang diucapkan begitu
meyakinkannya.
Terkadang cinta itu hanya butuh sedikit untaikan kata yang dapat menembus hati seorang manusia
hingga membuatnya bersyukur sujud.
Kamu tau?
Cinta tak butuh kamu menjadi puitis untuk mengutarakannya.
Cinta juga tak bernilai barang yang kamu berikan.
Cinta itu menerima.
Cinta itu jujur.
Dan cinta itu ikhlas.
Kamu tau?
Cinta itu tak diam.
Ia harus terus bergerak, terus mengembang seiring berjalannya waktu.
Cinta tak boleh diam.
Cinta harus terus berusaha menjadi lebih baik
Karena cinta memang untuk membuatnya lebih baik lagi.
Kamu tau?
Cinta itu tak hanya sebatas ucapanmu.
Cinta itu perlu dibuktikan untuk meyakinkan.
Cinta itu tak pasrah pada takdir.
Makadari cinta itu perlu diusahakan agar selalu bertahan.
Kamu tau apa itu cinta?
Apa kamu tau bagaimana cara mendefinisikan cinta dengan baik?
Bagaimana dengan frase ‘aku dan kamu’?
Cukup mewakilikah?
Atau justru tidak sama sekali?
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts
Tuesday, December 22, 2015
Saturday, February 21, 2015
Tentang Dia
Petang hari di sebuah Sabtu...
Sudah sebulan lebih rasanya aku menjalani hidup dengan hati yang begitu kosong. Separuh jiwaku berasa hilang terbenam ikut terkubur menemani berbaringnya tubuh kakunya. Tawaku, senyumku yang terlukis di bibirku bahkan tak sanggup untuk menghibur hatiku sendiri. Dada ini terus berdetak kencang tak bernada seakan memaksa nafasku terpenggal tak beraturan. Apa yang kurasa ini lebih dari sekedar sakit hati ataupun patah hati. Aku rapuh, terlalu tak mampu untuk meneguhkan diri saat orang yang begitu amat aku sayangi dan juga mencintaiku, telah tiada.
Apabila aku ditanya, kenapa begitu lemahnya diri ini, aku akan mencoba menjawabnya, dengan bercerita tentang dia.
Tak terhitung bagiku berapa novel teenlit yang kubaca tentang romantisme. Mulai dari cinta pertama hingga cinta tak terbatas. Tapi entah kenapa aku tak pernah menemukan definisi perasaanku kepadanya di novel-novel itu. Cinta pertama-- Iya, dia adalah cinta pertamaku. Namun ia lebih dari cinta pertama. Ia adalah seseorang yang pertama kali mengajariku bagaimana untuk menyayangi dengan tulus tak mengharap balas. Seseorang yang begitu menantikan kehadiranku bahkan saat aku pun belum tau apapun tentangnya. Seseorang yang selalu siap 24 jam dalam 7 hari untuk menjagaku, melindungiku atau hanya sekedar untuk menemaniku. Tak pernah terucap sepatah alasan pun darinya apabila aku sedang memohon bantuan. Bahkan terkadang ia selalu inisiatif menyapa bertanya padaku tentang apa yang aku butuhkan.
Diriku, apabila tengah di sampingnya, seakan putri kerajaan. Bukan karena semua hal yang aku butuhkan selalu dilayani olehnya, atau juga bukan karena semua yang aku inginkan selalu dikabulkan. Aku seperti putri karena aku diperlakukan seperti putri. Aku dicintai layaknya putri yang sempurna; cantik, baik hati dan berwibawa. Aku dilindungi seperti halnya pewaris tahta yang tak boleh sama sekali lecet sesenti pun. Aku selalu dipujinya seakan putri yang telah berhasil membantu orang tuanya dalam menyelamatkan kerajaan.
Sendiri tak berarti aku dimanja. Entah apa yang telah ia doktrinkan kepadaku. Tumbuh menjadi seorang anak satu-satunya dalam keluarga yang cukup berada dan terpandang, (seolah-olah) sudah seyogyanya aku menua dengan manjaku. Nyatanya, tumbuh dengan cinta yang seluruhnya terkucurkan untukku, semua perhatian yang terjatuh padaku dan dengan seluruh pandangan mata yang tak pernah meleset sedetik pun dariku, aku justru dewasa dengan kepribadian yang serupa pula. Aku dewasa dan tak (begitu) manja. Di tengah kehidupan yang menempatkan diriku di atas roda, aku justru diajarkan untuk melihat ke bawah dan selalu membalikkan tanganku. Aku tak pernah diizinkan untuk merasa iri dengan mereka yang derajatnya melebihiku. Sebaliknya, aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur dan tak pernah lelah untuk berusaha lebih. Hebatnya, ketika tiba-tiba rodaku berputar begitu cepat dan memposisikan diriku di derajat terbawah sebuah lingkaran hidup, aku tak pernah merasa kasihan atas diriku sendiri. Saat itu, aku diajarkan bahwa bukan harta ataupun kekuasaan yang dapat membuat seseorang tersenyum, melainkan cinta dan kebersamaan yang dapat membuat hati seseorang nyaman dan bahagia. Bahkan, aku tak pernah diperbolehkan untuk meminta atau mengharap dari yang lain kecuali Sang Maha Pencipta. Hidup ini harus dapat dijalani secara mandiri dan jangan pernah mengharap dari orang lain atau bahkan bergantung pada orang lain, pesannya.
Dia adalah cinta pertamaku yang selalu membuatku kagum dan terpana melihatnya. Dia adalah orang yang serba bisa, dari hal sepele seperti menyisir rambutku, memasak, melakukan negosiasi dengan preman hingga pejabat, membetulkan alat-alat elektronik, memodifikasi mesin, hingga menganalisa cost and benefit dari sebuah proyek, dia bisa. Sulit sepertinya mencari orang yang bisa menggantikannya. Dia sangat pintar, terlalu amat cerdas. Itulah harta paling berharga yang ia wariskan untukku (walaupun aku ini kadang tak memanfaatkannya karena aku kadang malas). Aku memang tak pernah tau IQ-nya, tapi yang pasti nilai 143-ku ini pasti hasil karunia gen-nya. Dia adalah orang yang cepat memahami suatu hal dan beradaptasi. Dia terlalu hebat untuk dibandingkan denganku. Bahkan orang yang baru pertama kali berjumpa dengannya pun dapat langsung memuja dan mengaguminya. Dia sangat hebat.
Satu hal yang terlalu amat ku kagumi darinya adalah ia tak pernah merasa kenyang apabila orang yang dikenalnya tak kenyang. Ia sangat peduli dengan sekitarnya. Ia selalu berusaha untuk berbagi pada yang membutuhkan, Bahkan, ketika di kantongnya tak ada selembar uangpun, ia berusaha berbagi dengan canda dan tawanya. Bahagia memang untuk di sampingnya. Ia juga tidak pernah berusaha menikmati hasil kerja kerasnya untuk dirinya sendiri. Ia selalu mengutamakan orang-orang yang ia cintai, termasuk aku. Berapapun uang yang ia punya, selalu dihabiskan untuk membahagiakan orang yang ia sayangi. Tak pula ia lupa untuk disisihkan yang kemudian diberikan ke sekitarnya. Hatinya terlalu bersih. Selalu berbagi dan membantu orang yang membutuhkan, bahkan ia tak pernah sekalipun mendongakkan kepalanya. Dia mengutamakan orang yang lebih membutuhkan meski ia sebenarnya juga membutuhkan. Bahkan tak pernah mendendam apabila mereka yang telah dibantu telah lupa akan kulitnya. Ia terlalu mulia, kurasa.
Apabila mereka mengatakan bahwa cinta itu buta. Aku rasa, aku tidak pernah dibuatnya buta untuk mencintainya. Aku selalu diajarkan untuk menggunakan akal dan nalarku dalam menjalani hidup ini. Ia juga sangat mengagungkan Tuhan-nya. Aku dididik keras untuk tidak melupakan kewajibanku terhadap Sang Pelindung-ku. Apabila ku bersusah, aku diajarkan untuk selalu memohon diberi kemudahan. Apabila aku sedang diberi kesenangan, aku tak boleh lupa untuk selalu bersyukur. Apabila aku sedang di tengah kegundahan, aku harus meminta-Nya diberikan petunjuk yang terbaik. Dia sangat membenci kemusyrikan dan kemunafikan yang menghancurkan agama-nya. Dia adalah orang pertama yang akan membentakku apabila aku melalaikan kewajibanku.
Cinta tanpa perselisihan, mustahil rasanya. Kasih dan sayang antara aku dan dia begitu terasa sempurna akibat tulusnya kami dan juga kerikil-kerikil kecil yang mewarnai kisah kami. Aku dan dia tak 100% sama atau 100% berbeda. Dia memiliki sifat yang keras, begitupun denganku. Terkadang, ketika salah satu dari kami tak bisa menahan diri, pasti berujung pada ngambekkan yang justru membuat pusing bundaku. Kami saling mengadu yang padahal akan selesai begitu saja di antara kami sendiri. Adu argumen dan adu pendapat selalu mewarnai malam ketika kami menonton berita malam. Politik, hukum dan ekonomi adalah topik utama perdebatan kami. Hangat atau bahkan terkadang panas hingga butuh diredakan dengan 20 tusuk sate ayam langganannya yang selalu lewat pukul 1 pagi. Sigh, peraduan ini justru lebih memunculkan tawa apabila diingat kembali, bukan kebencian.
Sudah sebulan lebih rasanya aku menjalani hidup dengan hati yang begitu kosong. Separuh jiwaku berasa hilang terbenam ikut terkubur menemani berbaringnya tubuh kakunya. Tawaku, senyumku yang terlukis di bibirku bahkan tak sanggup untuk menghibur hatiku sendiri. Dada ini terus berdetak kencang tak bernada seakan memaksa nafasku terpenggal tak beraturan. Apa yang kurasa ini lebih dari sekedar sakit hati ataupun patah hati. Aku rapuh, terlalu tak mampu untuk meneguhkan diri saat orang yang begitu amat aku sayangi dan juga mencintaiku, telah tiada.
Apabila aku ditanya, kenapa begitu lemahnya diri ini, aku akan mencoba menjawabnya, dengan bercerita tentang dia.
Tak terhitung bagiku berapa novel teenlit yang kubaca tentang romantisme. Mulai dari cinta pertama hingga cinta tak terbatas. Tapi entah kenapa aku tak pernah menemukan definisi perasaanku kepadanya di novel-novel itu. Cinta pertama-- Iya, dia adalah cinta pertamaku. Namun ia lebih dari cinta pertama. Ia adalah seseorang yang pertama kali mengajariku bagaimana untuk menyayangi dengan tulus tak mengharap balas. Seseorang yang begitu menantikan kehadiranku bahkan saat aku pun belum tau apapun tentangnya. Seseorang yang selalu siap 24 jam dalam 7 hari untuk menjagaku, melindungiku atau hanya sekedar untuk menemaniku. Tak pernah terucap sepatah alasan pun darinya apabila aku sedang memohon bantuan. Bahkan terkadang ia selalu inisiatif menyapa bertanya padaku tentang apa yang aku butuhkan.
Diriku, apabila tengah di sampingnya, seakan putri kerajaan. Bukan karena semua hal yang aku butuhkan selalu dilayani olehnya, atau juga bukan karena semua yang aku inginkan selalu dikabulkan. Aku seperti putri karena aku diperlakukan seperti putri. Aku dicintai layaknya putri yang sempurna; cantik, baik hati dan berwibawa. Aku dilindungi seperti halnya pewaris tahta yang tak boleh sama sekali lecet sesenti pun. Aku selalu dipujinya seakan putri yang telah berhasil membantu orang tuanya dalam menyelamatkan kerajaan.
Sendiri tak berarti aku dimanja. Entah apa yang telah ia doktrinkan kepadaku. Tumbuh menjadi seorang anak satu-satunya dalam keluarga yang cukup berada dan terpandang, (seolah-olah) sudah seyogyanya aku menua dengan manjaku. Nyatanya, tumbuh dengan cinta yang seluruhnya terkucurkan untukku, semua perhatian yang terjatuh padaku dan dengan seluruh pandangan mata yang tak pernah meleset sedetik pun dariku, aku justru dewasa dengan kepribadian yang serupa pula. Aku dewasa dan tak (begitu) manja. Di tengah kehidupan yang menempatkan diriku di atas roda, aku justru diajarkan untuk melihat ke bawah dan selalu membalikkan tanganku. Aku tak pernah diizinkan untuk merasa iri dengan mereka yang derajatnya melebihiku. Sebaliknya, aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur dan tak pernah lelah untuk berusaha lebih. Hebatnya, ketika tiba-tiba rodaku berputar begitu cepat dan memposisikan diriku di derajat terbawah sebuah lingkaran hidup, aku tak pernah merasa kasihan atas diriku sendiri. Saat itu, aku diajarkan bahwa bukan harta ataupun kekuasaan yang dapat membuat seseorang tersenyum, melainkan cinta dan kebersamaan yang dapat membuat hati seseorang nyaman dan bahagia. Bahkan, aku tak pernah diperbolehkan untuk meminta atau mengharap dari yang lain kecuali Sang Maha Pencipta. Hidup ini harus dapat dijalani secara mandiri dan jangan pernah mengharap dari orang lain atau bahkan bergantung pada orang lain, pesannya.
Dia adalah cinta pertamaku yang selalu membuatku kagum dan terpana melihatnya. Dia adalah orang yang serba bisa, dari hal sepele seperti menyisir rambutku, memasak, melakukan negosiasi dengan preman hingga pejabat, membetulkan alat-alat elektronik, memodifikasi mesin, hingga menganalisa cost and benefit dari sebuah proyek, dia bisa. Sulit sepertinya mencari orang yang bisa menggantikannya. Dia sangat pintar, terlalu amat cerdas. Itulah harta paling berharga yang ia wariskan untukku (walaupun aku ini kadang tak memanfaatkannya karena aku kadang malas). Aku memang tak pernah tau IQ-nya, tapi yang pasti nilai 143-ku ini pasti hasil karunia gen-nya. Dia adalah orang yang cepat memahami suatu hal dan beradaptasi. Dia terlalu hebat untuk dibandingkan denganku. Bahkan orang yang baru pertama kali berjumpa dengannya pun dapat langsung memuja dan mengaguminya. Dia sangat hebat.
Satu hal yang terlalu amat ku kagumi darinya adalah ia tak pernah merasa kenyang apabila orang yang dikenalnya tak kenyang. Ia sangat peduli dengan sekitarnya. Ia selalu berusaha untuk berbagi pada yang membutuhkan, Bahkan, ketika di kantongnya tak ada selembar uangpun, ia berusaha berbagi dengan canda dan tawanya. Bahagia memang untuk di sampingnya. Ia juga tidak pernah berusaha menikmati hasil kerja kerasnya untuk dirinya sendiri. Ia selalu mengutamakan orang-orang yang ia cintai, termasuk aku. Berapapun uang yang ia punya, selalu dihabiskan untuk membahagiakan orang yang ia sayangi. Tak pula ia lupa untuk disisihkan yang kemudian diberikan ke sekitarnya. Hatinya terlalu bersih. Selalu berbagi dan membantu orang yang membutuhkan, bahkan ia tak pernah sekalipun mendongakkan kepalanya. Dia mengutamakan orang yang lebih membutuhkan meski ia sebenarnya juga membutuhkan. Bahkan tak pernah mendendam apabila mereka yang telah dibantu telah lupa akan kulitnya. Ia terlalu mulia, kurasa.
Apabila mereka mengatakan bahwa cinta itu buta. Aku rasa, aku tidak pernah dibuatnya buta untuk mencintainya. Aku selalu diajarkan untuk menggunakan akal dan nalarku dalam menjalani hidup ini. Ia juga sangat mengagungkan Tuhan-nya. Aku dididik keras untuk tidak melupakan kewajibanku terhadap Sang Pelindung-ku. Apabila ku bersusah, aku diajarkan untuk selalu memohon diberi kemudahan. Apabila aku sedang diberi kesenangan, aku tak boleh lupa untuk selalu bersyukur. Apabila aku sedang di tengah kegundahan, aku harus meminta-Nya diberikan petunjuk yang terbaik. Dia sangat membenci kemusyrikan dan kemunafikan yang menghancurkan agama-nya. Dia adalah orang pertama yang akan membentakku apabila aku melalaikan kewajibanku.
Cinta tanpa perselisihan, mustahil rasanya. Kasih dan sayang antara aku dan dia begitu terasa sempurna akibat tulusnya kami dan juga kerikil-kerikil kecil yang mewarnai kisah kami. Aku dan dia tak 100% sama atau 100% berbeda. Dia memiliki sifat yang keras, begitupun denganku. Terkadang, ketika salah satu dari kami tak bisa menahan diri, pasti berujung pada ngambekkan yang justru membuat pusing bundaku. Kami saling mengadu yang padahal akan selesai begitu saja di antara kami sendiri. Adu argumen dan adu pendapat selalu mewarnai malam ketika kami menonton berita malam. Politik, hukum dan ekonomi adalah topik utama perdebatan kami. Hangat atau bahkan terkadang panas hingga butuh diredakan dengan 20 tusuk sate ayam langganannya yang selalu lewat pukul 1 pagi. Sigh, peraduan ini justru lebih memunculkan tawa apabila diingat kembali, bukan kebencian.
Terlalu banyak kisah yang ingin kubagi tentang dia. Dia, cinta pertamaku yang membuatku sulit untuk mencari pria sepadan lainnya untuk dicintai seperti halnya aku mencintainya. Dia, tauladanku yang menjadikan diriku pribadi seperti sekarang ini. Dia, orang yang akan selalu kucinta dan kukagumi, selalu ada dalam doaku, selalu kutangisi tiap aku rindu dan selalu tersimpan di hatiku meski raganya tak lagi berada di sampingku.
Dia..... Ayahku.
Selamat tidur yang tenang Yah. Dalam doaku, aku berharap semoga Allah mengizinkan kita berjumpa lagi di kedamaian dan sisi-Nya.
Selamat tidur yang tenang Yah. Dalam doaku, aku berharap semoga Allah mengizinkan kita berjumpa lagi di kedamaian dan sisi-Nya.
Salam rindu,
Anakmu.
Thursday, August 14, 2014
Kenapa Harus Berpura-Pura?
Kemarin, ketika aku berjalan menyusuri koridor gedung tua
itu, aku melihat sekumpulan anak-anak bermain dengan asyiknya. Hmm mungkin
mereka berjumlah sekitar 10 orang-an. Mereka tertawa dan berlarian seakan tak
peduli pada panas sinar matahari siang itu. “asik yaaa…”, seru dalam hatiku,
iri.
Lama ku duduk di kursi di koridor itu yang mengarah pada
anak-anak tadi. Entah kenapa teriknya matahari pukul 1 siang saat itu tak
terasa begitu menyengat. Bukan karena aku duduk di dalam koridor dan tengah
ikut kecipratan dinginnya AC yang
berhembus sedikt keluar dari dalam ruangan di belakangku, lebih tepat karena
perasaanku yang sejuk melihat asiknya anak-anak itu bermain.
“Kak! Kak! Kakak ini kakaknya siapa?” Tak lama kemudian ada
anak perempuan kecil dan cantik menarik-narik bajuku dengan begitu
menggemaskan.
“Kakak kok ga jawab pertanyaanku, kakak ini kakaknya siapa?”
DIa tak henti menarik-narik bajuku dan menguntel-nguntelnya.
“Aku bukan kakaknya siapa-siapa, dek. Aku di sini lagi duduk
aja nungguin temen kakak” Jawabku sambil senyum dan mengangkatnya untuk duduk
di sebelahku. Usianya masih cukup belia, sekitar 6-7 tahun.
“Wah kakak enak dong yaa ga punya adik-adik kayak kita ini,
kan kita kena penyakit yang kata orang-orang gabisa disembuhin. Kalau kakak ga
punya adik kayak kita, berarti kakak ga akan sedih-sedih kayak kakakku atau
juga ibuku.”
Penyakit
yang kata orang-orang gabisa disembuhin…
Lama ku mencerna kalimat itu, hmm mungkinkah anak-anak itu
menderita…… kanker?
“Kak tau ga”, lanjutnya, “Aku bingung deh sama orang-orang
yang di sekitarku yang bilang aku ga boleh boong ke mereka. kalau aku sakit,
katanya aku harus bilang sakit, gaboleh bilang ga sakit. Padahal kan, kalau aku
bilang aku sakit, mereka akan sedih dan bahkan nangis. Mamiku tuh kak gampang
banget nangis hehehe cengeng yaa kak ga kayak aku.” Si adik kecil ini terus
menlanjutkan ceritanya tak henti sambil terus mengayunkan kakinya yang
tergelantung karena tak sampai ke tanah.
Otakku tak berhenti berputar mendengarkan ceritanya. Ada apa sih ini?
“Ehiyaaa kakak namanya siapa? Namaku Kirana, kakak namanya
siapa?”
“Namamu bagus yaa Kirana. Namaku Agis”
“Halo kak Agis! Seneng deh ketemu kakak, aku senang ketemu
orang-orang baru soalnya hehehe”
Kirana menyengir menunjukkan giginya yang
tidak lengkap itu ke arahku. Hihi lucunya! Aku dan Kirana pun akhirnya
mengobrol-ngobrol lama. Aku menceritakan cerita-cerita lucu dan juga yang
berbau dongeng kepadanya. Kirana pun menaggapinya dengan sangat antusias dan
selalu berkata khasnya “Waah… kok bisa ya kak?” Sampai akhirnya ada bunyi tut tut tut semacam alarm dari sebuah
benda yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Kakak, Kirana balik dulu ke kamar yaa, kalau ada bunyi ini,
Kirana harus balik dan minum obat. Dadah kakak!!!” Kirana pun langsung lompat
dari kursi yang kududuki bersamanya lalu berlari riang sambil bergumam bernyanyi
menghilang dari pandanganku.
---
Hmm aku jadi terpikirkan sesuatu..
Apa salahnya sih berpura-pura?
Apa salahnya Kirana pura-pura tidak sakit agar orang-orang
yang ia sayangi tidak sedih?
Apa salahnya maminya Kirana pura-pura tidak menangis saat
anaknya sedang merintih kesakitan saat sedang menjalani terapi?
Sepertinya, berpura-pura
itu tidak sepenuhnya salah.
Lalu, apakah aku yang sering berpura-pura bahagia untuk
menutupi kesedihanku juga tidak salah?
Tujuanku tak jauh dari tujuan Kirana. Aku hanya ingin melihat
orang-orang sekitarku tidak merasakan kesedihan yang aku rasakan. Aku ingin
seperti Kirana yang menjadi pembawa ketenangan dan kesenangan untuk
orang-orang.
Jadi, kurasa tidak salah.
Friday, May 23, 2014
Aku Ada Karena Mereka
Gue kira gue adalah orang yang gabisa jatuh cinta kepada
banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Gue kira gue termasuk orang yang sulit
untuk menjatuhkan hati.
Ternyata gue salah…
Alasan dari segala alasan yang gue punya sekarang untuk
tetap semangat berlayar bersama di lautan ilmiah ialah mereka. Tujuh orang
tercinta yang tak pernah lelah menemani di tiap waktu. Pyan Gina Gigih Goldy
Eas Firda Indah. Terimakasih telah hadir dan tak henti memberikan semangat yang
mungkin kalian pun ga sadar udah selalu membuat gue berhenti mengeluh. Kenyamanan
dari segala kenyamanan yang kini gue punya adalah kalian. Terimakasih untuk
selalu sedia setiap saat untuk membantu gue di segala kepentingan dan
kesempatan.
Gue sayang kalian.
Dan yaa sesimpel itu.........
gue ada karena kalian ada.
Saturday, May 3, 2014
Malam
Malam, aku ingin cerita.
Suatu cerita yang menjadi salah satu cerita terburuk yang pernah ku alami.
Cerita tentang kebodohan diri dan gegabahnya otak dalam berpikir.
Malam itu, entah apa yang memenuhi pikiran dan seluruh tubuh ini. Aku hanya merasakan panas dan tak nyaman dengan diri ini. Dada terasa sangat sesak dan otakku terus memenuhiku dengan pikiran-pikiran buruk tak karuan. Hati ini pun tak kalah menyusahkan. Ia tak henti-hentinya berteriak terus membantah apa yang pikiranku katakan.
Buruk. Buruk sekali. Seperti kalanya mimpi berhantu di siang hari. Semua kataku, semua tingkah dan perilakuku semalam itu buruk tak ada manisnya sama sekali. Entah setan mana yang mengisi diriku. Akupun masih tak menyangka apabila kuingat kembali apa saja yang telah ku lakukan. Semua kata hina yang keluar dari mulutku, Semua maki yang terkata oleh lidahku. Semua prasangka yang terlintas di pikiranku. Semuanya seperti aib yang tak hentinya membayangiku. Tercela.
Kau tau, malam? Manusia memang diciptakan dengan akal pikiran untuk menimbang hal yang baik dan buruk. Tapi janganlah kau lupakan hati yang selalu merasa manakah yang baik dan buruk buat dirimu. Jangan seperti aku kemarin malam, yang hampir saja lupa bahwa aku masih memiliki hati yang masih setia mendenyutkan kedamaian di dalam diri, mengalirkan setiap hal positif ke setiap sudut dalam diri. Hampir saja. Untungnya, dia belum keburu mati saat itu.
Malam, apakah kamu pernah merasakan suatu rasa yang segitu dalamnya hingga kau tak tau lagi dari manakah asal rasa tersebut? Rasa itu, perasaan itu yang kemarin malam membuatku gusar tak karuan. Gelisah apabila ku mencoba menghilangkannya. Semakin ku mencoba menjauh, semakin risau pula diri ini. Entahlah, aku tak tau apa nama rasa ini. Tapi yang ku tau, rasa ini yang menyelamatkanku dari jurang dalam penuh penyesalan. Rasa ini yang kembali mengingatkanku akan memori-memori indah yang memberikan kedamaian dan kenyamanan. Rasa ini yang meredamkan segala celaku.
Aku malu, malam. Kini, aku malu terhadap diriku sendiri dan memori itu. Diri ini pun sekarang masih tak dapat bertingkah selayaknya aku yang biasa, hanya karena untuk menutupi rasa malu. Huh, sudah hina, bertambah hina lagi yaa diri ini dengan gengsiku. Tapi, aku sangat bersyukur. Rasa itu, rasa yang senantiasa hadir di dalam hatiku, telah (kembali) melindungiku dan menyadarkanku. Bahwa memang dialah yang terpenting, bukan egoku.
Suatu cerita yang menjadi salah satu cerita terburuk yang pernah ku alami.
Cerita tentang kebodohan diri dan gegabahnya otak dalam berpikir.
Malam itu, entah apa yang memenuhi pikiran dan seluruh tubuh ini. Aku hanya merasakan panas dan tak nyaman dengan diri ini. Dada terasa sangat sesak dan otakku terus memenuhiku dengan pikiran-pikiran buruk tak karuan. Hati ini pun tak kalah menyusahkan. Ia tak henti-hentinya berteriak terus membantah apa yang pikiranku katakan.
Buruk. Buruk sekali. Seperti kalanya mimpi berhantu di siang hari. Semua kataku, semua tingkah dan perilakuku semalam itu buruk tak ada manisnya sama sekali. Entah setan mana yang mengisi diriku. Akupun masih tak menyangka apabila kuingat kembali apa saja yang telah ku lakukan. Semua kata hina yang keluar dari mulutku, Semua maki yang terkata oleh lidahku. Semua prasangka yang terlintas di pikiranku. Semuanya seperti aib yang tak hentinya membayangiku. Tercela.
Kau tau, malam? Manusia memang diciptakan dengan akal pikiran untuk menimbang hal yang baik dan buruk. Tapi janganlah kau lupakan hati yang selalu merasa manakah yang baik dan buruk buat dirimu. Jangan seperti aku kemarin malam, yang hampir saja lupa bahwa aku masih memiliki hati yang masih setia mendenyutkan kedamaian di dalam diri, mengalirkan setiap hal positif ke setiap sudut dalam diri. Hampir saja. Untungnya, dia belum keburu mati saat itu.
Malam, apakah kamu pernah merasakan suatu rasa yang segitu dalamnya hingga kau tak tau lagi dari manakah asal rasa tersebut? Rasa itu, perasaan itu yang kemarin malam membuatku gusar tak karuan. Gelisah apabila ku mencoba menghilangkannya. Semakin ku mencoba menjauh, semakin risau pula diri ini. Entahlah, aku tak tau apa nama rasa ini. Tapi yang ku tau, rasa ini yang menyelamatkanku dari jurang dalam penuh penyesalan. Rasa ini yang kembali mengingatkanku akan memori-memori indah yang memberikan kedamaian dan kenyamanan. Rasa ini yang meredamkan segala celaku.
Aku malu, malam. Kini, aku malu terhadap diriku sendiri dan memori itu. Diri ini pun sekarang masih tak dapat bertingkah selayaknya aku yang biasa, hanya karena untuk menutupi rasa malu. Huh, sudah hina, bertambah hina lagi yaa diri ini dengan gengsiku. Tapi, aku sangat bersyukur. Rasa itu, rasa yang senantiasa hadir di dalam hatiku, telah (kembali) melindungiku dan menyadarkanku. Bahwa memang dialah yang terpenting, bukan egoku.
Saturday, April 5, 2014
Dialog Malam Itu
April, 2014.
Pria:
Halo Wanita, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berbincang
Wanita:
Hai Pria! Baik kabarku di sini. Ku harap kabarmu di sana tak kalah baiknya
denganku.
Pria:
Iya, ragaku baik di sini. Mungkin lebih baik daripadamu dengan melihat segala
kesibukanmu sekarang yang seakan tak punya waktu untuk memanjakan diri.
Wanita:
Haha tak separah itu.
Pria:
Tapi hatiku tidak.
Wanita:
Ohya…
Pria:
Tidakkah kau tanyakan penyebabnya padaku? Atau jangan-jangan kau sudah
mengetahuinya
Wanita:
Tiada hakku lagi mengetahui segala urusanmu.
Pria:
Ini bukan hanya tentangku…
Wanita:
….
Pria:
Ini tentang kita.
Wanita:
Aku rasa sudah ku hapuskan kosakata ‘kita’ untuk aku dan kamu.
Pria:
Jangan begitu. Segitu mudahnya kah kau melupakanku?
Wanita:
Ah kau salah menilaiku. Tiada seujung kuku pun aku melupakan kamu. Aku masih
ingat nama panjangmu, tanggal ulang tahunmu dan juga kesukaanmu.
Pria:
Lalu kenapa kamu tinggalkanku?
Wanita:
Adakah hal lain yang lebih penting yang bisa kita perbincangkan? Aku lelah,
sesuai katamu, sedikit waktuku untuk bermanja diri.
Pria:
Aku hanya belum bisa melupakan kamu dan kita wahai wanita.
Wanita:
Sudah ku bilang sebelumnya, wahai pria. Tiada hakku lagi mengurus urusanmu. Aku
sudah menghapus kata ‘kita’ antara aku dan kamu dalam kosakata hidupku. Aku
kira kamu sudah melakukannya juga. Tolong, jangan persulit hidupku. Kau sendiri
yang dahulu berkata bahwa kau bahagia melihatku kini bahagia dengannya. Jangan
kau buat hatiku merasa bersalah denganmu. Ada hati lainnya yang butuh aku jaga.
Bukan hatimu lagi. Mengertilah.
Pria:
Sadarkah kamu dengan apa yang dahulu kita bangun bersama. Kita memulainya dari
nol hingga saat itu. Aku tau tak sedikit salah yang ku perbuat padamu. Tapi
kamu pasti mengetahui seberapa besar rasa yang aku simpan untukmu. Mengapa kau
dengan mudah melepaskan ketika diri ini sudah semakin tak terpisahkan. Bisakah
kau ingat 26 bulan kebersamaan kita saat itu yang penuh canda walau tak sedikit
pula berhiaskan tangisan. Itu indah bukan? Sadarkah engkau?
Wanita:
Wahai pria yang paling bijaksana, bukan maksudku untuk meninggalkanmu kala itu.
Bukankah itu berawal dengan segala diam yang berujung kelelahan aku dan kamu
bersama? Lalu, siapakah yang bersalah di sini? Kamu dan juga aku yang salah.
Tapi bisa juga bukan aku ataupun kamu yang bersalah. Mungkin memang bukan nama
akulah yang dituliskan untukmu. Begitupun dengan aku, mungkin bukan namamu yang
dituliskan untuk bersamaku. Sudahlah, aku mohon. Jangan kau siksa dirimu
sendiri dengan memikirkan hal-hal seperti ini. Umurmu tak muda lagi, wahai
pria. Umur mapanmu siap menjemput wanita beruntung di luar sana untuk bahagia
bersamamu. Seperti jiwaku di sini yang sudah diikatkan pada jiwa lainnya atas
izin Yang Maha Kuasa. Perlu kau ketahui juga wahai pria, rasaku sekarang ini
pada seseorang yang bersamaku sekarang sangat berbeda, bukan seperti rasa-rasa
dengan yang sebelumnya. Aku yakin. Bahkan lebih yakin daripada bersamamu 26
bulan. Mengertilah.
Pria:
Kau ucapkan itu kepadaku sudah lebih dari ratusan kali selama 8 bulan terakhir
ini. Tak bosankah kau mengucapkan hal-hal yang terus menyakitiku? Aku hanya
ingin sedikit saja kau menengok padaku bukan sebagai masa lalumu, tapi
melihatku dengan kekinianku. Aku yang kini terus tumbuh walau dengan segala
rasa sakit yang menyiksa. Aku yang kini terus berusaha berkembang mengacuhkan
segala sesak di dada. Tapi kau ini sungguh keterlaluan. Bayangmu terus
membayangiku. Tak bisakah kau berhenti menghalangiku? Diri ini terus
merindukanmu.
Wanita:
Salahmu sendiri yang terus menghadirkanku di setiap langkah hidupmu. Pernah kau
bercermin dan melihat betapa kuatnya dirimu tanpa aku? Kau bisa berdiri dan
berjalan dengan gagahnya sekarang meski tiadaku di sisimu. Sadarkah kamu?
Sudahlah, jangan siksa dirimu lagi, wahai pria. Aku tak bisa berbuat atas
kerinduanmu itu. Sungguh, itu bukan salahku. Hmm baiklah, aku akan minta maaf
karena aku terus menghantuimu, kalau memang kau butuh salahku. Hanya kamu dan
hatimu yang bisa mengembalikan semua menjadi baik-baik saja. Yakinlah, kamu
bisa. Aku di sini tak dapat lagi menyebut namamu dalam doaku setiap setelah
solat. Maafkan karena ada nama lain yang kini harus terus ku ucapkan demi masa
depanku dengannya. Tapi aku di sini berharap, kau terus dijaga oleh-Nya di
dalam penantianmu itu. Semoga pula kau dapat menyembuhkan segala sakit yang kau rasa sekarang. Memintalah pada-Nya,
karena hanya Ia yang Maha Mengetahui atas segala rahasia setiap ummat-Nya.
Berhentilah meninggalkan solat, rajinlah kau kini menyebut nama-Nya dan membaca
kitab-Nya, seperti pria yang bersamaku kini. Aku sangat mengaguminya. Perempuan
akan sangat mengagumi pria seperti itu wahai pria.
Wanita:
Assalamualaikum…
Pria:
Sadarkah engkau berapa banyak goresan yang engkau hasilkan di dalam hatiku?
Setiap kali kau lukai hati ini, semakin nyata juga semua bayangan kenangan
kita. Aku tidak tau kenapa Ia mengujiku sejahat ini. Aku sungguh tersiksa di
sini. Aku rindu setiap kali ku membuka mata di setiap pagi dan hanya namamu
yang ku ingat tiap aku ingin menutup mata di malam hari. Tak pernahkah kau
sadar seberapa sering namamu ku sebut dalam doaku? Meski sekarang kau tak lagi
menolehkan wajahmu padaku, tapi aku di sini masih menantimu dengan rasa yang
masih sama. Aku harap kau mengerti. Kalau memang Tuhan telah menyediakan wanita
lainnya untukku, kenapa setiap hari rasa rindu ini semakin bertambah. Bantu aku
untuk melupakanmu. Bantu aku, untuk bertemumu dan merasakan hangatnya dirimu
(walau dengan dinginnya hatimu) terakhir kalinya. Temani aku untuk terakhir kali.
Setelah itu, aku janji akan berusaha melupakanmu dan berhenti pasrah dengan
segala sakit ini. Temani aku, menjadi pendamping kelulusan profesiku. Aku
mohon.
Pria:
Baiklah.
Pria:
Walaikumsalam.
Wahai pria yang dahulu
mengisi seluruh kehidupanku, bukan saatnya kini kau hadir kembali untuk mencoba
mencuri apa yang kini telah dimiliki orang lain. Kau tau? Aku tak
pernah berubah padamu. Aku masih adikmu,
yang akan selalu hadir ketika kamu butuh teman curhat dan ceritamu. Mengertilah.
-K.
-K.
Tuesday, April 1, 2014
Ada
Ada pesan yang tak tersampaikan ketika mulut memilih tertutup dibandingkan untuk menguraikan.
Ada kata yang tak terucap saat lidah ini diam mengkakukan diri menghindar bericap.
Ada mata yang tergenang menahan segala rasa yang menyesakkan dada.
Ada diri yang tersudutkan karena tak dapat jujur pada hati sendiri.
Ada. Ada aku.
Selamat istirahat! Aku di sini, merindukanmu.
Ada kata yang tak terucap saat lidah ini diam mengkakukan diri menghindar bericap.
Ada mata yang tergenang menahan segala rasa yang menyesakkan dada.
Ada diri yang tersudutkan karena tak dapat jujur pada hati sendiri.
Ada. Ada aku.
Selamat istirahat! Aku di sini, merindukanmu.
Monday, March 31, 2014
Tulisan Malam Hari
Wahai Tuan pengisi malam...
Tinggalkanlah sejenak setumpuk kertas di hadapanmu.
Lupakan dahulu segala urusan materimu
Cobalah engkau tengok bintang di ujung sana.
Sinarnya terang memancarkan kerinduannya padamu.
Berbincang denganmu walau sesaat, itulah yang ia inginkan.
Sapalah ia sejenak, Tuan. Kasihilah ia yang sedari tadi
menatapmu penuh kasih.
Jangan lupa Tuan, untuk menegur dinginnya malam dengan
kehangatanmu.
Bertemanlah dengannya agar kau senantiasa selalu dilindungi.
Sampaikan salamku juga pada kesunyian malam yang tengah membantumu
tak bergeming.
Walau mereka tak membalas semua sapamu, jangan khawatir Tuan.
Yakinku mereka tetap bersamamu dengan caranya mereka sendiri.
Seperti hatiku di sini, masih setia menemani jagamu, lelapmu, hingga bangunmu kembali.
Ahya, dan tentu Tuan, ada setianya doaku untukmu, agar engkau senantiasa dilindungi-Nya
hingga mentari kembali terbit menyapamu.
Yaitu ketika engkau kembali menyambutku dengan kasih dan
senyummu.
Tertanda,
Aku, Bintangmu.
Saturday, March 29, 2014
Sepenggal Kalimat.
Aku: Aku kangen... Ini sinyalnya ga ngerti banget ada orang kangen apa :(
Dia: Kalau lagi kangen, saling mendoakan biar sama Allah dijaga :)
Hatiku: Yes, of course honey. Doaku untukmu, semoga Allah terus dapat menjaga hati ini dan hatimu, cinta ini dan cintamu, dan juga hubungan aku dan kamu. Semoga Allah selalu melindungi kita berdua dan selalu mengiring kita ke jalan yang benar. Semoga Allah akan selalu memberikan yang terbaik untukku dan untukmu. Memperlancar segala urusan perbaikan diri. Aku sayang kamu and it's a bless to having you by my side. Kamu, yang ga hanya selalu mengingatkanku menjaga hati dan perilaku, tetapi juga menjaga hubungan dengan Sang Maha Pencipta. Terimakasih yaa Allah telah menghadirkannya di sisiku :)
Sabtu, 29 Maret 2014
Dia: Kalau lagi kangen, saling mendoakan biar sama Allah dijaga :)
Hatiku: Yes, of course honey. Doaku untukmu, semoga Allah terus dapat menjaga hati ini dan hatimu, cinta ini dan cintamu, dan juga hubungan aku dan kamu. Semoga Allah selalu melindungi kita berdua dan selalu mengiring kita ke jalan yang benar. Semoga Allah akan selalu memberikan yang terbaik untukku dan untukmu. Memperlancar segala urusan perbaikan diri. Aku sayang kamu and it's a bless to having you by my side. Kamu, yang ga hanya selalu mengingatkanku menjaga hati dan perilaku, tetapi juga menjaga hubungan dengan Sang Maha Pencipta. Terimakasih yaa Allah telah menghadirkannya di sisiku :)
Sabtu, 29 Maret 2014
Bolehkah Aku Mengetahuinya?
Wahai Sang Maha Melihat, Kau tau betapa sulitnya ku kembali ke dalam rumah ini. Kunci tunggal yang Kau ciptakan, harus susah payah ku menemukannya sebelum ku dapat membuka pintu ini. Kaki lemah ini sudah Kau paksakan melangkah di halaman rumah yang bebatuan panas terpapar sinar matahari. Badan ini sudah Kau perintahkan untuk berpeluh keringat. Hati yang rapuh ini bahkan sudah Kau uji untuk patah di awal pencarian.
Wahai Sang Maha Mendengar. Doa dan inginku tak bosan-bosan ku ucapkan pada-Mu. Satu dua kalimatku pun mulai Kau dengar dan wujudkan. Tapi tak sedikit pula kata yang Kau acuhkan.
Wahai Sang Maha Mengetahui. Aku tahu Kau telah mempersiapkan hal yang baik dan indah untuk segala perjuanganku yang cukup berat di awal ini. Kau pun telah menjanjikan bahwa tak ada usaha manusia-Mu di dunia ini yang sia-sia. Tapi, bolehkah aku sedikit mengintip apa yang telah Kau tuliskan untukku? Bolehkah aku mengetahuinya? Aku hanya penasaran. Apakah perjuanganku sudah cukup pantas mendapatkan janji-Mu itu? Atau ini hanya sekadar kesombonganku atas segala nikmat-Mu?
Wahai Sang Maha Mendengar. Doa dan inginku tak bosan-bosan ku ucapkan pada-Mu. Satu dua kalimatku pun mulai Kau dengar dan wujudkan. Tapi tak sedikit pula kata yang Kau acuhkan.
Wahai Sang Maha Mengetahui. Aku tahu Kau telah mempersiapkan hal yang baik dan indah untuk segala perjuanganku yang cukup berat di awal ini. Kau pun telah menjanjikan bahwa tak ada usaha manusia-Mu di dunia ini yang sia-sia. Tapi, bolehkah aku sedikit mengintip apa yang telah Kau tuliskan untukku? Bolehkah aku mengetahuinya? Aku hanya penasaran. Apakah perjuanganku sudah cukup pantas mendapatkan janji-Mu itu? Atau ini hanya sekadar kesombonganku atas segala nikmat-Mu?
Wednesday, March 5, 2014
Sunday, February 23, 2014
Hatiku Merindu...
Time goes by fast. People
come in and out of our life so quickly…
Air mata ini mulai berlinang ketika aku baru saja memulai
ketukan pertama jariku. Semua kenangan terlintas satu demi satu memenuhi
pikiran. Diri ini pun mulai terbang mendalami segala memori yang pernah
terlewati. Dan hati ini pun mulai merindu.
Cinta yang kau tawarkan berbeda dengan cinta-cinta yang
pernah ku temui sebelumnya. Kau ajarkan aku bagaimana mencintai sesuatu hal yang tidak tampak, bahkan aku pun tak yakin bahwa sesuatu hal tersebut menyadari bahwa ia dicintai. Kau tawarkan aku sebuah rumah yang sangat nyaman untuk ku
berlindung. Kau juga lah yang menawarkanku sebuah keluarga yang tak hanya saling mencinta, tapi juga saling mendukung
satu sama lain.
Pertemuan pertama kita masih terasa hambar. Masing-masing
dari kita masih mencari arti kehadiran diri di dalam ruang ini. Sibuk dengan
pikiran dan niat masing-masing. Sibuk dengan mencari kesibukkan di hape masing-masing.
Tak lama kemudian, kita langsung dihadapi dengan pekerjaan-pekerjaan yang datang menumpuk
silih berganti yang seakan tak mengizinkan kita untuk menghela nafas sejenak. Bahkan, waktupun tak menyisihkan dirinya untuk
kita bersenang-senang bersama tanpa pekerjaan
dengan teambuilding bersama. Tapi faktanya
apa? Kau selalu mengajarkanku untuk mencari kebahagiaan kita dengan cara kita
sendiri. Ikatan ini, rasa saling mencinta ini pun semakin lama semakin terjalin
kuat yang justeru dikarenakan oleh tugas-tugas yang berlimpah itu. Kau selalu
menghadirkan tawa dan canda di tengah pekerjaan
tersebut. Lelah? Iya, aku sangat lelah. Aku sangat lelah karena terlalu
banyak keceriaan yang kau berikan. Bahkan, di tengah kelabakan dan kepanikan
pun, kau tak pernah berhenti menghiburku dan membuatku lupa akan semua sakit yang kurasa. Hanya kebahagiaan
yang aku temui saat kita bersama.
Ah! Aku ingat satu hal. Kau sempat membuat hatiku patah. Kau
ingat? Saat kau memutuskan aku untuk menanggungjawabin sesuatu pekerjaan yang bahkan (mungkin kau telah) mengetahuinya
bahwa aku berharap lebih pada sesuatu
pekerjaan tersebut. Jujur, aku sangat sedih dan sempat terpuruk. Tapi
kembali lagi, entah dengan sihir apa yang kau punya, kau selalu berhasil
membuatku bangkit dan tersenyum kembali. Seakan kau tak pernah mengizinkanku
untuk tersungkur.
To my beloved Keluarga
Keilmuan BEM FEUI 2013…
Kalian adalah bagian yang paling gue highlight sepanjang
perjalanan gue di 2013 lalu. Kalian adalah bagian terbesar yang memenuhi memori
gue tentang tahun 2013. Terima kasih karena telah hadir menjadi bagian dari
perjalanan hidup gue dan terima kasih telah mengizinkan gue untuk menjadi
bagian dari kalian.
Untuk kak Danang… Untuk kadept gue yang paling ahli dalam
gagal pencitraan. Terimakasih karena selalu sabar menghadapi kemanjaan gue hehe.
Lo adalah pimpinan terunik yang pernah gue temui hahaha. Lo selalu bisa
memposisikan diri lo dalam setiap situasi yang sedang dihadapi. Di kala sibuk,
lo selalu bisa menjadi pencair dengan selalu menjaga ritme kerja anak-anak lo. Di
kala rapat, lo bisa serius (yaa walau kadang ada selingan kekonyolan lo) yang
membuat rapat berjalan lancar. Di kala santai-santai, yaa keahlian lo ngelawak
udah ga usah gue komenin lah yaa hahaha. Terimakasih juga lo selalu sabar dan
menahan marah lo ke anak-anak lo. Terimakasih telah mengajarkan banyak hal ke
kita dan terimakasih telah banyak berusaha untuk menyembunyikan kelelahan lo di
depan kita.
Untuk kak Windy… Untuk wakadept dan ibu gue yang paling sering dikatain gabut sama suaminya sendiri. Lo itu orang terunyu yang pernah gue temuin hehe.
Pembawaan lo tuh selalu penuh kasih sayang ke siapapun dan dalam kondisi
apapun. Lo selalu membuat gue merasa gue punya tempat bersandar ketika gue ada
kesulitan. Terima kasih telah menjadi ibu
yang baik untuk anak-anaknya yaa kak. Terimakasih juga selalu sabar untuk
dibully sama anak-anaknya sendiri. Terimakasih udah menjadi reminder setia gue dalam setiap apapun
yang gue kerjain. Terimakasih karena selalu mengerti setiap keadaan gue dan tempat
curhat gue. Terimakasih kakwind J
Untuk kakakWil yang super ganteng dan super kalem. Terimakasih
untuk setiap kejayusan yang dihadirkan di setiap kumpul-kumpul kita. Terimakasih
juga telah setia menjadi supir pribadi Keilmuan. Terimakasih untuk
segala kepolosan yang membuat kita (malah jahat) ngetawain lo. Terimakasih juga atas segala perhatian yang
lo berikan di balik segala kekaleman dan se-sok-cool-an lo hehehe. Ahya,
terutama terimakasih karena telah menyumbangkan kegantengannya sebagai penetral
dan penerang di tengah kembar
danang-pyan hahaha.
Untuk Miqdad yang super unyu sebenernya tapi kadang suka
bingung sendiri. Terimakasih telah melengkapi gue menjadi PJ Quiz. Terimakasih
selalu hadir dan menempatkan Keilmuan di urutan pertama walau di tengah segala
kesibukkan lo. Terimakasih karena selalu berhasil menenangkan gue di setiap
kepanikan gue dengan berkata “Elaah… selo gis!” hahaha, makasih Miqdad
Untuk Mufida yang super cerewet tapi super perhatian. Terimakasih
telah menjadi ice breaker di
Keilmuan. Terimakasih dengan segala kecerewetan lo dan keberisikan lo selalu
berhasil nambah dosa (karena ngecengin orang mulu) dan mengisi tawa di
Keilmuan. Terimakasih juga telah menjadi tempat curhat gue yang paling seru
kalau tentang cinta2an. Terimakasih juga untuk segala kekreatifan dan
kecerdasan lo dalam mengatasi permasalahan-permasalahan di Keilmuan.
Untuk Abidah.. Untuk Abidah, cewek yang paling kuat dan
teguh pendiriannya. Untuk teman yang selalu setia untuk gue isengin, untuk
teman yang selalu membuat gue nyaman ketika adanya di samping gue, untuk teman
yang paling enak diajak diskusi mengenai apapun terutama pelajaran, gue sayang
lo. Terimakasih telah menjadi teman berjuang gue selama setahun kemarin. Terimakasih
juga telah berjuang untuk cinta lo. Apapun yang telah lo perjuangin, karena
disebabkan oleh cinta, semua tak akan sia-sia. Semua orang tau besarnya cinta
lo, gitu pun dengan gue. Jujur, saat menulis part khusus lo ini tangan gue
gemetar dan hati ini bergetar, tangis gue tak terbendung. Kita ga pernah
berhasil ngomong serius berdua mengenai hal
ini, tapi entah bagaimana caranya, seakan kita sudah saling memahami satu
sama lain kalau kita sudah tau isi hati masing (walaupun gue yakin, ini ga
sepenuhnya kita memahami). Abidah, terimakasih telah dengan kesungguhan hati
untuk memperjuangkan cinta lo. Bid, gue di sini bukan atas nama diri gue, gue
di sini berdiri juga karena ada cinta dan kesungguhan hati lo, dan juga
anak-anak Keilmuan lainnya yang memperkuat kepercayaan gue akan diri ini bahwa
mampu untuk bisa menjaga amanah yang telah diberikan dan kaki ini mampu
berjalan hingga akhir nanti. Terimakasih tak hingga untuk lo, Abidah Rahmah J
Untuk Pyan, untuk Pyan, seseorang yang misterius walau
sedikit-sedikit gue sudah mulai memahami lo, untuk partner terkece gue yang
sangat memiliki kepribadian yang kuar dan banyak dikagumi banyak orang. Pyan,
kebersamaan kita mungkin ga hanya diawali oleh Keilmuan, tapi Keilmuan yang sudah
membuat kita semakin dekat. Terimakasih atas segala ketidakseganan lo terhadap
gue. Terimakasih atas segala kesabaran dan keunyuan lo. Dan yang paling
terpenting, terimakasih atas segala kepercayan lo ke gue. Kita mengawali ini
dengan cukup rumit Yan, dimana kita harus berperang dengan diri dan hati kita
masing-masing. Dimana sebuah keputusan sulit untuk diambil karena hati dan
pikiran pun sudah tak dapat tersinkron. Lo, gue, melewati segala kegundahan
dengan sakit yang cukup menyiksa. Bahkan hingga sekarang. Tapi gue yakin, kita
mampu melanjutkan amanah ini dengan baik, kita mampu mewujudkan cita-cita kita
dan mereka dengan indah, dan gue yakin kita mampu menjalani segala rintangan
dan cobaan di depan dengan cinta mereka terutama cintanya. Terimakasih yang tak hingga pula untuk lo, Pyan Putro Surya
Amin Muchtar.
Friday, January 3, 2014
Maafkan
Tubuh ini berjalan gontai menyusuri jalan. Jiwaku telah
melayang entah kemana. Hati dan pikiranku telah lama meninggalkan tubuh yang
menyedihkan ini. Tak ada lagi akal sehat yang menemani. Kini aku hanya sendiri,
bersama tubuh yang hampa ini.
Sepi sekali jalan ini, hanya ada aku dan tumpukkan dedaunan
yang gugur berserakan. Air mataku tak henti-hentinya bergulir membasahi pipi. Isakkanku
seakan mengisi kesunyian jalan ini. Yaa Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Inikah
karma bagiku yang telah mengabaikan segala nikmat-Mu?
Kau hadirkan cinta di dalam hatiku. Kau hadirkan pula kekasih
yang tepat untuk kucintai. Kau berikan aku hatinya yang nyaman untuk ku
singgahi, pundaknya yang menenangkan, senyumannya yang menyejukkan, pelukannya
yang menghangatkan, jiwanya yang memberiku rasa aman, ucapannya yang memberikan
kedamaian, belaiannya yang penuh kasih sayang dan juga kesungguhan hatinya yang
meyakinkan.
Lalu aku? Aku… Aku…..
Ah, maafkan aku yang tidak sempurna. Mungkin cinta ini sempurna hanya untukmu,
tetapi perilaku masih jauh dari sempurna.
Maafkan diriku yang hina ini karena telah mengecewakanmu. Aku
telah melumpuhkan segala pengharapan kita di masa depan. Maafkan aku yang
membuatmu geram karena ulahku. Maafkan aku.
Entah apa yang harus ku lakukan untuk mengubah ini semua. Aku hanya punya cinta yang memang selalu ada untukmu. Aku hanya punya cinta yang tulus untukmu. Cinta yang tidak menuntut apapun darimu. Cinta yang (semoga) dapat selalu setia menemani hari-harimu.
Kasih, Masih adakah ruang untukku di hatimu? Masih adakah maaf dan pengharapan bagiku?
- Kirana -
Sunday, December 1, 2013
Another Miracle :)
Tiada malam lebih indah dari malam ini.
Mungkin ada , tapi yang kutau dan ku
ingat sekarang adalah… Malam ini begitu indah.
Terimakasih Tuhan kau telah
memberikan kembali kesempatan-Mu itu.
Kau sungguh baik, Kau sungguh
pemurah
Hingga diri ini terkadang merasa
malu untuk terus mendapat rahmat-Mu.
Rasa syukur terus-terusan kami
panjatkan pada-Mu.
Janjipun kami ucapkan demi
kebaikan-Mu untuk kami
Doa juga tak lupa kami terus
panjatkan.
Kami hanya ingin ridho-Mu dan
berkah-Mu.
Yaa Allah, Engkau Maha Tahu apa yang
ada di dalam hati tiap-tiap hamba-Mu
Aku benar-benar kehabisan kata untuk
menyampaikan
Betapa besarnya rasa syukurku
pada-Mu.
Hanya tangisan syukur dan senyuman
lah yang bisa ku lakukan sekarang.
Hanya dua hal itu yang dapat
menjelaskan semuanya.
Betapa besarnya rasa
syukurku pada-Mu
Sunday, November 17, 2013
Aku Rindu Padamu (Mereka)
Halo kawan, apa kabar dirimu di sana? Hmm sudah lama kita tidak berbincang yaa... Iya sih kita sering berbincang lewat Whatsapp ataupun BBM selama ini, tapi bukan mengobrol seperti itu yang ku maksud. Berbincang langsung, bertatap muka yang ku rindu. Membaca gaya tubuh saat kau uraikan kisahmu lah yang ku rindukan. Melihat matamu yang selalu menggambarkan suasana hatimu lah yang ku inginkan. Serta ekspresi mukamu yang penuh dengan arti yang selalu ingin ku lihat. Yaa walaupun rautmu itu seringkali berbicara hati yang sedang gundah gulana.
Hahaha, iya masih jelas di ingatanku, bagaimana dulu kamu tiap hari berkeluh kesah padaku mengenai satu perempuan yang telah membuatmu terjatuh dan terpenjara dan seakan kau tidak dapat lagi keluar dari hatinya. Bagaimana? Bagaimana perasaanmu sekarang kepadanya? Ahya aku tau jawabannya, karena kau baru saja ceritakan tentangnya kepadaku. Senang adalah ketika aku masih menjadi orang terpercayamu untuk menceritakan hal mengenainya. Namun, terkadang, gurauan dan canda di tengah obrolan kawat kita itu terasa hampa. Kosong karena yang kulihat hanya tulisan dan emoticon-emoticon, bukan muka layumu yang biasa kau munculkan ketika kau bercerita tentangnya. Kau adalah orang yang paling manut dan paling ga rasional mengenai hati hahaha padahal kau yang terpintar. Bahkan mengenai hatiku saja, kau tidak dapat melihatnya dengan waras. Hingga aku pun tertular ketidakwarasanmu itu ketika berhubungan dengannya. Namun kamu, tetap menjadi pengingat yang terbaik di tengah ketidakrasionalanmu itu. Kamu yang baru saja mengobrol tidak langsung denganku, ada apa? Apabila ada kisah yang ingin kau bagi, aku masih sama seperti dulu, aku masih temanmu yang siap mendengar segala ceritamu. Bahkan, seperti katamu, aku siap untuk menjadi orang yang selalu mengerti kamu.
Ahya, kalau kamu, iya kamu, apa kabar? Hmm kamu yang sekarang tampaknya sudah sangat sibuk sekali dengan kegiatan-kegiatan kampusmu, sampai-sampai seperti sudah tak ada waktu lagi untukku. Padahal dulu, setiap canda dan tangismu, kau bagi kepadaku. Yaa walaupun lebih sering harus ku tanya terlebih dahulu karena kamu yang terlalu kaku untuk bercerita. Hmm aku teringat, yaa hebat yaa 2 wanita itu berhasil menembus tembok hatimu yang dingin hingga akhirnya kau bingung sendiri dan tak bisa memilihnya. Aku masih ingat sekali kisah-kisahmu dengan mereka. Aku juga tak lupa kisahmu dengan kisahku. Ketika kita tersadar bahwa kita sebenarnya pernah saling terjatuh satu sama lain tanpa kita sadari. Kita terlalu nyaman dengan keakraban dan kehangatan itu hingga kita tak mengerti bahwa dahulu rasa itu ternyata lebih dari sekadar kata 'teman'. Kesadaran yang kita temui pun di waktu yang berbeda. Hmm, mungkin itu yang terbaik. Apa kata dunia apabila dirimu ada kisah dengan 3 orang sekaligus (apabila ditambah diriku) yang mereka bertiga juga temenan. Hahaha. Senang juga rasanya bisa menembus dinginnya hatimu dulu, baik sebagai teman ataupun sebagai................ Ah sudahlah. Hmm aku baru mengerti, pantas saja dahulu kamu marah besar ketika ku lanjutkan hubunganku dengan dengannya waktu itu. Pantas saja kau telepon aku dan marah-marah hingga sukses membuatku menangis semalaman. Pantas..... Tapi kenapa kamu tidak ingat bahwa kau pernah marah padaku yaa?? Hmm yasudahlah. Lalu sekarang, apa hatimu masih sedingin dulu? Apa kabar teman?
Lalu kalau kamu yang kini sedang asik belajar, apa kabar? Bagaimana dengan pacarmu itu? Hmm sekarang sudah hampir 3 tahun kah? Aku tak ingat betul kapan kau mulai berpacaran dengannya, yang ku ingat adalah semenjak dengannya, kau berhenti melirik ke sana sini. Iya iyaaa aku masih ingat kebiasaanmu itu. Mungkin stok cinta di hati kamu berlebihan yaa hingga kau selalu merasa tidak puas dan selalu melihat perempuan lainnya walau kau tau di sampingmu telah ada orang lain. Hahahaha tapi semenjak dengannya, kau berubah yaa. Lebih rajin dan lebih giat melakukan aktivitas dan yang paling utama sih, kau mulai mengerti bahwa perempuan di sampingmu itu sudah lebih dari cukup. Aku turut bahagia mendengarnya. Kita sudah lama tak berbincang kawan. Sudah lama sekali. Ku harap kau sehat dan baik-baik aja yaa di sana. Ahyaaa, dan langgeng-langgeng yaa sama dia.
Kamu! Yaaa aku hampir lupa sama kamu. Hahaha ga deh, kamu tak pernah ku lupakan. Kamu yang selalu merasa dirinya setia dengan menunggu cinta sejati dari perempuan itu hingga bertahun-tahun hanya karena kau tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh namun kau yakin bahwa jodohmu adalah dia. Masih ku ingat kisah-kisahmu tiap akhir minggu melalui telpon mengenai bagaimana perkembangan hubungan kalian. Iyaa, telpon-telpon yang menyebabkan kau sempat terjatuh pula padaku, yang justeru dahulu sempat membuat kita (sangat) jauh karena adanya percampuran rasa di dirimu. Aku masih ingat bagaimana pengakuanmu mengenai rasamu padaku dan rasamu padanya, yang membuatku hanya bisa diam dan marah padamu lalu kau berbalik marah padaku. Hingga akhirnya kita kembali pada titik bahwa kita saling membutuhkan dan kau tau bahwa kebutuhan itu pun hanya sekadar sahabat, tak lebih. Sudah lama sekali kau tidak kisahkan mengenai perempuan itu, yang telah membuatmu jatuh dan tak dapat ke lain hati. Aku rindu omelanmu mengenai sikapku yang terlalu berlebihan ke teman-teman cowok. Ku rindu perdebatan kita mengenai sikapku yang menurutmu telah memberi harapan berlebih ke cowok-cowok, padahal aku merasa itu biasa aja. Aku rindu segala nasihatmu terutama mengenai menghadapi cowok-cowok itu. Aku rindu kamu, teman.
Huuuh.... Hampir lega menulis semua kegundahan dan kerinduan hati ini untuk kalian. Aku ingin sekali bertemu kalian, memeluk erat kalian seakan tak terpisah lagi, mengobrol hangat seperti layaknya tak ada waktu yang memisahkan dan berbagi kisah seperti tak ada lagi batas antara kita. Aku rindu kalian, sungguh.
17 November 2013, 11 pm
Ditulis dengan perasaan sangat rindu kepada para sahabat dan dengan mata yang berlinang menahan rasa yang menyeruak dari hati,
-Gisty Ajeng Septami-
Hahaha, iya masih jelas di ingatanku, bagaimana dulu kamu tiap hari berkeluh kesah padaku mengenai satu perempuan yang telah membuatmu terjatuh dan terpenjara dan seakan kau tidak dapat lagi keluar dari hatinya. Bagaimana? Bagaimana perasaanmu sekarang kepadanya? Ahya aku tau jawabannya, karena kau baru saja ceritakan tentangnya kepadaku. Senang adalah ketika aku masih menjadi orang terpercayamu untuk menceritakan hal mengenainya. Namun, terkadang, gurauan dan canda di tengah obrolan kawat kita itu terasa hampa. Kosong karena yang kulihat hanya tulisan dan emoticon-emoticon, bukan muka layumu yang biasa kau munculkan ketika kau bercerita tentangnya. Kau adalah orang yang paling manut dan paling ga rasional mengenai hati hahaha padahal kau yang terpintar. Bahkan mengenai hatiku saja, kau tidak dapat melihatnya dengan waras. Hingga aku pun tertular ketidakwarasanmu itu ketika berhubungan dengannya. Namun kamu, tetap menjadi pengingat yang terbaik di tengah ketidakrasionalanmu itu. Kamu yang baru saja mengobrol tidak langsung denganku, ada apa? Apabila ada kisah yang ingin kau bagi, aku masih sama seperti dulu, aku masih temanmu yang siap mendengar segala ceritamu. Bahkan, seperti katamu, aku siap untuk menjadi orang yang selalu mengerti kamu.
Ahya, kalau kamu, iya kamu, apa kabar? Hmm kamu yang sekarang tampaknya sudah sangat sibuk sekali dengan kegiatan-kegiatan kampusmu, sampai-sampai seperti sudah tak ada waktu lagi untukku. Padahal dulu, setiap canda dan tangismu, kau bagi kepadaku. Yaa walaupun lebih sering harus ku tanya terlebih dahulu karena kamu yang terlalu kaku untuk bercerita. Hmm aku teringat, yaa hebat yaa 2 wanita itu berhasil menembus tembok hatimu yang dingin hingga akhirnya kau bingung sendiri dan tak bisa memilihnya. Aku masih ingat sekali kisah-kisahmu dengan mereka. Aku juga tak lupa kisahmu dengan kisahku. Ketika kita tersadar bahwa kita sebenarnya pernah saling terjatuh satu sama lain tanpa kita sadari. Kita terlalu nyaman dengan keakraban dan kehangatan itu hingga kita tak mengerti bahwa dahulu rasa itu ternyata lebih dari sekadar kata 'teman'. Kesadaran yang kita temui pun di waktu yang berbeda. Hmm, mungkin itu yang terbaik. Apa kata dunia apabila dirimu ada kisah dengan 3 orang sekaligus (apabila ditambah diriku) yang mereka bertiga juga temenan. Hahaha. Senang juga rasanya bisa menembus dinginnya hatimu dulu, baik sebagai teman ataupun sebagai................ Ah sudahlah. Hmm aku baru mengerti, pantas saja dahulu kamu marah besar ketika ku lanjutkan hubunganku dengan dengannya waktu itu. Pantas saja kau telepon aku dan marah-marah hingga sukses membuatku menangis semalaman. Pantas..... Tapi kenapa kamu tidak ingat bahwa kau pernah marah padaku yaa?? Hmm yasudahlah. Lalu sekarang, apa hatimu masih sedingin dulu? Apa kabar teman?
Lalu kalau kamu yang kini sedang asik belajar, apa kabar? Bagaimana dengan pacarmu itu? Hmm sekarang sudah hampir 3 tahun kah? Aku tak ingat betul kapan kau mulai berpacaran dengannya, yang ku ingat adalah semenjak dengannya, kau berhenti melirik ke sana sini. Iya iyaaa aku masih ingat kebiasaanmu itu. Mungkin stok cinta di hati kamu berlebihan yaa hingga kau selalu merasa tidak puas dan selalu melihat perempuan lainnya walau kau tau di sampingmu telah ada orang lain. Hahahaha tapi semenjak dengannya, kau berubah yaa. Lebih rajin dan lebih giat melakukan aktivitas dan yang paling utama sih, kau mulai mengerti bahwa perempuan di sampingmu itu sudah lebih dari cukup. Aku turut bahagia mendengarnya. Kita sudah lama tak berbincang kawan. Sudah lama sekali. Ku harap kau sehat dan baik-baik aja yaa di sana. Ahyaaa, dan langgeng-langgeng yaa sama dia.
Kamu! Yaaa aku hampir lupa sama kamu. Hahaha ga deh, kamu tak pernah ku lupakan. Kamu yang selalu merasa dirinya setia dengan menunggu cinta sejati dari perempuan itu hingga bertahun-tahun hanya karena kau tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh namun kau yakin bahwa jodohmu adalah dia. Masih ku ingat kisah-kisahmu tiap akhir minggu melalui telpon mengenai bagaimana perkembangan hubungan kalian. Iyaa, telpon-telpon yang menyebabkan kau sempat terjatuh pula padaku, yang justeru dahulu sempat membuat kita (sangat) jauh karena adanya percampuran rasa di dirimu. Aku masih ingat bagaimana pengakuanmu mengenai rasamu padaku dan rasamu padanya, yang membuatku hanya bisa diam dan marah padamu lalu kau berbalik marah padaku. Hingga akhirnya kita kembali pada titik bahwa kita saling membutuhkan dan kau tau bahwa kebutuhan itu pun hanya sekadar sahabat, tak lebih. Sudah lama sekali kau tidak kisahkan mengenai perempuan itu, yang telah membuatmu jatuh dan tak dapat ke lain hati. Aku rindu omelanmu mengenai sikapku yang terlalu berlebihan ke teman-teman cowok. Ku rindu perdebatan kita mengenai sikapku yang menurutmu telah memberi harapan berlebih ke cowok-cowok, padahal aku merasa itu biasa aja. Aku rindu segala nasihatmu terutama mengenai menghadapi cowok-cowok itu. Aku rindu kamu, teman.
Huuuh.... Hampir lega menulis semua kegundahan dan kerinduan hati ini untuk kalian. Aku ingin sekali bertemu kalian, memeluk erat kalian seakan tak terpisah lagi, mengobrol hangat seperti layaknya tak ada waktu yang memisahkan dan berbagi kisah seperti tak ada lagi batas antara kita. Aku rindu kalian, sungguh.
17 November 2013, 11 pm
Ditulis dengan perasaan sangat rindu kepada para sahabat dan dengan mata yang berlinang menahan rasa yang menyeruak dari hati,
-Gisty Ajeng Septami-
Monday, November 4, 2013
Selamat Malam :)
Malam, ku tak tau harus memulai kisahku dari mana.
Kisah yang cukup mengejutkan dan menyakitkan selama dua hari ke belakang.
Bukan tentang sebab dan akibat dari kisah itu.
Tapi lebih ke proses pendewasaan diri ini menghadapinya.
Jujur, ini bukan kali pertama ku hadapi situasi seperti kemarin.
Aku sudah beberapa kali mengalaminya.
Tapi yang berbeda adalah, orang serta waktunya.
Tapi yang berbeda adalah, kini ku bersama orang yang lebih dewasa pemikirannya dan juga waktu yang memaksaku untuk lebih dewasa.
Tekad dan komitmen pada kata 'Iya' yang kuucapkan 28 Agustus lalu seperti menjadi sebuah kekuatan di kala diri ini sudah kehilangan asa.
Ku tengok kembali hati yang mulai meragu, apakah ini masih dapat ku lanjutkan.
Kembali, kata 'iya' tanggal 28 Agustus lalu benar-benar menjadi sihir bagiku.
Tuhan, masih adakah harapan apabila ku andalkan serpihan kekuatan kata 'iya' ku tersebut?
Kesempatan kedua......
Tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil sesuai dengan usaha tersebut.
Banyak orang sih yang bilang seperti itu.
Aku pun meyakininya.
Berandalkan keyakinan akan impian di masa depan, ku kerahkan usahaku untuk mempertahankan komitmen yang sudah ada.
Hingga akhirnya, kesempatan kedua pun teraih.
Tuhan, terimakasih atas kesempatan kedua ini.
Kesempatan kedua dapat dikatakan kesempatan terakhir, itu menurut kamusku.
Memahami apa yang kuyakini tersebut, ku berjanji tak akan menyiakannya.
Bimbing aku selalu untuk selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang Kau berikan.
Ridhoi aku selalu dalam setiap langkah ini.
Dan jangan biarkan ku terlena dalam kesempatan kedua ini.
Malam, terimakasih untuk mendengar kicauanku di tengah malam ini.
Ku tau meski ku hanya menulisnya tersirat, tapi aku yakin kau memahaminya.
Ku yakin saat membaca ini, banyak kata aamiin yang kau ucapkan untuk setiap doaku.
Dan ku yakin, ini bukan terakhir kalinya kau menemaniku dalam setiap kegundahan hati ini kan?
Selamat malam :)
Kisah yang cukup mengejutkan dan menyakitkan selama dua hari ke belakang.
Bukan tentang sebab dan akibat dari kisah itu.
Tapi lebih ke proses pendewasaan diri ini menghadapinya.
Jujur, ini bukan kali pertama ku hadapi situasi seperti kemarin.
Aku sudah beberapa kali mengalaminya.
Tapi yang berbeda adalah, orang serta waktunya.
Tapi yang berbeda adalah, kini ku bersama orang yang lebih dewasa pemikirannya dan juga waktu yang memaksaku untuk lebih dewasa.
Tekad dan komitmen pada kata 'Iya' yang kuucapkan 28 Agustus lalu seperti menjadi sebuah kekuatan di kala diri ini sudah kehilangan asa.
Ku tengok kembali hati yang mulai meragu, apakah ini masih dapat ku lanjutkan.
Kembali, kata 'iya' tanggal 28 Agustus lalu benar-benar menjadi sihir bagiku.
Tuhan, masih adakah harapan apabila ku andalkan serpihan kekuatan kata 'iya' ku tersebut?
Kesempatan kedua......
Tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil sesuai dengan usaha tersebut.
Banyak orang sih yang bilang seperti itu.
Aku pun meyakininya.
Berandalkan keyakinan akan impian di masa depan, ku kerahkan usahaku untuk mempertahankan komitmen yang sudah ada.
Hingga akhirnya, kesempatan kedua pun teraih.
Tuhan, terimakasih atas kesempatan kedua ini.
Kesempatan kedua dapat dikatakan kesempatan terakhir, itu menurut kamusku.
Memahami apa yang kuyakini tersebut, ku berjanji tak akan menyiakannya.
Bimbing aku selalu untuk selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang Kau berikan.
Ridhoi aku selalu dalam setiap langkah ini.
Dan jangan biarkan ku terlena dalam kesempatan kedua ini.
Malam, terimakasih untuk mendengar kicauanku di tengah malam ini.
Ku tau meski ku hanya menulisnya tersirat, tapi aku yakin kau memahaminya.
Ku yakin saat membaca ini, banyak kata aamiin yang kau ucapkan untuk setiap doaku.
Dan ku yakin, ini bukan terakhir kalinya kau menemaniku dalam setiap kegundahan hati ini kan?
Selamat malam :)
Friday, October 18, 2013
(Re-Blog) Apa Kabar?
Kamu, tujuh-tahun-mendatangku,
Ah, lama, ya, tak bincang lewat kata. Kabar baikkah?
Ya, tertawa saja jika kutanya kabar. Tak apa pula, bukan, jika kini tak tahu-menahu kabar? Toh, romantis bukan bisikkan kabar tiap saat, cukup saling pinta dalam diam agar dijadikan satu saat siap nanti. Namun, tetap saja terus kuharap primamu di setiap waktu.Baik-baik, kumohon.
Kamu, yang ternyata-mungkin-lebih-atau-bahkan-kurang-dari-tujuh-tahun-mendatangku,
Bagaimana kau lewati harimu? Bagaimana usaha gapai (aku yang) masa depanmu? Berat, ya? Tak pernah ada yang katakan itu akan mudah jika perihal yang mendatang. Namun, ingat, yang mendatang menanti. Jangan pernah nikmati tiap jatuhmu. Terus berjuang, kumohon.
Bayangan tentang yang mendatang jadikan saja semangatmu.
Miliki selalu pelukan di tengah hingar bingar perseteruan isi pikiran.
Miliki selalu genggam yang menguatkan, bukan melepaskan.
Miliki selalu hati yang mengerti, tidak memaksakan.
Miliki selalu dekap yang tak pernah membiarkan, tapi mengiringi sampai tujuan.
Pun ingat, miliki selalu senyum yang menjadi hangat sekaligus sejuk.
Saling memenangkan. Saling menyelamatkan.
Masa yang menyenangkan. Masa yang menenangkan. (Amien)
.....
Maaf, tadi kau bergumam apa? Aku sendiri bagaimana?
Pun di sini sama: tak mudah. Namun, entah, manjakan lelah juga jenuhku tak pernah lebih menggiurkan dari perjuangkan masa depanku (yang ada kamu).
Kerahkan seluruh kemampuan 'tuk cipta kemampuan yang lebih pantas.
Biarkan dulu saja lah aku. Semuanya untukmu, tahukah?
Murni bukan untukku berbangga, melainkan untukmu berbangga, setelah orangtuaku. Karena sungguhlah, kemampuan sebenarnya bukan ajang perempuan (sepertiku) untuk menyombongkan diri, tapi 'tuk menggandeng tangan laki-laki(ku) agar tak kerepotan sendiri. Karena masa depan sudah tentang dua orang, bukan?
Mengerti, ya, kumohon.
Akhlakku masih jauh dari sempurna, lalu bagaimana bisa aku dipilih Tuhan 'tuk jadi pendampingmu?
Bacaanku masih fiksi kacangan dan bukan Al-Qur'an, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tuntunan bagi anak-anakmu?
Tubuhku masih belum terjaga sempurna, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi rumah yang aman bagimu?
Hatiku masih penuh dengan iri pula angkuh, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi penyejuk hatimu?
Tanganku masih malas bantu sesama, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tangan kananmu bangun rumah tangga?
Telingaku masih suka dengar yang jahat, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi pendengarmu yang baik?
Lisanku masih suka banyak bicara pula berkata tak layak, lalu bagaimana mungkin aku pantas menjadi pelipur laramu?
Masih jauh perjalananku agar pantas menjadi pendampingmu.Bersabarlah, kumohon.
Mari anggap ini menyenangkan, menunggu janji-Nya yang tak pernah ingkar, dalam usaha menjadi ikhlas dan taat.
Aku hanya harap, semoga kita ada dalam satu ego nanti: ingin saling memiliki, selamanya.
Sungguhlah, bukan aku diam, Dia tahu betapa aku selalu ribut dan berisik memintamu dalam sujud panjang di akhir rakaat.
Pun bukan aku diam, hanya saja takdir masih menuntut kita 'tuk berjalan lebih lama.
Kau pun tahu, menemukan hanyalah perihal waktu.
Namun, keyakinan justru yang nyatanya bukan perkara waktu. Keyakinan bahwa masing-masing adalah yang terbaik untuk masing-masing.
Karena pada akhirnya hidup memang hanya perihal mencari jalan terbaik menuju mati, juga yang terbaik sebelum mati.
Sekarang kutanya, apa yang ingin kau capai dalam hidup?
.....
.....
Kalau aku, jadi yang kau gapai sebelum mati. :)
Sekian dulu, sudah larut. Selamat tidur, Tuan.
Aku akan sedia di sisi ragamu suatu masa, setiap lelapmu, pun terjagamu.
Dan jadilah satu yang kubangunkan Subuh-nya, lalu jadi Imamku, selamanya...
Ah, lama, ya, tak bincang lewat kata. Kabar baikkah?
Ya, tertawa saja jika kutanya kabar. Tak apa pula, bukan, jika kini tak tahu-menahu kabar? Toh, romantis bukan bisikkan kabar tiap saat, cukup saling pinta dalam diam agar dijadikan satu saat siap nanti. Namun, tetap saja terus kuharap primamu di setiap waktu.Baik-baik, kumohon.
Kamu, yang ternyata-mungkin-lebih-atau-bahkan-kurang-dari-tujuh-tahun-mendatangku,
Bagaimana kau lewati harimu? Bagaimana usaha gapai (aku yang) masa depanmu? Berat, ya? Tak pernah ada yang katakan itu akan mudah jika perihal yang mendatang. Namun, ingat, yang mendatang menanti. Jangan pernah nikmati tiap jatuhmu. Terus berjuang, kumohon.
Bayangan tentang yang mendatang jadikan saja semangatmu.
Miliki selalu pelukan di tengah hingar bingar perseteruan isi pikiran.
Miliki selalu genggam yang menguatkan, bukan melepaskan.
Miliki selalu hati yang mengerti, tidak memaksakan.
Miliki selalu dekap yang tak pernah membiarkan, tapi mengiringi sampai tujuan.
Pun ingat, miliki selalu senyum yang menjadi hangat sekaligus sejuk.
Saling memenangkan. Saling menyelamatkan.
Masa yang menyenangkan. Masa yang menenangkan. (Amien)
.....
Maaf, tadi kau bergumam apa? Aku sendiri bagaimana?
Pun di sini sama: tak mudah. Namun, entah, manjakan lelah juga jenuhku tak pernah lebih menggiurkan dari perjuangkan masa depanku (yang ada kamu).
Kerahkan seluruh kemampuan 'tuk cipta kemampuan yang lebih pantas.
Biarkan dulu saja lah aku. Semuanya untukmu, tahukah?
Murni bukan untukku berbangga, melainkan untukmu berbangga, setelah orangtuaku. Karena sungguhlah, kemampuan sebenarnya bukan ajang perempuan (sepertiku) untuk menyombongkan diri, tapi 'tuk menggandeng tangan laki-laki(ku) agar tak kerepotan sendiri. Karena masa depan sudah tentang dua orang, bukan?
Mengerti, ya, kumohon.
“The woman is the reflection of her man.” — Brad PittBacanya buatku malu (dan tidak pantas). Entah, kamu yang (semoga) baik akhlak, hati, juga imannya, akan dikatakan apa jika berdamping aku? Bahkan aku akan bingung setengah mati jika Tuhan tetap pilihkan aku untukmu.
Akhlakku masih jauh dari sempurna, lalu bagaimana bisa aku dipilih Tuhan 'tuk jadi pendampingmu?
Bacaanku masih fiksi kacangan dan bukan Al-Qur'an, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tuntunan bagi anak-anakmu?
Tubuhku masih belum terjaga sempurna, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi rumah yang aman bagimu?
Hatiku masih penuh dengan iri pula angkuh, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi penyejuk hatimu?
Tanganku masih malas bantu sesama, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tangan kananmu bangun rumah tangga?
Telingaku masih suka dengar yang jahat, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi pendengarmu yang baik?
Lisanku masih suka banyak bicara pula berkata tak layak, lalu bagaimana mungkin aku pantas menjadi pelipur laramu?
Masih jauh perjalananku agar pantas menjadi pendampingmu.Bersabarlah, kumohon.
Mari anggap ini menyenangkan, menunggu janji-Nya yang tak pernah ingkar, dalam usaha menjadi ikhlas dan taat.
Aku hanya harap, semoga kita ada dalam satu ego nanti: ingin saling memiliki, selamanya.
Sungguhlah, bukan aku diam, Dia tahu betapa aku selalu ribut dan berisik memintamu dalam sujud panjang di akhir rakaat.
Pun bukan aku diam, hanya saja takdir masih menuntut kita 'tuk berjalan lebih lama.
Kau pun tahu, menemukan hanyalah perihal waktu.
Namun, keyakinan justru yang nyatanya bukan perkara waktu. Keyakinan bahwa masing-masing adalah yang terbaik untuk masing-masing.
Karena pada akhirnya hidup memang hanya perihal mencari jalan terbaik menuju mati, juga yang terbaik sebelum mati.
Sekarang kutanya, apa yang ingin kau capai dalam hidup?
.....
.....
Kalau aku, jadi yang kau gapai sebelum mati. :)
Sekian dulu, sudah larut. Selamat tidur, Tuan.
Aku akan sedia di sisi ragamu suatu masa, setiap lelapmu, pun terjagamu.
Dan jadilah satu yang kubangunkan Subuh-nya, lalu jadi Imamku, selamanya...
Tertanda, Rumahmu.
Sumber: http://ayagz.blogspot.com/2013/06/apa-kabar.html
Friday, October 4, 2013
KiranAgis
"Halo Kirana sudah lama tak bertemu!!"
Selama itu gue ga cerita mengenai Kirana serta likaliku kehidupannya. Hmm, baru kepikiran ingin ketemuan sama Kirana lagi eh benar aja langsung ketemu sama Kirana. Sudah terlalu lama ga cerita panjang lebar dengannya dalam hening.
Kabarnya baik. Kirana saat ini sangat baik kabarnya. Tapi ketika ku tanyakan kembali mengenai keberlanjutan kehidupannya, ia hanya tersenyum. Hmm baru kali ini gue ngeliat senyuman yang segitu ga bisa diartikannya dari Kirana. Dia cuma bilang, 'Jangan pikirin gue dulu Gis. Lo sendiri gimana?'. Hanya satu yang bisa gue artikan dari kalimat itu, dia gamau ngebahas masalahnya. Entah ada apa dan mengapa, gue cuma bisa memakluminya dan mulai cerita ke dia gimana gue saat ini.
Selama gue cerita panjang lebar, terlalu banyak ekspresi Kirana yang berubah-ubah dan sumpah, gue gabisa mengartikannya. Selama gue cerita, ga ada satupun kata yang terlontar dari mulutnya. Hingga akhirnya gue capek dan bertanya 'Ran, gue udah selesai cerita. Sekarang terserah lo deh, mau nanggepin apa enggak'
Kirana pun langsung panjang lebar nanggepin cerita gue
"Gis, dari awal, dari awal gue kenal lo. Gue udah ngerti banget sikap dan sifat lo Gis. Entahlah, kalo gue jadi orang awam, gue bakal ngatain lo bego. Lo orang sebegobegonya bego. Yaa kayak yang lu rasakan ketika orang lain meragukan lo. Tapi untungnya gue bukan orang awam dan bukan orang yang baru kenal lo sebulan dua bulan. Gue tau lo emang ga enakan, gue tau lo terlalu baik dan selalu gabisa marah dan selalu ngasih orang lain kesempatan. Tapi untuk kali ini doang gue gabisa berkata apa-apa Gis. Lo terlalu baik. Terlalu baik. Lo tau kan hal yang berlebihan itu ga baik? Tapi kebaikan lo masih belum berlebihan sih, tapi udah keterlaluan. Gue salut Gis, gue ga ngerti lagi. Gue cuma bisa lo bakal selalu diberikan yang terbaik sama Allah. Gue ngerti kok, gue ngerti setiap keputusan yang lo ambil itu udah semuanya lo pikirin mateng-mateng, udah lo ngertiin juga konsekuensinya. Gue paham Gis. Gue sayang lo Gis! Gue cuma gamau liat lo kecewa. Gue udah terlalu sering ngeliat lo kecewa kemarin-kemarin."
Sepanjang ocehan Kirana itupun gue hanya bisa memejamkan mata, mendengarkannya setiap katanya dalam hening, memikirkannya dalam-dalam, dan mengamini setiap doanya.
Yaa Allah, doaku ini memang singkat tapi memang ini sangat muluk sekali. Aku hanya ingin yang terbaik dari-Mu, eventhough itu bukan yang terbaik untukku, sadarkanlah aku bahwa memang itu yang terbaik. Jangan biarkan aku terjebak dalam ilusi-ilusi keinginan ego semata.
Selama itu gue ga cerita mengenai Kirana serta likaliku kehidupannya. Hmm, baru kepikiran ingin ketemuan sama Kirana lagi eh benar aja langsung ketemu sama Kirana. Sudah terlalu lama ga cerita panjang lebar dengannya dalam hening.
Kabarnya baik. Kirana saat ini sangat baik kabarnya. Tapi ketika ku tanyakan kembali mengenai keberlanjutan kehidupannya, ia hanya tersenyum. Hmm baru kali ini gue ngeliat senyuman yang segitu ga bisa diartikannya dari Kirana. Dia cuma bilang, 'Jangan pikirin gue dulu Gis. Lo sendiri gimana?'. Hanya satu yang bisa gue artikan dari kalimat itu, dia gamau ngebahas masalahnya. Entah ada apa dan mengapa, gue cuma bisa memakluminya dan mulai cerita ke dia gimana gue saat ini.
Selama gue cerita panjang lebar, terlalu banyak ekspresi Kirana yang berubah-ubah dan sumpah, gue gabisa mengartikannya. Selama gue cerita, ga ada satupun kata yang terlontar dari mulutnya. Hingga akhirnya gue capek dan bertanya 'Ran, gue udah selesai cerita. Sekarang terserah lo deh, mau nanggepin apa enggak'
Kirana pun langsung panjang lebar nanggepin cerita gue
"Gis, dari awal, dari awal gue kenal lo. Gue udah ngerti banget sikap dan sifat lo Gis. Entahlah, kalo gue jadi orang awam, gue bakal ngatain lo bego. Lo orang sebegobegonya bego. Yaa kayak yang lu rasakan ketika orang lain meragukan lo. Tapi untungnya gue bukan orang awam dan bukan orang yang baru kenal lo sebulan dua bulan. Gue tau lo emang ga enakan, gue tau lo terlalu baik dan selalu gabisa marah dan selalu ngasih orang lain kesempatan. Tapi untuk kali ini doang gue gabisa berkata apa-apa Gis. Lo terlalu baik. Terlalu baik. Lo tau kan hal yang berlebihan itu ga baik? Tapi kebaikan lo masih belum berlebihan sih, tapi udah keterlaluan. Gue salut Gis, gue ga ngerti lagi. Gue cuma bisa lo bakal selalu diberikan yang terbaik sama Allah. Gue ngerti kok, gue ngerti setiap keputusan yang lo ambil itu udah semuanya lo pikirin mateng-mateng, udah lo ngertiin juga konsekuensinya. Gue paham Gis. Gue sayang lo Gis! Gue cuma gamau liat lo kecewa. Gue udah terlalu sering ngeliat lo kecewa kemarin-kemarin."
Sepanjang ocehan Kirana itupun gue hanya bisa memejamkan mata, mendengarkannya setiap katanya dalam hening, memikirkannya dalam-dalam, dan mengamini setiap doanya.
Yaa Allah, doaku ini memang singkat tapi memang ini sangat muluk sekali. Aku hanya ingin yang terbaik dari-Mu, eventhough itu bukan yang terbaik untukku, sadarkanlah aku bahwa memang itu yang terbaik. Jangan biarkan aku terjebak dalam ilusi-ilusi keinginan ego semata.
Monday, July 29, 2013
Suatu Ketika (4)
Mungkin benar kata Tere Liye, apabila kita terus memendam rasa, kita akan lelah sendiri termakan ilusi hati kita. Seperti halnya yang terjadi pada Kirana. Pertemuan singkat namun meninggalkan kesan bersama Adrian ketika itu sukses membuat hati Kirana selalu gundah dan memikirkan hal-hal yang semakin lama semakin tak jelas. Kirana pun semakin tak bisa membedakan mana yang hanya ilusi hatinya atau hanya impian belakanya. Makin lama, pikirannya tak waras, ia semakin tak dapat memilahnya dengan bijaksana. Untunglah, kejadian di suatu ketika membuatnya sadar. Dunia percintaan dia saat ini, bukanlah hanya tentang Adrian.
Hari Minggu memang hari yang tepat untuk bersantai-santai ria bagi Kirana. Apalagi pada bulan puasa kayak gini. Sehabis sahur, ia menghabiskan waktunya, bahkan hingga Dzuhur untuk tidur. Pagi itu, jam 10, dering sms berbunyi dari salah satu handphone Kirana. Untuk masalah dering dari handphone-nya, Kirana memang paling peka karena ia selalu berpikiran bahwa ada sesuatu yang penting apabila handphone-nya berbunyi. Tangannya pun merayap ke buffet sebelah kasurnya meraba-raba mencari handphone-nya. Dengan mata masih setengah tertutup, ia membaca sms itu:
"Ra, apa kabar kamu sekarang? Kamu masih kerja di kantor kamu yang dulu?"
Ia pun melihat nama pengirim sms tersebut, 'Damarian'. Tersontak, Kirana bangun dari tidur nyenyaknya. Ia masih tak yakin akan nama yang baru saja ia lihat. Sekali lagi ia lihat namanya, nama itu pun masih sama, 'Damarian'.
Damarian. Salah satu nama dari deretan nama yang pernah hadir di dalam kehidupan percintaan Kirana. Damar, sapaannya, merupakan senior Kirana di salah satu kursus bahasa Inggris saat SMA dulu. Saat itu, Kirana masih kelas 2 SMA dan Damar sudah tingkat 1 kuliah salah satu universitas negeri di Jawa Timur. Seperti yang telah diduga, mereka terlibat cinta lokasi. Namun, hubungan mereka tidak seperti hubungan pasangan normal biasanya. Saat itu, Kirana masih belum bisa move on dari mantannya sebelumnya. Ia masih belum dapat berpindah ke lain hati. Namun, kehadiran Damar tak dapat ditampik bahwa telah mengisi hati Kirana yang kosong. Tapi, entah kenapa Kirana masih belum dapat menerima Damar dengan setulus hati. Hubungan mereka pun terpaksa, terpaku pada sebuah tahapan, HTS, Hubungan Tanpa Status. Mereka saling mengetahui bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. mereka saling merindu apabila salah satu dari mereka menghilang. Mereka sangat memahami hal itu. Tapi, kembali lagi, entah kenapa Kirana masih belum dapat dengan ikhlas menerima Damar sebagai pengisi hatinya, setelah mantannya terdahulu, Ryan.
Damar, dengan sabarnya selalu menerima ketidakjelasan hubungan tersebut. Hubungan itu pun berlanjut hingga bertahun-tahun. Yang lebih membuat terperangah adalah ketika di hubungan tersebut, Kirana dan Damar memutuskan untuk pacaran. Tapi bukan antara Kirana dan Damar. Tapi Kirana berpacaran dengan Adi, salah satu teman kursus lainnya dan Adrian pacaran dengan Melly, teman kuliahnya. Hubungan itu semakin aneh. Walaupun hubungan pacaran mereka dengan yang lain hanya berlangsung sebentar, tapi selama itu pula, Kirana-Adrian menjalin cerita.
Hingga suatu saat, tiba pada satu titik dimana Kirana dan Adrian sama-sama merasa lelah menjalani kisah mereka sendiri. Mereka pun mencoba mengakhiri apa yang mereka telah mulai. Mereka runtuhkan segala perasaan mereka. Mereka tau bahwa apa yang mereka lakukan saat ini, apa yang mereka jalani sekarang adalah sebuah kesalahan dan tentunya akan berakibat tidak baik bagi kehidupan mereka. Tepat sekitar 3 bulan yang lalu, hubungan mereka resmi 'putus'.
Tersontak, sms Damar sukses membuat hati Kirana gundah. Ia resah tidak tau apakah ia harus membalas sms tersebut atau tidak. Sekelibat, muncul kenangan-kenangan bersama Damar dahulu. Ia rindu saat-saat bersama Damar dahulu. Ia merasa sepi dan aneh tanpa Damar. Diam-diam, Kirana pun masih menyisakan ruang di hatinya untuk Damar. Perlahan, ia pun memainkan jarinya di atas keypad handphone-nya. Kirana pun membalas sms tersebut.
"Hai apa kabar? Sombong banget sih udah lama ga ngobrol. Aku baik-baik aja di sini. Kamu gimana?"
Tak lama berselang dering sms handphone Kirana pun kembali berbunyi dan tentu saja sesuai tebakan, sebuah sms baru dari Damarian
"Kok aku yang dibilang sombong? Kamu dong yang sombong, sibuk mulu sekarang."
Dan, kembali, Kirana dan Damar pun kembali berkomunikasi. Mereka seakan merajut kembali rasa mereka yang dahulu sempat terobek termakan ketidaksabaran dan kerakusan mereka. Asa demi asa mereka bangun lagi bersama. Kini, hati Kirana kembali resah. Ia takut apa yang ia lakukan sekarang, kembali dengan Damar merupakan hal yang salah.
Hingga akhirnya, tiba pada sebuah titik dimana Damar kembali menghilang. Ia berhenti membalas sms Kirana. Tentu, Kirana bertambah resah. Ia merasa telah dipermainkan. Ketika ia mencoba mencari dirinya di mata Damar, ia kembali diacuhkan.
"Yaa Tuhan, aku tidak tahu siapa jodohku nanti. Sebenarnya pada saat ini pun aku tidak sedang fokus dalam pencarian jodohku. Tapi, aku capek untuk terus bermain dengan hati sendiri. Selalu termakan ilusi sendiri. Aku capek meladeni hati yang kadang hilang kewarasannya, yang kadang menggerus akal sehat yang kumiliki. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia ada ataupun tiada cinta mendampingi. Tapi aku tak mau, begini terus. Hanya ditemani bayangan cinta yang tercipta oleh angan dalam diri"
Hari Minggu memang hari yang tepat untuk bersantai-santai ria bagi Kirana. Apalagi pada bulan puasa kayak gini. Sehabis sahur, ia menghabiskan waktunya, bahkan hingga Dzuhur untuk tidur. Pagi itu, jam 10, dering sms berbunyi dari salah satu handphone Kirana. Untuk masalah dering dari handphone-nya, Kirana memang paling peka karena ia selalu berpikiran bahwa ada sesuatu yang penting apabila handphone-nya berbunyi. Tangannya pun merayap ke buffet sebelah kasurnya meraba-raba mencari handphone-nya. Dengan mata masih setengah tertutup, ia membaca sms itu:
"Ra, apa kabar kamu sekarang? Kamu masih kerja di kantor kamu yang dulu?"
Ia pun melihat nama pengirim sms tersebut, 'Damarian'. Tersontak, Kirana bangun dari tidur nyenyaknya. Ia masih tak yakin akan nama yang baru saja ia lihat. Sekali lagi ia lihat namanya, nama itu pun masih sama, 'Damarian'.
Damarian. Salah satu nama dari deretan nama yang pernah hadir di dalam kehidupan percintaan Kirana. Damar, sapaannya, merupakan senior Kirana di salah satu kursus bahasa Inggris saat SMA dulu. Saat itu, Kirana masih kelas 2 SMA dan Damar sudah tingkat 1 kuliah salah satu universitas negeri di Jawa Timur. Seperti yang telah diduga, mereka terlibat cinta lokasi. Namun, hubungan mereka tidak seperti hubungan pasangan normal biasanya. Saat itu, Kirana masih belum bisa move on dari mantannya sebelumnya. Ia masih belum dapat berpindah ke lain hati. Namun, kehadiran Damar tak dapat ditampik bahwa telah mengisi hati Kirana yang kosong. Tapi, entah kenapa Kirana masih belum dapat menerima Damar dengan setulus hati. Hubungan mereka pun terpaksa, terpaku pada sebuah tahapan, HTS, Hubungan Tanpa Status. Mereka saling mengetahui bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. mereka saling merindu apabila salah satu dari mereka menghilang. Mereka sangat memahami hal itu. Tapi, kembali lagi, entah kenapa Kirana masih belum dapat dengan ikhlas menerima Damar sebagai pengisi hatinya, setelah mantannya terdahulu, Ryan.
Damar, dengan sabarnya selalu menerima ketidakjelasan hubungan tersebut. Hubungan itu pun berlanjut hingga bertahun-tahun. Yang lebih membuat terperangah adalah ketika di hubungan tersebut, Kirana dan Damar memutuskan untuk pacaran. Tapi bukan antara Kirana dan Damar. Tapi Kirana berpacaran dengan Adi, salah satu teman kursus lainnya dan Adrian pacaran dengan Melly, teman kuliahnya. Hubungan itu semakin aneh. Walaupun hubungan pacaran mereka dengan yang lain hanya berlangsung sebentar, tapi selama itu pula, Kirana-Adrian menjalin cerita.
Hingga suatu saat, tiba pada satu titik dimana Kirana dan Adrian sama-sama merasa lelah menjalani kisah mereka sendiri. Mereka pun mencoba mengakhiri apa yang mereka telah mulai. Mereka runtuhkan segala perasaan mereka. Mereka tau bahwa apa yang mereka lakukan saat ini, apa yang mereka jalani sekarang adalah sebuah kesalahan dan tentunya akan berakibat tidak baik bagi kehidupan mereka. Tepat sekitar 3 bulan yang lalu, hubungan mereka resmi 'putus'.
Tersontak, sms Damar sukses membuat hati Kirana gundah. Ia resah tidak tau apakah ia harus membalas sms tersebut atau tidak. Sekelibat, muncul kenangan-kenangan bersama Damar dahulu. Ia rindu saat-saat bersama Damar dahulu. Ia merasa sepi dan aneh tanpa Damar. Diam-diam, Kirana pun masih menyisakan ruang di hatinya untuk Damar. Perlahan, ia pun memainkan jarinya di atas keypad handphone-nya. Kirana pun membalas sms tersebut.
"Hai apa kabar? Sombong banget sih udah lama ga ngobrol. Aku baik-baik aja di sini. Kamu gimana?"
Tak lama berselang dering sms handphone Kirana pun kembali berbunyi dan tentu saja sesuai tebakan, sebuah sms baru dari Damarian
"Kok aku yang dibilang sombong? Kamu dong yang sombong, sibuk mulu sekarang."
Dan, kembali, Kirana dan Damar pun kembali berkomunikasi. Mereka seakan merajut kembali rasa mereka yang dahulu sempat terobek termakan ketidaksabaran dan kerakusan mereka. Asa demi asa mereka bangun lagi bersama. Kini, hati Kirana kembali resah. Ia takut apa yang ia lakukan sekarang, kembali dengan Damar merupakan hal yang salah.
Hingga akhirnya, tiba pada sebuah titik dimana Damar kembali menghilang. Ia berhenti membalas sms Kirana. Tentu, Kirana bertambah resah. Ia merasa telah dipermainkan. Ketika ia mencoba mencari dirinya di mata Damar, ia kembali diacuhkan.
"Yaa Tuhan, aku tidak tahu siapa jodohku nanti. Sebenarnya pada saat ini pun aku tidak sedang fokus dalam pencarian jodohku. Tapi, aku capek untuk terus bermain dengan hati sendiri. Selalu termakan ilusi sendiri. Aku capek meladeni hati yang kadang hilang kewarasannya, yang kadang menggerus akal sehat yang kumiliki. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia ada ataupun tiada cinta mendampingi. Tapi aku tak mau, begini terus. Hanya ditemani bayangan cinta yang tercipta oleh angan dalam diri"
Subscribe to:
Posts (Atom)














