Sunday, June 26, 2016

Tak Berjudul

Hujan di malam ini, memeluk tubuh diri dengan selimut dingin.
Seiring dengan kembalinya potongan kisah-kisah dari buku tua yang tersudut di pojok lemari.
Keheningan malam hanya bersisa saut-sautan air yang jatuh menempa bumi.
Tiada kehadiran yang kurasa, tiada bisikan yang kudengar. Hanya seorang diri tenggelam dalam alunan sepi.

Mengucapkan memang jauh lebih mudah daripada menjalankan.
Untuk berpisah dan berjarak, menjauh dari sosok yang memberiku arti kata nyaman, tidak kusangka justru memberiku kesunyian dalam nyata.
Segala balok-balok asa yang telah berdiri tegak, satu per satu mulai jatuh (di)runtuh(kan). Jatuh jatuh jatuh dan lenyap.
Siapa sangka, tubuh yang dulu memberiku kehangatan, kini dipenuhi jiwa yang justru membuat hatiku terbujur kaku.

Bermalam-malam ku lalui bertatap diri.
Bertemankan kebodohanku yang sering merajuk tuk membuka kertas-kertas usang itu, tuk sekadar melihat kembali lukisan senyum terukirkan namaku.
Kadang, ingin rasanya kulangkahkan kaki ke luar, memaksa mataku melihat dunia.
Memaksaku tuk merasakan kembali teriknya sinar matahari dan dinginnya hembusan angin malam.
Namun apa daya, tak sampai hati ini mengajak tanganku tuk membuka kunci relung.
Aku, aku hanya mampu tuk membuka tirai hitam pembatas duniaku dan dunia luar, tuk sekadar mengintip apa sumber suara gaduh di luar sana.
Iya, hanya itu, tak bisa lebih dari itu. Ku hanya bisa sebatas itu.
Entah kenapa, diriku merasa tidak mampu

Sesekali, aku mendapat kunjungan dari mereka yang mengkhawatirkanku, karena sudah terlalu lama terkurung di maya ini.
Senyum, tawa dan canda, semua bisa ku berikan. Tapi...... palsu.
Bagaimana bisa aku tulus memberikan ceriaku ketika hati ini tersesak?
Selepas mereka pergi, ku kembali dengan sunyiku.
Sunyi yang justru mendorong hati ini untuk terus merasa tersakiti. Sunyi yang justru memaksa air air mataku mengalir bagai sungai tak berbatu.

Entah sampai kapan aku harus terjebak di dalam bayang nostalgia yang justru membuatku gila.
Senyum di saat menengok ke belakang, tersedu ketika kembali menoleh ke depan.
Memang, tak ada yang tau apa akhir dari setiap kisah yang terpilih untuk tiap-tiap insan.
Tapi, bolehkah ku mengetahui, apa kisahku untuk esok hari? Aku bosan mengisi hariku dengan bayangan.
Aku, badanku yang dingin, hatiku yang beku, dapatkah ku mendapatkan kembali hangat yang selalu ku damba?
Terserah dalam bentuk apa, kisah yang beda atau orang yang beda, ku takkan menuntut banyak.
Cukup hangat yang membuatku nyaman, bukan terik yang menyerang sukma.

Tuesday, December 22, 2015

Tahukah Kamu?

Apakah kamu tau?
Terkadang cinta itu nggak hanya tentang pena yang menari cantik di atas kertas putih kosong untuk
menorehkan kalimat-kalimat indah.
Terkadang cinta juga bukan hanya sekadar janji-janji akan masa depan yang diucapkan begitu
meyakinkannya.
Terkadang cinta itu hanya butuh sedikit untaikan kata yang dapat menembus hati seorang manusia
hingga membuatnya bersyukur sujud.

Kamu tau?
Cinta tak butuh kamu menjadi puitis untuk mengutarakannya.
Cinta juga tak bernilai barang yang kamu berikan.
Cinta itu menerima.
Cinta itu jujur.
Dan cinta itu ikhlas.

Kamu tau?
Cinta itu tak diam.
Ia harus terus bergerak, terus mengembang seiring berjalannya waktu.
Cinta tak boleh diam.
Cinta harus terus berusaha menjadi lebih baik
Karena cinta memang untuk membuatnya lebih baik lagi.

Kamu tau?
Cinta itu tak hanya sebatas ucapanmu.
Cinta itu perlu dibuktikan untuk meyakinkan.
Cinta itu tak pasrah pada takdir.
Makadari cinta itu perlu diusahakan agar selalu bertahan.

Kamu tau apa itu cinta?
Apa kamu tau bagaimana cara mendefinisikan cinta dengan baik?
Bagaimana dengan frase ‘aku dan kamu’?
Cukup mewakilikah?
Atau justru tidak sama sekali?

Saturday, February 21, 2015

Tentang Dia

Petang hari di sebuah Sabtu...

Sudah sebulan lebih rasanya aku menjalani hidup dengan hati yang begitu kosong. Separuh jiwaku berasa hilang terbenam ikut terkubur menemani berbaringnya tubuh kakunya. Tawaku, senyumku yang terlukis di bibirku bahkan tak sanggup untuk menghibur hatiku sendiri. Dada ini terus berdetak kencang tak bernada seakan memaksa nafasku terpenggal tak beraturan. Apa yang kurasa ini lebih dari sekedar sakit hati ataupun patah hati. Aku rapuh, terlalu tak mampu untuk meneguhkan diri saat orang yang begitu amat aku sayangi dan juga mencintaiku, telah tiada.

Apabila aku ditanya, kenapa begitu lemahnya diri ini, aku akan mencoba menjawabnya, dengan bercerita tentang dia.

Tak terhitung bagiku berapa novel teenlit  yang kubaca tentang romantisme. Mulai dari cinta pertama hingga cinta tak terbatas. Tapi entah kenapa aku tak pernah menemukan definisi perasaanku kepadanya di novel-novel itu. Cinta pertama-- Iya, dia adalah cinta pertamaku. Namun ia lebih dari cinta pertama. Ia adalah seseorang yang pertama kali mengajariku bagaimana untuk menyayangi dengan tulus tak mengharap balas. Seseorang yang begitu menantikan kehadiranku bahkan saat aku pun belum tau apapun tentangnya. Seseorang yang selalu siap 24 jam dalam 7 hari untuk menjagaku, melindungiku atau hanya sekedar untuk menemaniku. Tak pernah terucap sepatah alasan pun darinya apabila aku sedang memohon bantuan. Bahkan terkadang ia selalu inisiatif menyapa bertanya padaku tentang apa yang aku butuhkan.

Diriku, apabila tengah di sampingnya, seakan putri kerajaan. Bukan karena semua hal yang aku butuhkan selalu dilayani olehnya, atau juga bukan karena semua yang aku inginkan selalu dikabulkan. Aku seperti putri karena aku diperlakukan seperti putri. Aku dicintai layaknya putri yang sempurna; cantik, baik hati dan berwibawa. Aku dilindungi seperti halnya pewaris tahta yang tak boleh sama sekali lecet sesenti pun. Aku selalu dipujinya seakan putri yang telah berhasil membantu orang tuanya dalam menyelamatkan kerajaan.

Sendiri tak berarti aku dimanja. Entah apa yang telah ia doktrinkan kepadaku. Tumbuh menjadi seorang anak satu-satunya dalam keluarga yang cukup berada dan terpandang, (seolah-olah) sudah seyogyanya aku menua dengan manjaku. Nyatanya, tumbuh dengan cinta yang seluruhnya terkucurkan untukku, semua perhatian yang terjatuh padaku dan dengan seluruh pandangan mata yang tak pernah meleset sedetik pun dariku, aku justru dewasa dengan kepribadian yang serupa pula. Aku dewasa dan tak (begitu) manja. Di tengah kehidupan yang menempatkan diriku di atas roda, aku justru diajarkan untuk melihat ke bawah dan selalu membalikkan tanganku. Aku tak pernah diizinkan untuk merasa iri dengan mereka yang derajatnya melebihiku. Sebaliknya, aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur dan tak pernah lelah untuk berusaha lebih. Hebatnya, ketika tiba-tiba rodaku berputar begitu cepat dan memposisikan diriku di derajat terbawah sebuah lingkaran hidup, aku tak pernah merasa kasihan atas diriku sendiri. Saat itu, aku diajarkan bahwa bukan harta ataupun kekuasaan yang dapat membuat seseorang tersenyum, melainkan cinta dan kebersamaan yang dapat membuat hati seseorang nyaman dan bahagia. Bahkan, aku tak pernah diperbolehkan untuk meminta atau mengharap dari yang lain kecuali Sang Maha Pencipta. Hidup ini harus dapat dijalani secara mandiri dan jangan pernah mengharap dari orang lain atau bahkan bergantung pada orang lain, pesannya.

Dia adalah cinta pertamaku yang selalu membuatku kagum dan terpana melihatnya. Dia adalah orang yang serba bisa, dari hal sepele seperti menyisir rambutku, memasak, melakukan negosiasi dengan preman hingga pejabat, membetulkan alat-alat elektronik, memodifikasi mesin, hingga menganalisa cost and benefit dari sebuah proyek, dia bisa. Sulit sepertinya mencari orang yang bisa menggantikannya. Dia sangat pintar, terlalu amat cerdas. Itulah harta paling berharga yang ia wariskan untukku (walaupun aku ini kadang tak memanfaatkannya karena aku kadang malas). Aku memang tak pernah tau IQ-nya, tapi yang pasti nilai 143-ku ini pasti hasil karunia gen-nya. Dia adalah orang yang cepat memahami suatu hal dan beradaptasi. Dia terlalu hebat untuk dibandingkan denganku. Bahkan orang yang baru pertama kali berjumpa dengannya pun dapat langsung memuja dan mengaguminya. Dia sangat hebat.

Satu hal yang terlalu amat ku kagumi darinya adalah ia tak pernah merasa kenyang apabila orang yang dikenalnya tak kenyang. Ia sangat peduli dengan sekitarnya. Ia selalu berusaha untuk berbagi pada yang membutuhkan, Bahkan, ketika di kantongnya tak ada selembar uangpun, ia berusaha berbagi dengan canda dan tawanya. Bahagia memang untuk di sampingnya. Ia juga tidak pernah berusaha menikmati hasil kerja kerasnya untuk dirinya sendiri. Ia selalu mengutamakan orang-orang yang ia cintai, termasuk aku. Berapapun uang yang ia punya, selalu dihabiskan untuk membahagiakan orang yang ia sayangi. Tak pula ia lupa untuk disisihkan yang kemudian diberikan ke sekitarnya. Hatinya terlalu bersih. Selalu berbagi dan membantu orang yang membutuhkan, bahkan ia tak pernah sekalipun mendongakkan kepalanya. Dia mengutamakan orang yang lebih membutuhkan meski ia sebenarnya juga membutuhkan. Bahkan tak pernah mendendam apabila mereka yang telah dibantu telah lupa akan kulitnya. Ia terlalu mulia, kurasa.

Apabila mereka mengatakan bahwa cinta itu buta. Aku rasa, aku tidak pernah dibuatnya buta untuk mencintainya. Aku selalu diajarkan untuk menggunakan akal dan nalarku dalam menjalani hidup ini. Ia juga sangat mengagungkan Tuhan-nya. Aku dididik keras untuk tidak melupakan kewajibanku terhadap Sang Pelindung-ku. Apabila ku bersusah, aku diajarkan untuk selalu memohon diberi kemudahan. Apabila aku sedang diberi kesenangan, aku tak boleh lupa untuk selalu bersyukur. Apabila aku sedang di tengah kegundahan, aku harus meminta-Nya diberikan petunjuk yang terbaik. Dia sangat membenci kemusyrikan dan kemunafikan yang menghancurkan agama-nya. Dia adalah orang pertama yang akan membentakku apabila aku melalaikan kewajibanku.

Cinta tanpa perselisihan, mustahil rasanya. Kasih dan sayang antara aku dan dia begitu terasa sempurna akibat tulusnya kami dan juga kerikil-kerikil kecil yang mewarnai kisah kami. Aku dan dia tak 100% sama atau 100% berbeda. Dia memiliki sifat yang keras, begitupun denganku. Terkadang, ketika salah satu dari kami tak bisa menahan diri, pasti berujung pada ngambekkan yang justru membuat pusing bundaku. Kami saling mengadu yang padahal akan selesai begitu saja di antara kami sendiri. Adu argumen dan adu pendapat selalu mewarnai malam ketika kami menonton berita malam. Politik, hukum dan ekonomi adalah topik utama perdebatan kami. Hangat atau bahkan terkadang panas hingga butuh diredakan dengan 20 tusuk sate ayam langganannya yang selalu lewat pukul 1 pagi. Sigh, peraduan ini justru lebih memunculkan tawa apabila diingat kembali, bukan kebencian.

Terlalu banyak kisah yang ingin kubagi tentang dia. Dia, cinta pertamaku yang membuatku sulit untuk mencari pria sepadan lainnya untuk dicintai seperti halnya aku mencintainya. Dia, tauladanku yang menjadikan diriku pribadi seperti sekarang ini. Dia, orang yang akan selalu kucinta dan kukagumi, selalu ada dalam doaku, selalu kutangisi tiap aku rindu dan selalu tersimpan di hatiku meski raganya tak lagi berada di sampingku.

Dia..... Ayahku.
Selamat tidur yang tenang Yah. Dalam doaku, aku berharap semoga Allah mengizinkan kita berjumpa lagi di kedamaian dan sisi-Nya.


Salam rindu,

Anakmu.

Friday, February 20, 2015

Could I Have This Kiss Forever

By: Enrique Iglesias

Over and over I look in your eyes
you are all I desire
you have captured me
I want to hold you
I want to be close to you
I never want to let go
I wish that this night would never end
I need to know 

Could I hold you for for a lifetime
Could I look into your eyes
Could I have this night to share this night together
Could I hold you close beside me
Could I hold you for all time
Could I could I have this kiss forever
Could I could I have this kiss forever, forever

Over and over I've dreamed of this night
Now you're here by my side
You are next to me
I want to hold you and touch you taste you
And make you want no one but me
I wish that this kiss could never end
oh baby please

Could I hold you for a lifetime
Could I look into your eyes
Could I have this night to share this night together
Could I hold you close beside me
Could I hold you for all time
Could I could I have this kiss forever
Could I could I have this kiss forever, forever

I don't want any night to go by
Without you by my side
I just want all my days
Spent being next to you
Lived for just loving you
And baby, oh by the way

Could I hold you for a lifetime
Could I look into your eyes
Could I have this night to share this night together
Could I hold you close beside me
Could I hold you for all time
Could I have this kiss forever
Could I could I have this kiss forever, forever

Monday, February 9, 2015

Hampa.

Aku kira aku sudah cukup dewasa untuk bersikap. Berpikir berkali-kali dahulu sebelum bertindak.
Aku juga mengira bahwa diri ini adalah orang paling kuat. Sudah cukup besar untuk menangani semuanya, dan sudah cukup tabah menghadapi segalanya.
Sampai akhirnya kesepian ini mendorongku terisak perlahan. Tampaknya tetes hujan seperti berbalap derasnya dengan air mataku.

Aku tidak tau apa yang kurasa sebenarnya.
Yang pasti, semenjak itu, aku merasa ada yang hilang dari diri ini. Bagian dari jiwaku seperti hilang melayang bersama ruhnya.
Hampa. Hanya hampa yang kurasa.

Setiap detikku mengingatkan segala kenangan bersamanya.
Setiap jengkal langkahku mengingatkan bahwa tak mungkin kubisa melangkah begitu percaya dirinya seperti ini tanpa dirinya.

Sungguh, hujan ini seperti halnya para pemandu sorak yang membuatku terus 'semangat' untuk menangis.
Sungguh Maha Pencipta-ku, apabila ku diberikan 1000 tahun, aku ingin habiskan 1000 tahun itu bersama orang-orang yang aku cintai.
Pincang rasanya hidup tanpanya.
Terus menangis sendiri, merasakan sakit di hatiku sendiri akibat kehilangan serpihannya, dan harus berbicara sendiri karena teman berbincang-berdiskusi-bahkan berdebatku telah tiada.

---

"Yah, Ajeng janji ga akan bikin nda sedih. Ajeng bakal buat nda bangga dan bahagia liat Ajeng. Ajeng ga akan nangis di depan bunda. Ajeng janji."

Yah, janji sederhana yang sekiranya hanya 3 kalimat itu, yang saat itu aku ucapkan saat memeluk tubuh dinginmu, sungguh berat dilakukan. Aku butuh bunda saat menangis, tapi aku tidak bisa. Memang tiada anggukan atau responmu saat aku ikrarkan janji itu, tapi entah kenapa aku merasa terikat dengan janji itu.
Yah, temenin Ajeng nangis ya yah....

Friday, December 19, 2014

Tetesan Rindu

Aku bosan.
Seharian ini aku sibuk mengurus hidupku untuk mengejar angka-angka yang kata orang, penentu hidup.
Aku lelah menatap segala simbol, angka dan sama dengan di kertas lusuh itu.
Perlahan ku alihkan pandanganku ke arah jendela
Perduli apa aku sama tugas yang baru bernomorkan 2 dari 5 itu.
Aku bosan.

Sore ini langit sedang meneteskan bulir-bulir berkahnya membasahi bumi.
Lama ku menatap jendela kamarku dan perlahan hati ini pun ikut larut bersama tetesan itu.
Tenang dan damai rasanya.

Hujan memang selalu berhasil membawa kembali kenangan terdahulu.
Bahagia, canda dan tawa.
Sedih, bimbang dan tangis.
Semua bercampur jadi satu dengan berpayungkan satu nama cinta.

Tak sulit bagiku merapalkan namamu.
Namun tak mudah untuk hatiku harus kembali bertemu bayangmu.
Bukan karena kamu yang ingin kulupakan, tapi karena senyummu yang sulit ditinggalkan.

Ketika orang berkata cinta itu tak harus memiliki.
Aku bersumpah bahwa ia telah salah memaknai cinta.
Bukan karena aku ahli membicarakan hal itu.
Tapi karena aku telah mulai menghadapinya.
Bahwa aku dan kamu mungkin tak bisa bersama, tapi aku tetap memilikimu dengan caraku.
Dan kamu, tetap bisa memiliku meski tangan kita tak lagi saling menggenggam.

Kisah kita mungkin sudah usai. Namun bukan berarti tidak ada memori yang tak bisa dikenang.
Bukan berarti pula tiada wajah yang tak pantas dirindu.

Bersama hujan yang terus membasahi bumi, ku sampaikan rinduku padamu, cinta dan kebanggaanku.

Wednesday, November 26, 2014

Kemana Rembulanku?

Langkah kecilku perlahan berubah menjadi langkah besar-besar saat aku mulai memasuki jalan setapak itu. Bukan karena malam yang semakin menunjukkan kegelapannya, bukan juga karena di sepanjang jalan tersebut ada 2-3 kumpulan muda-mudi nongkrong dan 'bermain' bersama, toh aku juga sudah sering jalan sendiri di situ malam-malam. Entahlah, gerakkan kakiku seakan diperintahkan oleh hati yang sewaktu itu berteriak ingin cepat pulang.

Kepalaku pusing tak karuan. Dinginnya malam yang terus memelukiku menambah kepeluan hati ini. Di tengah jalanku yang cepat-cepat tadi, ku dongakkan kepalaku ke atas langit. Aku hanya berharap di sana akan ada bulan yang bersinar atau bintang yang banyak berkelap-kelip. Setidaknya itu bisa menghiburku sedikit. Tapi sayang, tak ada satu bintangpun ku lihat di langit kelam itu. Bulan pun hanya berupa garis-garis bayang putih kekuningan di ujung langit sana.

Langkahku pun semakin ku paksa agar semakin lebar yang dipenuhi oleh rasa putus asa dan kecewa. Bahkan, di saat seperti ini pun, langit tak mencoba membuatku tersenyum sedikitpun. Hatiku pun ga henti-hentinya memaki,

Kemana rembulanku?

Thursday, August 14, 2014

Kenapa Harus Berpura-Pura?

Kemarin, ketika aku berjalan menyusuri koridor gedung tua itu, aku melihat sekumpulan anak-anak bermain dengan asyiknya. Hmm mungkin mereka berjumlah sekitar 10 orang-an. Mereka tertawa dan berlarian seakan tak peduli pada panas sinar matahari siang itu. “asik yaaa…”, seru dalam hatiku, iri.
Lama ku duduk di kursi di koridor itu yang mengarah pada anak-anak tadi. Entah kenapa teriknya matahari pukul 1 siang saat itu tak terasa begitu menyengat. Bukan karena aku duduk di dalam koridor dan tengah ikut kecipratan dinginnya AC yang berhembus sedikt keluar dari dalam ruangan di belakangku, lebih tepat karena perasaanku yang sejuk melihat asiknya anak-anak itu bermain.

“Kak! Kak! Kakak ini kakaknya siapa?” Tak lama kemudian ada anak perempuan kecil dan cantik menarik-narik bajuku dengan begitu menggemaskan.

“Kakak kok ga jawab pertanyaanku, kakak ini kakaknya siapa?” DIa tak henti menarik-narik bajuku dan menguntel-nguntelnya.

“Aku bukan kakaknya siapa-siapa, dek. Aku di sini lagi duduk aja nungguin temen kakak” Jawabku sambil senyum dan mengangkatnya untuk duduk di sebelahku. Usianya masih cukup belia, sekitar 6-7 tahun.

“Wah kakak enak dong yaa ga punya adik-adik kayak kita ini, kan kita kena penyakit yang kata orang-orang gabisa disembuhin. Kalau kakak ga punya adik kayak kita, berarti kakak ga akan sedih-sedih kayak kakakku atau juga ibuku.”

Penyakit yang kata orang-orang gabisa disembuhin…

Lama ku mencerna kalimat itu, hmm mungkinkah anak-anak itu menderita…… kanker?

“Kak tau ga”, lanjutnya, “Aku bingung deh sama orang-orang yang di sekitarku yang bilang aku ga boleh boong ke mereka. kalau aku sakit, katanya aku harus bilang sakit, gaboleh bilang ga sakit. Padahal kan, kalau aku bilang aku sakit, mereka akan sedih dan bahkan nangis. Mamiku tuh kak gampang banget nangis hehehe cengeng yaa kak ga kayak aku.” Si adik kecil ini terus menlanjutkan ceritanya tak henti sambil terus mengayunkan kakinya yang tergelantung karena tak sampai ke tanah.

Otakku tak berhenti berputar mendengarkan ceritanya. Ada apa sih ini?

“Ehiyaaa kakak namanya siapa? Namaku Kirana, kakak namanya siapa?”

“Namamu bagus yaa Kirana. Namaku Agis”

“Halo kak Agis! Seneng deh ketemu kakak, aku senang ketemu orang-orang baru soalnya hehehe” 

Kirana menyengir menunjukkan giginya yang tidak lengkap itu ke arahku. Hihi lucunya! Aku dan Kirana pun akhirnya mengobrol-ngobrol lama. Aku menceritakan cerita-cerita lucu dan juga yang berbau dongeng kepadanya. Kirana pun menaggapinya dengan sangat antusias dan selalu berkata khasnya “Waah… kok bisa ya kak?” Sampai akhirnya ada bunyi tut tut tut semacam alarm dari sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Kakak, Kirana balik dulu ke kamar yaa, kalau ada bunyi ini, Kirana harus balik dan minum obat. Dadah kakak!!!” Kirana pun langsung lompat dari kursi yang kududuki bersamanya lalu berlari riang sambil bergumam bernyanyi menghilang dari pandanganku.

---

Hmm aku jadi terpikirkan sesuatu..

Apa salahnya sih berpura-pura?

Apa salahnya Kirana pura-pura tidak sakit agar orang-orang yang ia sayangi tidak sedih?
Apa salahnya maminya Kirana pura-pura tidak menangis saat anaknya sedang merintih kesakitan saat sedang menjalani terapi?

Sepertinya, berpura-pura itu tidak sepenuhnya salah.

Lalu, apakah aku yang sering berpura-pura bahagia untuk menutupi kesedihanku juga tidak salah?

Tujuanku tak jauh dari tujuan Kirana. Aku hanya ingin melihat orang-orang sekitarku tidak merasakan kesedihan yang aku rasakan. Aku ingin seperti Kirana yang menjadi pembawa ketenangan dan kesenangan untuk orang-orang.


Jadi, kurasa tidak salah.

Monday, August 11, 2014

Aku, Kamu dan Rembulan

Selamat malam kamu yang di sana. Selamat malam kamu yang kini tengah asyik menikmati rangkaian kisahmu di alam lainnya.

Lihatkah kamu langit malam ini? Sempatkah kau tadi mengintip dari balik jendelamu sebelum kau tenggelam dalam selimutmu?
Semua insan membahas terangnya rembulan yang tengah menggantung di langit malam ini. (Mungkin) Tak ada satupun yang melewatkan untuk melihat kemilaunya salah satu anugerah Tuhan yang sedang dipamerkan oleh-Nya. Dan sebaliknya, dengan tahzim, rembulan pun memantau semua wajah pulas yang tengah tertidur -- atau menemani diri bermuka bantal--sepertiku--menghabiskan malam dengan segala angan yang terlempar.

Rembulan itu pasti puas melihat dan menilai seluruh umat malam ini. Jarang kan dia menampakkan seluruh tubuhnya sebesar itu dan bersinar begitu mengagumkan.
Rembulan barangkali hanya terdiam melihat dirimu yang sedang tertidur sambil sesekali menebak-nebak apa yang tengah kamu impikan dari raut wajahku.
Rembulan barangkali tergelak saja, melihat kekuyuan hati seseorang (diriku) yang tengah merasakan pahitnya sebuah perasaan.

Haah...

Malam ini kusibukkan diriku dengan mengulang segala kejadian yang pernah kita lalui bersama. Setiap detik yang kuingat, selalu tersematkan rasa rindu yang begitu menggebu pada memori tersebut, dan tentu pada dirimu.
Hai Sang Rembulan, bersediakah kau mengantarkan salam kasih dan rindu ini padanya di sana?

"Kalau memang sebuah perpisahan adalah awal dari sebuah pertemuan, aku sangat menantikan pertemuan itu. Iya, sebuah pertemuan (lagi) dengan (hanya satu) kamu."

Seperti yang kau lihat, aku sendiri di sini berselimutkan hembusan dinginnya malam. Adakah Sang Rembulan bersedia menemani hati yang sepi ini--menggantikanmu--hingga fajar menggantikannya?

Monday, July 14, 2014

A Thing You Don't Know

Hi there!
Hello the angel from my nightmare..

You know what...
My heart is longing for your presence
My eyes want to see your smile
My hand needs to feel your touch
My shoulder is looking for your warmth

I'm sorry I constantly want to talk to you.
I'm sorry if I force you to talk to me as much as I want even though you don't want to.
I'm sorry if I come off so annoying.
I'm sorry if I think of you too much and too often.

I'm sorry...

Where are you? I cannot sleep tonight, also cannot dream.
I've tried to close my eyes but I just saw your shadow in the middle of the darkness.
And when I opened my eyes, I just found myself was crying over you.

I'm sorry if I came off as being so clingy.
But its just me missing you.

Friday, June 27, 2014

Secangkir Kekecewaan

Secangkir kopi panas menemani diri ini sambil menunggu datangnya senja menggantikan siang. Aromanya yang semerbak sangat menggoda bak menari terbawa alunan angin yang lembut menyejukkan. Sedari tadi, kusibukkan diri membaca sebuah novel tua yang sebenarnya telah kubaca berkali-kali. Bukan berarti ku suka dengan ceritanya, hanya saja aku tidak tau lagi aku harus membaca apa untuk melupakan rasa yang tengah memenuhi hati. Rasa sakit akibat hati yang teriris oleh kekecewaan.

Kecewa? Ah, sudah bukan hal asing untukku. Ku yakin, kau juga pasti tak jarang merasakannya kan? Jujur, kalau kamu tanya apa sebenarnya arti kata kecewa itu, aku bingung menjawabnya. Yang aku tau, ketika suatu hal tidak berjalan sesuai dengan keinginan hati, aku langsung kecewa. Samakah persepsi kita tentang kecewa? Atau mungkin, ternyata sekarang kamu juga sedang merasakan kekecewaan juga?

Bicara tentang hati, bukan aku ahlinya dalam mengungkapkan isi hati.  Berlisan berperasa manis saja aku sulit apalagi untuk berucap kecewa. Seperti kopi yang kuminum sore hari ini, kental seperti pekatnya hati dengan rasa kecewa, tak terlalu pahit dan penuh ampas di bawahnya, seperti aku yang sulit berkata kecewa padamu namun penuh kalimat kegondokkan di dasar sanubari.

Baiklah...
Aku sadar tidak adil rasanya aku berharap kau tau isi hati ini tanpa aku mengatakannya. Tiada arti pula aku menuliskan kegundahanku di sini tanpa menyebutkan namamu. Tapi, masih bisakah aku berharap kau memahamiku? Bisa pulakah aku mengandalkanmu kembali sebagai tumpuanku? Atau... Masih bisakah kalimat "Kami membutuhkanmu" untuk menggetarkarkan hatimu?

Ah.... Tuhkan, aku kembali larut dalam pikiranku akan kamu dan kecewaku padamu.
Hah!
Secangkir minuman di depanku kini tak lagi berasa kopi, hanya ada kekecewaan membelenggu diri.
Ya, kini yang tertinggal hanya secangkir kekecewaan.

Thursday, June 19, 2014

Yes, I Know

All truths are easy to understand once they are discovered.

And I've found it so many.
One of them that an honest feelings will not fade away even when someone fall asleep.

Yea..
He is sleeping right now and his smile is my indubitable evidence.
Never get enough to look at him this way.
Never.

Friday, May 23, 2014

Aku Ada Karena Mereka

Gue kira gue adalah orang yang gabisa jatuh cinta kepada banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Gue kira gue termasuk orang yang sulit untuk menjatuhkan hati. 

Ternyata gue salah…


Alasan dari segala alasan yang gue punya sekarang untuk tetap semangat berlayar bersama di lautan ilmiah ialah mereka. Tujuh orang tercinta yang tak pernah lelah menemani di tiap waktu. Pyan Gina Gigih Goldy Eas Firda Indah. Terimakasih telah hadir dan tak henti memberikan semangat yang mungkin kalian pun ga sadar udah selalu membuat gue berhenti mengeluh. Kenyamanan dari segala kenyamanan yang kini gue punya adalah kalian. Terimakasih untuk selalu sedia setiap saat untuk membantu gue di segala kepentingan dan kesempatan.

Gue sayang kalian.
Dan yaa sesimpel itu......... 
gue ada karena kalian ada.



Saturday, May 3, 2014

Malam

Malam, aku ingin cerita.
Suatu cerita yang menjadi salah satu cerita terburuk yang pernah ku alami.
Cerita tentang kebodohan diri dan gegabahnya otak dalam berpikir.

Malam itu, entah apa yang memenuhi pikiran dan seluruh tubuh ini. Aku hanya merasakan panas dan tak nyaman dengan diri ini. Dada terasa sangat sesak dan otakku terus memenuhiku dengan pikiran-pikiran buruk tak karuan. Hati ini pun tak kalah menyusahkan. Ia tak henti-hentinya berteriak terus membantah apa yang pikiranku katakan.

Buruk. Buruk sekali. Seperti kalanya mimpi berhantu di siang hari. Semua kataku, semua tingkah dan perilakuku semalam itu buruk tak ada manisnya sama sekali. Entah setan mana yang mengisi diriku. Akupun masih tak menyangka apabila kuingat kembali apa saja yang telah ku lakukan. Semua kata hina yang keluar dari mulutku, Semua maki yang terkata oleh lidahku. Semua prasangka yang terlintas di pikiranku. Semuanya seperti aib yang tak hentinya membayangiku. Tercela.

Kau tau, malam? Manusia memang diciptakan dengan akal pikiran untuk menimbang hal yang baik dan buruk. Tapi janganlah kau lupakan hati yang selalu merasa manakah yang baik dan buruk buat dirimu. Jangan seperti aku kemarin malam, yang hampir saja lupa bahwa aku masih memiliki hati yang masih setia mendenyutkan kedamaian di dalam diri, mengalirkan setiap hal positif ke setiap sudut dalam diri. Hampir saja. Untungnya, dia belum keburu mati saat itu.

Malam, apakah kamu pernah merasakan suatu rasa yang segitu dalamnya hingga kau tak tau lagi dari manakah asal rasa tersebut? Rasa itu, perasaan itu yang kemarin malam membuatku gusar tak karuan. Gelisah apabila ku mencoba menghilangkannya. Semakin ku mencoba menjauh, semakin risau pula diri ini. Entahlah, aku tak tau apa nama rasa ini. Tapi yang ku tau, rasa ini yang menyelamatkanku dari jurang dalam penuh penyesalan. Rasa ini yang kembali mengingatkanku akan memori-memori indah yang memberikan kedamaian dan kenyamanan. Rasa ini yang meredamkan segala celaku.

Aku malu, malam. Kini, aku malu terhadap diriku sendiri dan memori itu. Diri ini pun sekarang masih tak dapat bertingkah selayaknya aku yang biasa, hanya karena untuk menutupi rasa malu. Huh, sudah hina, bertambah hina lagi yaa diri ini dengan gengsiku. Tapi, aku sangat bersyukur. Rasa itu, rasa yang senantiasa hadir di dalam hatiku, telah (kembali) melindungiku dan menyadarkanku. Bahwa memang dialah yang terpenting, bukan egoku.

Saturday, April 5, 2014

Dialog Malam Itu

April, 2014.

Pria: Halo Wanita, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berbincang

Wanita: Hai Pria! Baik kabarku di sini. Ku harap kabarmu di sana tak kalah baiknya denganku.

Pria: Iya, ragaku baik di sini. Mungkin lebih baik daripadamu dengan melihat segala kesibukanmu sekarang yang seakan tak punya waktu untuk memanjakan diri.

Wanita: Haha tak separah itu.

Pria: Tapi hatiku tidak.

Wanita: Ohya…

Pria: Tidakkah kau tanyakan penyebabnya padaku? Atau jangan-jangan kau sudah mengetahuinya

Wanita: Tiada hakku lagi mengetahui segala urusanmu.

Pria: Ini bukan hanya tentangku…

Wanita: ….

Pria: Ini tentang kita.

Wanita: Aku rasa sudah ku hapuskan kosakata ‘kita’ untuk aku dan kamu.

Pria: Jangan begitu. Segitu mudahnya kah kau melupakanku?

Wanita: Ah kau salah menilaiku. Tiada seujung kuku pun aku melupakan kamu. Aku masih ingat nama panjangmu, tanggal ulang tahunmu dan juga kesukaanmu.

Pria: Lalu kenapa kamu tinggalkanku?

Wanita: Adakah hal lain yang lebih penting yang bisa kita perbincangkan? Aku lelah, sesuai katamu, sedikit waktuku untuk bermanja diri.

Pria: Aku hanya belum bisa melupakan kamu dan kita wahai wanita.

Wanita: Sudah ku bilang sebelumnya, wahai pria. Tiada hakku lagi mengurus urusanmu. Aku sudah menghapus kata ‘kita’ antara aku dan kamu dalam kosakata hidupku. Aku kira kamu sudah melakukannya juga. Tolong, jangan persulit hidupku. Kau sendiri yang dahulu berkata bahwa kau bahagia melihatku kini bahagia dengannya. Jangan kau buat hatiku merasa bersalah denganmu. Ada hati lainnya yang butuh aku jaga. Bukan hatimu lagi. Mengertilah.

Pria: Sadarkah kamu dengan apa yang dahulu kita bangun bersama. Kita memulainya dari nol hingga saat itu. Aku tau tak sedikit salah yang ku perbuat padamu. Tapi kamu pasti mengetahui seberapa besar rasa yang aku simpan untukmu. Mengapa kau dengan mudah melepaskan ketika diri ini sudah semakin tak terpisahkan. Bisakah kau ingat 26 bulan kebersamaan kita saat itu yang penuh canda walau tak sedikit pula berhiaskan tangisan. Itu indah bukan? Sadarkah engkau?

Wanita: Wahai pria yang paling bijaksana, bukan maksudku untuk meninggalkanmu kala itu. Bukankah itu berawal dengan segala diam yang berujung kelelahan aku dan kamu bersama? Lalu, siapakah yang bersalah di sini? Kamu dan juga aku yang salah. Tapi bisa juga bukan aku ataupun kamu yang bersalah. Mungkin memang bukan nama akulah yang dituliskan untukmu. Begitupun dengan aku, mungkin bukan namamu yang dituliskan untuk bersamaku. Sudahlah, aku mohon. Jangan kau siksa dirimu sendiri dengan memikirkan hal-hal seperti ini. Umurmu tak muda lagi, wahai pria. Umur mapanmu siap menjemput wanita beruntung di luar sana untuk bahagia bersamamu. Seperti jiwaku di sini yang sudah diikatkan pada jiwa lainnya atas izin Yang Maha Kuasa. Perlu kau ketahui juga wahai pria, rasaku sekarang ini pada seseorang yang bersamaku sekarang sangat berbeda, bukan seperti rasa-rasa dengan yang sebelumnya. Aku yakin. Bahkan lebih yakin daripada bersamamu 26 bulan. Mengertilah.

Pria: Kau ucapkan itu kepadaku sudah lebih dari ratusan kali selama 8 bulan terakhir ini. Tak bosankah kau mengucapkan hal-hal yang terus menyakitiku? Aku hanya ingin sedikit saja kau menengok padaku bukan sebagai masa lalumu, tapi melihatku dengan kekinianku. Aku yang kini terus tumbuh walau dengan segala rasa sakit yang menyiksa. Aku yang kini terus berusaha berkembang mengacuhkan segala sesak di dada. Tapi kau ini sungguh keterlaluan. Bayangmu terus membayangiku. Tak bisakah kau berhenti menghalangiku? Diri ini terus merindukanmu.

Wanita: Salahmu sendiri yang terus menghadirkanku di setiap langkah hidupmu. Pernah kau bercermin dan melihat betapa kuatnya dirimu tanpa aku? Kau bisa berdiri dan berjalan dengan gagahnya sekarang meski tiadaku di sisimu. Sadarkah kamu? Sudahlah, jangan siksa dirimu lagi, wahai pria. Aku tak bisa berbuat atas kerinduanmu itu. Sungguh, itu bukan salahku. Hmm baiklah, aku akan minta maaf karena aku terus menghantuimu, kalau memang kau butuh salahku. Hanya kamu dan hatimu yang bisa mengembalikan semua menjadi baik-baik saja. Yakinlah, kamu bisa. Aku di sini tak dapat lagi menyebut namamu dalam doaku setiap setelah solat. Maafkan karena ada nama lain yang kini harus terus ku ucapkan demi masa depanku dengannya. Tapi aku di sini berharap, kau terus dijaga oleh-Nya di dalam penantianmu itu. Semoga pula kau dapat menyembuhkan segala sakit  yang kau rasa sekarang. Memintalah pada-Nya, karena hanya Ia yang Maha Mengetahui atas segala rahasia setiap ummat-Nya. Berhentilah meninggalkan solat, rajinlah kau kini menyebut nama-Nya dan membaca kitab-Nya, seperti pria yang bersamaku kini. Aku sangat mengaguminya. Perempuan akan sangat mengagumi pria seperti itu wahai pria.

Wanita: Assalamualaikum…

Pria: Sadarkah engkau berapa banyak goresan yang engkau hasilkan di dalam hatiku? Setiap kali kau lukai hati ini, semakin nyata juga semua bayangan kenangan kita. Aku tidak tau kenapa Ia mengujiku sejahat ini. Aku sungguh tersiksa di sini. Aku rindu setiap kali ku membuka mata di setiap pagi dan hanya namamu yang ku ingat tiap aku ingin menutup mata di malam hari. Tak pernahkah kau sadar seberapa sering namamu ku sebut dalam doaku? Meski sekarang kau tak lagi menolehkan wajahmu padaku, tapi aku di sini masih menantimu dengan rasa yang masih sama. Aku harap kau mengerti. Kalau memang Tuhan telah menyediakan wanita lainnya untukku, kenapa setiap hari rasa rindu ini semakin bertambah. Bantu aku untuk melupakanmu. Bantu aku, untuk bertemumu dan merasakan hangatnya dirimu (walau dengan dinginnya hatimu) terakhir kalinya. Temani aku untuk terakhir kali. Setelah itu, aku janji akan berusaha melupakanmu dan berhenti pasrah dengan segala sakit ini. Temani aku, menjadi pendamping kelulusan profesiku. Aku mohon.

Pria: Baiklah.

Pria: Walaikumsalam.


Wahai pria yang dahulu mengisi seluruh kehidupanku, bukan saatnya kini kau hadir kembali untuk mencoba mencuri apa yang kini telah dimiliki orang lain. Kau tau? Aku tak pernah berubah padamu. Aku masih adikmu, yang akan selalu hadir ketika kamu butuh teman curhat dan ceritamu. Mengertilah.

-K.

Tuesday, April 1, 2014

Ada

Ada pesan yang tak tersampaikan ketika mulut memilih tertutup dibandingkan untuk menguraikan.
Ada kata yang tak terucap saat lidah ini diam mengkakukan diri menghindar bericap.
Ada mata yang tergenang menahan segala rasa yang menyesakkan dada.
Ada diri yang tersudutkan karena tak dapat jujur pada hati sendiri.

Ada. Ada aku.
Selamat istirahat! Aku di sini, merindukanmu.

Monday, March 31, 2014

Tulisan Malam Hari

Wahai Tuan pengisi malam...

Tinggalkanlah sejenak setumpuk kertas di hadapanmu.
Lupakan dahulu segala urusan materimu
Cobalah engkau tengok bintang di ujung sana.
Sinarnya terang memancarkan kerinduannya padamu.
Berbincang denganmu walau sesaat, itulah yang ia inginkan.
Sapalah ia sejenak, Tuan. Kasihilah ia yang sedari tadi menatapmu penuh kasih.

Jangan lupa Tuan,  untuk menegur dinginnya malam dengan kehangatanmu.
Bertemanlah dengannya agar kau senantiasa selalu dilindungi.
Sampaikan salamku juga pada kesunyian malam yang tengah membantumu tak bergeming.
Walau mereka tak membalas semua sapamu, jangan khawatir Tuan.
Yakinku mereka tetap bersamamu dengan caranya mereka sendiri.
Seperti hatiku di sini, masih setia menemani jagamu, lelapmu, hingga bangunmu kembali.

Ahya, dan tentu Tuan, ada setianya doaku untukmu, agar engkau senantiasa dilindungi-Nya hingga mentari kembali terbit menyapamu.
Yaitu ketika engkau kembali menyambutku dengan kasih dan senyummu.

Tertanda,

Aku, Bintangmu.

Saturday, March 29, 2014

Sepenggal Kalimat.

Aku: Aku kangen... Ini sinyalnya ga ngerti banget ada orang kangen apa :(

Dia: Kalau lagi kangen, saling mendoakan biar sama Allah dijaga :)

Hatiku: Yes, of course honey. Doaku untukmu, semoga Allah terus dapat menjaga hati ini dan hatimu, cinta ini dan cintamu, dan juga hubungan aku dan kamu. Semoga Allah selalu melindungi kita berdua dan selalu mengiring kita ke jalan yang benar. Semoga Allah akan selalu memberikan yang terbaik untukku dan untukmu. Memperlancar segala urusan perbaikan diri. Aku sayang kamu and it's a bless to having you by my side. Kamu, yang ga hanya selalu mengingatkanku menjaga hati dan perilaku, tetapi juga menjaga hubungan dengan Sang Maha Pencipta. Terimakasih yaa Allah telah menghadirkannya di sisiku :)

Sabtu, 29 Maret 2014

Bolehkah Aku Mengetahuinya?

Wahai Sang Maha Melihat, Kau tau betapa sulitnya ku kembali ke dalam rumah ini. Kunci tunggal yang Kau ciptakan, harus susah payah ku menemukannya sebelum ku dapat membuka pintu ini. Kaki lemah ini sudah Kau paksakan melangkah di halaman rumah yang bebatuan panas terpapar sinar matahari. Badan ini sudah Kau perintahkan untuk berpeluh keringat. Hati yang rapuh ini bahkan sudah Kau uji untuk patah di awal pencarian.

Wahai Sang Maha Mendengar. Doa dan inginku tak bosan-bosan ku ucapkan pada-Mu. Satu dua kalimatku pun mulai Kau dengar dan wujudkan. Tapi tak sedikit pula kata yang Kau acuhkan.

Wahai Sang Maha Mengetahui. Aku tahu Kau telah mempersiapkan hal yang baik dan indah untuk segala perjuanganku yang cukup berat di awal ini. Kau pun telah menjanjikan bahwa tak ada usaha manusia-Mu di dunia ini yang sia-sia. Tapi, bolehkah aku sedikit mengintip apa yang telah Kau tuliskan untukku? Bolehkah aku mengetahuinya? Aku hanya penasaran. Apakah perjuanganku sudah cukup pantas mendapatkan janji-Mu itu? Atau ini hanya sekadar kesombonganku atas segala nikmat-Mu?